Saya Mengatakan Banyak Hal ketika Tidak Ingin Mengatakan Apapun
Siang tadi, saya curhat dengan seorang teman yang berhasil memacari kakak tingkat di kampus. Bedanya, jika kisahnya mungkin menyenangkan dan memberikan efek kejut kepada beberapa teman, saya tidak. Kisah saya kandas lagi. Ya, nasib saya tidak pernah bagus dalam urusan cinta. Kisah-kisah kedekatan saya dengan perempuan seolah sudah digariskan di langit, di tulis dalam banyak legenda, tapi menggunakan nama lain, melawan musuh-musuh lain. Saya tidak akan mengatakan bahwa korona adalah musuh, tapi pandemi ini memang salah satu faktornya.
Kami mulai dekat kembali di masa liburan semester lalu. Saya pulang dan bertemu dengannya dalam suatu kesempatan, lalu ketika saya harus kembali ke malang, hubungan kami dilanjutkan melalui komunikasi jarak jauh. Satu bulan dua bulan, hubungan kami biasa: kami mengobrol dengan senang hati, saling menelpon dengan suara bahagia, dan berkirim hadiah kecil-kecilan. Tidak banyak yang istimewa, karena saya bukan tipe laki-laki yang mencari keistimewaan. Dan tampaknya itu adalah masalah.
Januari, Februari, Maret. Korona dikabarkan masuk ke Indonesia awal Maret, kampus diliburkan dan saya pulang, meninggalkan pondok lebih dahulu daripada teman-teman yang lain. Ketika dia tahu saya pulang, ia meminta bertemu. Dia memang tinggal di Surabaya, berkuliah di sana. Namun, himbauan untuk karantina mandiri dan tidak berpergian menghalangi pertemuan kami. Lagipula, saya tidak berniat untuk bertemu. Lebih bahaya, kata saya. Namun ia menolak. Kami bertengkar di telepon. Perdebatan panjang itu berakhir dengan nomor WA yang diblok.
Saya kira pemblokiran itu tidak akan lama. Nyatanya, terus berlanjut hingga saat ini. Saya menghubungi teman-temannya, tetapi malah diceramahi bukannya dihubungkan dengannya. Hingga saat ini, ketika saya benar-benar putus asa, saya masih belum bisa menghubunginya. Saya bertanya dengan teman, dan dia mengatakan bahwa ini saatnya mundur. Ah, saya lupa apa yang benar-benar dikatakannya, tapi mungkin seperti itu.
Sebentar lagi UAS. Saya pengin fokus tapi tidak bisa. Mungkin saya emang harus sadar, berhenti mengejar orang lain, dan fokus akademik. Hubungan saya yang terus berlanjut adalah dengan dunia tulis-menulis, bahkan ketika saya memutuskan untuk berhenti menulis, saya tidak bisa melakukannya. Ini adalah tulisan kosong pertama saya setelah sekian lama. Saya tidak ingin orang-orang prihatin dengan saya, merasa iba, atau semacamnya. Tapi ini nyata, saya tidak ingin mengalaminya kembali.
Biarkan saya berada dalam alam mimpi, memimpikanmu yang terlalu jauh, dan pergi begitu saja.

Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?