Reruntuhan Kapitalisme
Studi ini bermula sejak selesainya Perang Dunia Kedua, di mana orang-orang Siprus-Yunani pergi dari pulaunya dan bermigrasi, lalu pemukiman mereka diambil alih oleh orang-orang Siprus-Turki. Fenomena itu menarik perhatian Yael Navaro-Yashin, di mana kemudian ia melihat perspektif yang sama dengan yang dilakukan Gaston Gardillo di Privinsi Chaco, Argentina: rubble, atau reruntuhan, sisa-sisa pembangunan dan kapitalisme yang gagal lalu terabaikan. Ketika masyarakat Siprus-Turki mengambil-alih pemukiman itu, ada pembangunan yang dilakukan ulang, reproduksi kebudayaan dalam dimensi yang berbeda. Tujuan reproduksi itu berkisar pada dua hal, namun berkembang: menjadi tepi yang melawan kapitalisme, lalu menjadi pusat kapitalisme baru. Modernisasi mencoba untuk dibangun di setiap waktu. Dan sejarahnya menjadi bekas bertumpuk semacam palimpsest yang ditulis berulang-ulang, lalu dihapus.
Navaro-Yashin, dalam artikelnya, kemudian mengusulkan konsep "rhizome" (rimpang dalam bahasa Indonesia) alih-alih "Root" atau akar untuk menjelaskan peradaban. Ketika akar menjelaskan peradaban sebagai suatu bentuk kehidupan yang sejarahnya menancap ke dalam tanah, lalu berdaun kedamaian dan berbuah kesejahteraan, rimpang berakar lebih luas: ia tidak berakar terlalu dalam, tetapi melebar ke segala arah. Peradaban itulah yang disebut kapitalisme, di mana ia selalu mencari sumber daya yang sesuai dengan permintaan, lalu akan meninggalkan lokasi (sebagian atau sepenuhnya) untuk kemudian mendirikan pusat kapital baru. Proses itu bertumpuk, menyebar, dan tumpang tindih, serupa rimpang. Di sisi lain, Gordillo menyebutnya multiplicity history.
Lalu, apa arti dari affective spaces, melancholic objects dalam artikel Navaro-Yashin? Ia mencoba untuk menjelaskan relasi antara penduduk yang mereproduksi kebudayaan: reruntuhan itu melewati berbagai masa dan keadaan, membawa sejarah dalam setiap objeknya, dan memiliki memori yang ditafsirkan oleh penduduk. Penduduk, di sisi lain, sebagai pihak yang memproduksi ulang sejarah tidak menonjolkan keberadaan dirinya, lalu lebih banyak merepresentasikan keberadaan objek. Teori Bruno Latour tentang actor-network berlaku: objek non-manusia juga memiliki agensi untuk mempengaruhi kebudayaan.
Siapa saja filosof yang mempengaruhi teori runination and rubble? Dua tokoh dari The Frankfurt School turut bersumbangsih, antara lain Theodor W. Adorno dan Walter Benjamin. Selain itu, ada Gilles Deleuze dengan konsep plateau (daratan) yang juga mengilhami konsep rimpang, Martin Heidegger dengan afterlife-nya, serta Alain Badiou dengan the void. Dari kedua literatur ini, saya membaca bagaimana sejarah dibaca: ia dipimpin oleh pergerakan modal yang besar, dengan impian-impian besar, lalu bertransformasi menjadi kehancuran. Hal itu terus berulang di tangan manusia dan tak pernah habis. Pada akhirnya, saya akan mengajukan satu pertanyaan: apakah manusia juga yang menciptakan kehancuran itu, karena tidak pernah belajar dari peradaban kapitalisme sebelumnya? Ataukah lingkungan juga memiliki agensi yang menghancurkan peradaban?


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?