Perempuan dalam Pusaran Pariwisata Kosta Rika


Pada 2011, Beyonce merilis sebuah lagu yang secara eksplisit menonjolkan peran perempuan dalam kehidupan: Who run this world? Girl! Jawaban itu diteriakkan, untuk membungkam mulut dan pikiran pria yang selalu berpikir bahwa laki-lakilah yang menguasai dunia. Dalam pariwisata, perempuan yang bekerja. Darcie Vandegrift menyajikan fakta bahwa perempuan lebih banyak berperan dalam pengembangan pariwisata di Kosta Rika. Globalisasi membawa kita pada kehidupan internasional, saling berhubung secara bertumpuk, antara dibatasi dengan garis teritorial maupun garis kesukuan. Namun, apa yang tidak bisa dibatasi adalah gender: pembagian peran berdasarkan jenis kelamin.

Di Kosta Rika, Puerto Viejo tepatnya, Vandegrift mencatat ada tiga etnis yang bekerja dalam bidang pariwisata: imigran kulit putih dari negara maju (seperti Amerika dan Eropa), imigran Nikaragua, dan penduduk asli Afro-Kosta Rika. Setiap etnis pekerja memiliki sisi menguntungkan dan merugikannya masing-masing -sebagaimana telah dipaparkan dalam artikel- namun tetap perlu dipikirkan kembali. Pekerja kulit putih misalnya: mereka datang dengan visa turis, datang dengan tujuan berlibur dari kehidupan negara maju yang melelahkan dan ingin merasakan surga, namun malah terjebak dengan tawaran pekerjaan di bidang pariwisata. Kemampuan berbahasa Inggris dan daya tarik kecantikan membawa mereka pada kesempatan untuk bekerja di garis depan: bertemu secara langsung dengan wisatawan dan dibayar lebih mahal. Namun, kerugian itu muncul manakala mereka harus jatuh cinta pada penduduk lokal dan menjadi ibu: stabilitas keluarga yang tak pasti, kualitas tempat tinggal yang berbeda dengan tempat asal, dan -yang paling menyulitkan- tidak adanya dukungan untuk merawat anak. Mereka harus berbagi waktu dengan pekerjaan, dan hal itu semakin menyulitkan.

Nasib berbeda dialami imigran Nikaragua yang kabur dari kekacauan politik dan kemiskinan, lalu bekerja dalam dunia pariwisata hanya dengan jaminan stabilitas keamanan dan upah yang dibayar. Namun, diskriminasi ras dengan alasan kecantikan membuat mereka tersisihkan di belakang: kerja mereka di balik layar, menjadi koki atau tukang cuci piring, tidak diizinkan untuk melayani tamu secara langsung. Meski begitu, mereka juag harus bersaing dengan penduduk asli Afro-Kosta Rika, yang pernah menjalani fluktuasi ekonomi, mengalami pasang-surut kesejahteraan, sebelum akhirnya menjual tanah untuk investor pariwisata.

Penduduk asli lebih beruntung: setengah populasi adalah pemilik bisnis pariwisata sehingga tidak ada diskriminasi yang cukup besar. Namun, tetap saja mereka memiliki keseulitan, sebagaimana pekerja imigran kulit putih, dalam membesarkan anak. Untuk itu, dengan waktu luang yang ada, mereka masih sempat membuka restoran, menjual makanan khas penduduk yang dicari wisatawan. Pada akhirnya, pariwisata di Kosta Rika memberikan gambaran besar bagaimana perempuan berjuang menyetarakan kelompoknya, melalui perbedaan etnis yang cukup mencolok. Menariknya, tidak ada perbedaan yang cukup besar antara imigran atau penduduk lokal, karena sudah tertutup dengan fenomena imigran kulit putih yang bekerja dan dibayar lebih baik. 

Nyatanya, kemunculan imigran kulit putih yang mulanya datang sebagai turis lalu bekerja menjadi host lebih menarik perhatian: ini serupa dengan orang-orang yang memproduksi komoditas sekaligus mengkonsumsinya. Apakah imigran kulit putih -yang tidak menetap lama kecuali menikah dan menjadi ibu- itu menikmati sisi wisata yang mereka niatkan di awal? Nyatanya tidak. Untuk itulah mereka menjawab, "This isn't paradise - I work here!"

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir