Melihat Masyarakat Afrika Selatan Bertahan Melawan Supermarket


Manusia adalah makhluk yang cerdik. Anugerah kognisi yang dimilikinya setelah melalui fase evolusi panjang membuatnya dapat bertahan hidup, melewati masa-masa sulit perburuan, menciptakan pertanian dan agrikultur, lalu membangun pabrik di masa industri, lalu menemukan internet. Manusia bertahan melawan kerasnya alam, dan sistem rusak yang dibangunnya sendiri. Artikel ini, menunjukkan salah satu kekuatan dan kecerdikan manusia dalam melawan sistem.

Berawal dari perkembangan pasar swalayan yang cukup masif pada dekade 1980-an, seluruh dunia dihadapkan pada suatu sistem pasar modern, di mana mereka dapat melayani diri sendiri, dengan produk-produk pertanian yang homogen: berkualitas serupa. Pasar rakyat yang menampung banyak masyarakat dalam jual-beli hasil pertanian merasa ternacam. Di berbagai tempat dan kebudayaan, swalayan menang di berbagai sisi: tempat yang lebih besar, kebersihan yang lebih baik, produk yang lebih teratur, dan audit keuangan yang lebih rapi. Hal itu menuntun ekspansi pasar swalayan lebih mudah daripada pedagang-pedagang kecil. Kebijakan atas izin usaha dipermudah dan modal lebih banyak masuk.

Namun, di Afrika Selatan, pasar swalayan tidak benar-benar memonopoli pasar. Hal itu ditandai dengan munculnya dua perusahaan besar milik lokal, Ndumu Group dan Spar Supermarket Group. Keduanya memiliki pola yang serupa: mengambil alih atau akuisisi pasar besar yang sudah tekenal, lalu menjadikannya waralaba. Pemerintah, di sisi lain, mencabut banyak pelarangan izin usaha, yang kemudian memunculkan spaza: semacam toko kelontong di Indonesia. Masyarakat Afsel akhirnya memiliki berbagai opsi untuk mendapatkan sumber pangan dan produk lain.

Di sisi pembeli, masyarakat Afsel masih belum dapat mencapai produk pangan yang harganya mahal. Oleh karena itulah, pemerintah menerbitkan tunjangan bulanan untuk perempuan yang bekerja di rumah, berupa uang tunai yang dibayarkan secara berkala, antara dua minggu awal bulan atau dua minggu selanjutnya. Namun, meskipun mendapat tunjangan bulanan untuk bantuan pangan, pasokan itu dapat habis sebelum tengah bulan. Di sinilah masyarakat memiliki strategi dalam pengadaan makanan: mereka mengadakan stokvel (arisan) yang dibayar secara bergiliran, ukunana yang memberikan kesempatan antara dua keluarga atau lebih untuk bergantian dan bekerjasama dalam menyiapkan pasokan, dan ukukweleta yaitu kredit berbunga rendah dalam pembelian di spaza. 

Secara pribadi, saya melihat adanya bentuk gotong royong, solidaritas ekonomi dalam lingkup paling kecil, yaitu keluarga. Secara keseluruhan, artikel ini menunjukkan bagaimana pasar swalayan tidak menyingkirkan pedagan-pedagang kecil, namun bekerjasama dan berkolaborasi antar-mereka. Masyarakat juga memiliki strategi dalam pengadaan makanan, menghadapi harga pangan yang melambung dan tak tentu. Kedua ide ditulis dengan baik, namun sempat bertele-tele dalam ekspansi pasar swalayan di pedesaan Afrika Selatan.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir