Dark Waters (2019) tentang hitamnya air yang tak bisa kita ubah lagi


Ketika selesai menonton ini, saya langsung teringat dengan akting Nicholas Cage dan Jared Leto dalam film Lord of War (2005), yang berkisah tentang kakak adik penjual sejata ilegal di berbagai perang di seluruh dunia. Nasib yang tidak begitu baik menyelimuti kisah keduanya, bahkan hingga akhir film dan tamat. Namun, fakta mengejutkan dan tak bisa dihindari menyapa pemirsa di akhir: negara-negara besar menjual senjata secara legal untuk mendukung perang-perang yang sama. Hal itu tentu saja mengejutkan, memberi keyakinan lain bahwa menjadi dewasa dan tahu hal-hal menjijikan adalah yang terburuk. Fakta-fakta itu membuat kita selalu mengenang masa kecil, di mana kita tak tahu apa-apa dan hidup bahagia.

Namun, fenomena itu pantas dihadapi dan hidup kita harus diperjuangkan. Begitulah yang disampaikan Mark Ruffalo ketika memerankan pengacara lingkungan handal Robert Bilott dalam Dark Waters. Suatu hari, ketika ia sedang rapat bersama kolega-kolega dari DuPont, perusahaan minyak dan peralatan rumah tangga terkenal di Amerika, ia kedatangan tetangga jauh, yang tidak begitu dikenalnya, namun kenal dengan neneknya. Ia pun menemuinya, dan menelusuri adanya kejahatan besar yang dilakukan DuPont melalui praktik indutrinya di kampung halamannya, Parkersburg, West Virginia. Maka, dengan semangat keadilan yang tertanam dalam jiwa pengacaranya, ia mengorbankan banyak hal untuk membantu masyarakat mengungkap kasus tersebut.

Sebagaimana aktivis lingkungan pada umumnya, aksinya dalam mendapat hak-hak publik justru mendapat tentangan dari publik itu sendiri. Ia mencoba mengumpulkan sampel darah ribuan orang, tapi harus mendapat cemoohan dan kritik. Ketika DuPont terancam dan memberhentikan banyak orang dari pekerjaan mereka, Robert dipandang sebelah mata dan diteror di sepanjang jalan. Beberapa kolega yang turut berjuang bersamanya juga tidak tertinggal. Mereka ditemui di tempat umum, diceritakan masalah atau penyakit yang mereka derita. Pada akhirnya, Robert jatuh sakit tetapi ia masih dapat bertahan.

Kabar baik baru ia dapatkan setelah tujuh tahun, dari awal milenium hingga 2015. Ilmuwan yang meneliti sampel ribuan darah menyatakan denga tegas bahwa produk DuPont, termasuk yang paling terkenal "teflon" berbahaya bagi tubuh dan mengancam keselamatan jiwa. Sayangnya, produk ini sudah tersebar ke seluruh dunia, tercemar ke berbagai sumber air, dan dikonsumsi oleh seluruh spesies manusai di bumi. Lalu, apa yang dapat kita lakukan? 

Tak ada. 

Robert Bilott masih menyelesaikan kasus DuPont hingga 2019 dan mengklaim jutaan dolar amerika ganti rugi untuk komunitasnya. Kisahnya sendiri ditulis dalam sebuah buku, berjudul Exposure: Poisoned Water, Corporate Greed, and One Lawyer's Twenty-Year Battle Against DuPont. Dark Waters sendiri adalah versi filmnya, memberikan kita kisah panjang perjuangan seorang dirinya melawan perusahaan besar yang menguasai pemerintahan. Dark Waters tak seintens alur The Spotlight (2015) ketika Ruffalo memerankan Michael Rezendes sebagai salah satu jurnalis yang menguak kasus pelecehan seksual di gereja katolik roma seluruh dunia. Salah satu alasan ketiadaan intensitas itu, adalag fakta bahwa kasus DuPont ini dikerjakan selama 12 tahun, sehingga fokus film pun tidak menuju kasusnya, melainkan pada perjuangan pribadi Robert Bilott: ia harus sering di kantor, pulang malam ke rumah, dan mendapati banyak kesulitan di lapangan. 

Secara keseluruhan, Dark Waters adalah film yang bagus. Ia menyeimbangkan sisi pribadi Bilott dan juga kasusnya. Yang menarik, adalah partisipasi beberapa tokoh nyata, termasuk anak mantan pegawai DuPont yang terpapar FSOA sehingga harus lahir secara cacat. Hal ini membuktikan bahwa produk budaya yang membela kemanusiaan dan keadilan tidak akan kehilangan peminat. Ia akan didukung sepenuhnya, termasuk bagaimana mereka bergerak mengilhami gerakan kontra-kapitalisme global.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir