Coffee Shop Baru dan Kisah Kematian yang Selalu Kita Ulang
"Kamu ke mana hari ini? Orang-orang menanyakanmu. Kedekatan kita diragukan. Sesibuk apa kamu hingga menghilang sangat lama?"
Suara itu berhenti. Nyala biru tetap berjalan. Mungkin ia sedang menarik napas. Kemudian tetap melanjutkan tanya.
"Sakit? Kenapa gak bilang? Mar. Jawab ya. Balaslah sapaan teman-teman kita hari ini. Kau sudah cukup pergi lama."
Jadi, aku pergi sangat lama atau cukup lama?
"Sangat lama. Maaf. Bagi mereka, kau segalanya. Ketika kau tidak tampak dalam sehari saja, mereka mencarimu, menanyaiku. Aku harus jawab apa?"
Jawab saja aku berhenti mengharapkanmu.
"Kau boleh berhenti, Mar. Tapi, setidaknya, jujurlah pada mereka. Di mata mereka, kita adalah kebersamaan, lambang Yin dan Yang, filosofi hidup tentang kebaikan dan keburukan menyatu dari lahir hingga mati."
LALU KENAPA TIDAK KAU SAJA YANG MENGATAKANNYA???
"Aku butuh kamu, Mar. Setidaknya, untuk satu hari saja. Setidaknya, untuk harapan yang kau perjuangkan sangat lama itu."
Terimakasih. Aku selesai.
*****
kesedihanku? kau bertanya tentang kesedihanku? tidak. aku tidak sedih tentang apapun. tak ada satu pun hal di dunia ini yang membuatku sedih. bahkan kematianmu. mungkin aku akan sedikit menangis. tapi itu bukan tangisan kesedihan. itu adalah reaksi yang wajar dari seorang lelaki. lagipula, untuk apa menangisimu? bahkan ketika aku di sisimu, kau tak menganggapku. benar-benar.
dan langit malam penuh doa meratap: apakah itu wajar? aku tak yakin. setiap malam adalah janji. setiap diri adalah nabi. setiap nyawa adalah kelainan yang kemarin. lalu wanita itu datang. Semula tak ada yang berubah. lalu, benar-benar tak ada yang berubah.
kau boleh berharap apa saja, selain menjadi tuhan atas kehidupanmu sendiri.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?