Vivarium (2020): Realitas Kehidupan yang Menyisakan Pertanyaan


Bayangkan Anda tiba-tiba ikut dalam suatu reality show, yang hostnya pergi entah ke mana, sedangkan panggung maupun studio sama sekali tidak ada kru, atau satu orang pun. Petugas kebersihan? Tidak ada. Office boy yang menyiapkan secangkir kopi untuk bos tertinggi? Tidak ada. Maka, apa yang Anda lakukan? Anda akan berusaha untuk keluar dari gedung itu. Turun dari lantai ke sekian hingga lantai basement tempat Anda memarkirkan kendaraan. Namun, lift itu tidak berhenti. Ia turun menuju lobangtak berdasar. Ketika Anda memencet tombol darurat, lift itu segera berhenti. Namun, yang Anda temukan bukanlah lantai dasar, lantai pertama, atau besement. Anda sudah sangat yakin merasakan lift yang turun, namun Anda kembali ke ruangan studio, lengkap dengan panggung dan segala peralatannya. Namun, lagi-lagi tak ada orang. Anda pun memutuskan untuk lewat tangga darurat, tapi ketika pintunya terbuka, apa yang Anda temukan sama saja. Di atas, ada langit tanpa dasar. Di bawah, ada lobang yang semakin dalam. Sejauh apa pun Anda berlari, Anda akan selalu menemukan ruangan studio itu.

Tidak. Lebih tepatnya, ruangan studio itulah yang menemukan Anda.

Perasaan yang sama dialami oleh Gemma (Imagen Potts) dan Tom (Jesse Eisenberg), dua sejoli yang sedang merencanakan kehidupan rumah tangga yang nyaman, dan memulainya dengan mencari sebuah rumah. Takdir membawa mereka pada suatu perusahaan penjual properti bernama Yonder, dengan seorang lelaki berumur tiga-puluhan sebagai salesnya, Martin (Jonathan Aris). Sejak awal, tiap penonton akan sadar bahwa sosok itu begitu aneh. Ia berbicara layaknya komputer, dengan kata-kata yang terukur dan seolah sudah lama terapal di dalam otaknya. Gemma dan Tom menyadari itu. Mereka menyebut Martin sebagai, "aneh, tapi persuasif."

Martin pun membawa mereka menuju Yonder, kompleks perumahan yang disebut, "tidak jauh, tidak pula dekat. Jaraknya begitu pas." Semua rumah berwarna hijau, dengan tambahan warna yang serupa. Warna yang berbeda dihadirkan oleh jalanan utama, trotoar, dan langit membiru. Martin memperkenalkan pasangan itu pada rumah nomor sembilan, lalu mengajak mereka berkeliling. Di saat mereka sampai pada halaman belakang, Martin menghilang. Konflik dimulai dari sana, sebagaimana yang saya tirukan di paragraf awal. Anda menjadi Gemma dan Tom, rumah nomor sembilan adalah ruangan studio, dan gedung itu adalah Yonder.

Ah, bukan. Gedung itu adalah Vivarium.

Vivarium

Kini, saya punya web baru selain google translate untuk mencari arti sebuah kata: kamus Merriam-Webster yang tersedia versi web. Dan terma vivarium, dalam kamus itu berarti terrarium used for special animals. But wait, you really say that is 'terra'? Yang artinya adalah bumi? Dan manusia adalah apa kalau bukan hewan? Lorgan Finnegan, sang sutradara, membawa filosofi kehidupan manusia yang sangat kompleks dalam suatu bentuk berjudul Vivarium.

Manusia, dalam segala bentuknya, diwakili oleh Germa dan Tom, yang berusaha mencari jalan keluar untuk segalanya namun malah menemukan satu-satunya tempat yang mereka benci. Bahkan ketika tempat itu mereka bakar. Ia akan kembali seperti semula, memperbaiki diri dalam semalam. Mereka dikaruniai bayi yang mereka benci, yang kemudian menirukan segala tindak-tanduk keduanya sembari tumbuh dengan amat cepat.

Bayi itu berteriak ketika lapar, memberontak ketika segala keadaan tidak sesuai dengan kemauan. Meskipun Gemma dengan setengah hati membesarkan bayi itu, tidak dengan Tom. Ia hanya baik hati di meja makan, namun akan kembali murung dan bekerja keras menggali lubang untuk kuburannya sendiri. Mereka sempat bersenang-senang sejenak, untuk melupakan kesibukan. Namun, bayi yang mereka asuh mengembalikan mereka pada kesadaran. Pada beberapa titik, semua itu akan sangat mirip dengan kehidupan. Namun, realitas yang berlebihan membuat saya membenci film ini.

Pertanyaan

Saya tidak mau memberikan bintang kepada film ini, mengingat saya tidak terlalu menikmatinya meskipun di beberapa sisi, sangat filosofis. Aktingnya sangat bagus, baik tokoh utama maupun pembantu. Yang muncul kemudian bukanlah penilaian, namun pertanyaan: mengapa hanya Gemma dan Tom? Mengapa mereka tidak pindah ke rumah sebelah, yang belum dijamah dan tampaknya tidak ada penghuninya sama sekali? Mengapa mereka tidak memutar otak untuk bertahan hidup dan menemukan penjelasan-penjelasan yang logis akan kehidupan?

Sayangnya itulah manusia. Itulah diri kita. Jebakan itu tidak dimulai dari pernikahan atau romansa antara dua manusia dalam pasangan cinta. Hal itu dimulai sejak kita membatasi diri dari pilihan-pilihan lain yang mungkin tak terbayangkan. Hal itu dimulai sejak kita sibuk mengerjakan hal yang sia-sia dan tidak bisa dinikmati sama sekali, lalu harus terjebak sepanjang malam di dalamnya. Awalnya kita memohon pada seseorang di atas sana, yang kita anggap memiliki kuasa untuk mengeluarkan kita dari jebakan kehidupan. Tapi tidak. Kita memang ditakdirkan berada di sini dan menikmatinya. Lalu, manakala segala hal berubah menjadi buruk, kita mengumpat, bersumpah, dan mengatakan hal-hal buruk melalui pesan yang kita kirim. Di akhir, kita memohon lagi, tidak langsung kepada-Nya, melainkan melalui anak-anak kita yang ternyata adalah hamba-Nya, untuk mengeluarkan mereka dari kehidupan. Tidak. Kita tidak ingin keluar dari kehidupan. Kita hanya ingin keluar dari segala kesengsaraan.

Sayangnya, latar belakang Gemma dan Tom yang sudah dilampirkan tidak bisa diperbaiki. Andai saja, kita tidak mengetahui latar belakang keduanya, bagaimana mereka hidup sebelum berada dalam Vivarium, kita mungkin akan maklum. Sebagaimana pemahaman saya yang sama ketika menonton mother! (2017). Vivarium berusaha menunjukkan realitas kehidupan, yang kemudian dibumbuhi secara berlebihan hanya dengan garam, tanpa bawang atau rempah lain. Lalu, ketika garam itu terasa manis, tidak lagi asin, kita bertanya-tanya: bagaimana bisa?

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir