Pluralisme Medis: Ketika Sistem Pengobatan Tidak Cuma Satu Jenis
Membaca Medical Pluralism yang ditulis oleh Hans A. Baer adalah sebuah pengalaman yang menyedihkan. Ia membuktikan kepada kita bahwasanya masih ada diskriminasi dalam sistem medis dunia, tak hanya dalam ekonomi, sosial, politik, atau kebudayaan. Apalagi, sistem medis ini adalah salah satu hal yang penting dalam hidup: ia memberikan jaminan keberlangsungan hidup, memberikan kententraman jikalau datang hal-hal yang tidak diinginkan. Dan diskriminasi ini, dimulai dari dominasi biomedis.
Sebagai bidang yang mempelajari penyakit manusia baik dari fisik maupun psikologis, ia dianggap mampu dan mumpuni dalam menyembuhkan penyakit, memberikan vonis yang tepat dan akhirnya diunggulkan di berbagai tempat. Ia menyingkirkan berbagai sistem pengobatan lain yang sebelumnya sudah ada, dipraktikkan secara turun-temurun, dan mendukung penelitian medis modern. Namun, kemunculannya yang dipelopori oleh elit membuatnya berjarak: ia meminggirkan masyarakat kecil, memarjinalkan praktik pengobatan lain, lalu membuatnya tidak tersentuh secara finansial. Hal itu dibuktikan dengan praktik-praktik pengobatan lain yang lebih dicari oleh masyarakat bawah bukan karena keampuhan atau efektivitas-nya dalam penyembuhan, melainkan karena status, etnis, ras, dan gender.
Maka, Charlie Leslie memulai studi untuk memetakan bagaimana sistem medis adalah sistem yang plural. Faktanya, sistem medis memang bukan suatu sistem yang hanya dihuni oleh "dokter". Ia juga didukung oleh bidan, apoteker atau ahli farmasi, manajemen rumah sakit, dan masih banyak yang lainnya. Oleh karena itulah, patut dipertanyakan kembali mengapa biomedis begitu berkuasa, memonopoli sistem pengobatan di berbagai negara maju, seperti AS, Inggris, Prancis, Rusia yang sosialis, dan mayoritas negara eropa. Dan sebagimana etnosentrisme berkembang di awal-awal munculnya antropologi, sistem medis yang lebih tradisional, natural, dan sederhana masih didominasi oleh masyarakat Asia atau negara-negara Dunia Ketiga. Ia berkembang di tengah-tengah masyarakat, tidak terlalu tinggi namun membumi, sehingga dipraktikkan secara masif.
Murid-murid Leslie melanjutkan perkembangan itu: mereka menemukan bentuk-bentuk pengobatan, mengusulkan istilah-istilah baru untuk mengidentifikasi bagaimana relasi antara masyarakat dan sistem pengobatan. Dalam artikel Baer, ia menyebut tiga penelitian karya murid Leslie, antara lain Chrisman dan Kleinman yang datang ke Taiwan pada 1987, Emiko Ohnuki-Tierney (Jepang, 1984) dan Horacio Fabrega (1997). Ketiganya menyajikan paradigma lain dalam pengobatan, memperlihatkan bahwa masyarakat juga masih percaya pada praktik-praktik lain, tidak serta merta datang ke rumah sakit dan mendapatkan resep obat. Dan nyatanya, hal itu menyembuhkan.
Pastinya, dengan keberadaan sistem medis selain biomedis, masyarakat masih dapat bertahan hidup sesuai dengan kemampuannya, tidak harus terhalang kelas, etnis, ras, dan diskriminasi golongan lain. Dan dominasi serta monopoli, dalam berbagai aspek kehidupan, adalah hal negatif yang perlu dihindari.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?