Perubahan Laut yang Mengancam Pulau-Pulau Kecil
Pada November 2015, National Geographic Indonesia meluncurkan edisi spesial. Kali itu, covernya hanya berwarna kuning, tanpa ada satu pun gambar sebagaimana edisi-edisi sebelumnya. Gantinya adalah beberapa kalimat yang cukup menohok hati. "Maaf. Tidak ada gambar indah untuk perubahan iklim. Mampukah kita bertahan?" Sebagai majalah bulanan yang memiliki segudang penulis feature dan fotografer hebat, bukan hal yang sulit bagi NGI untuk menampilkan visual bagus. Namun, sesuai dengan topik yang diangkat, memang tidak ada gambar yang cukup indah untuk membayangkan dampak buruk perubahan iklim.
Hal itu pula yang menjadi topik artikel ini: bagaimana perubahan iklim menjadi agensi utama atas perubahan sosial yang terjadi di dalam masyarakat penghuni pulau-pulau kecil di seluruh dunia. Lazarus memfokuskan kajiannya pada Kepulauan Pasifik tempat beberapa negara kecil memiliki kedaulatannya. Di awal, Lazarus mencoba untuk memberi definisi apa itu masyarakat kepulauan: mereka yang hidup di pulau-pulau kecil atau cukup besar dan dikelilingi air dan memiliki level politik yang berbeda-beda, Tidak hanya yang berada di pulau-pulau kecil, masyarakat yang hidupnya terfokus pada garis pantai juga memiliki kemiripan pola. Untuk itu, peran mereka dalam wacana-wacana lingkungan turut memengaruhi perspektif global.
Apa perubahan lingkungan yang mereka hadapi? Nyatanya, masyarakat yang berada di pulau-pulau kecil inilah yang paling terdampak perubahan iklim: peningkatan temperatur air laut, tidak menentunya curah hujan, peningkatan intensitas badai. Hidrologi pesisir dan pulau yang cukup kompleks mempengaruhi bagaimana erosi terjai begitu sering dan meningkatkan potensi hilangnya lahan. Meski diakui bahwa pesisir adalah wilayah yang dinamis, di mana makhluk hidup hidup bergantian sepanjang skala waktu geologis, untuk manusia, perubahan juga memengaruhi proses sosial. Interaksi antara masyarakat dengan lingkungannya pun bergeser.
Antropologi dalam kasus ini mencoba untuk memetakan bagaimana masyarakat kepulauan dapat bertahan hidup menghadapi perubahan: mereka memiliki traditional enviromental knowledge (TEK) yang secara sederhana dapat disebut kearifan lokal; rentan terhadap marjinalisasi politik dan ekonomi serta risiko kerusakan lingkungan yang tinggi; beradaptasi baik secara spontan maupun terncana dengan tingkat ketahanan yang rendah; terancam bermigrasi dalam jumlah besar melihat tinggi permukaan laut yang meningkat setiap tahun dan kehilangan pemukiman; serta isu-isu kewarganegaraan dan kebangsaan yang akan hilang seiring tenggelamnya pulau yang mereka tempati.
Maka, melihat potensi kerusakan yang cukup besar dan perhatian yang sangat kurang menanggapi perubahan iklim ini, Lazarus memberikan saran akan penelitian lebih lanjut, dengan koproduksi ilmu pengetahuan dan peningkatan usaha pendidikan. Dalam pendekatan antropologi, ada dua paradigma yang dapat digunakan, yaitu antropology withaout borders dan antropologi iklim. Sayangnya, sebagaimana dikatakan oleh Lazarus sendiri, baik antropolog, akademisi atau masyarakat awam lainnya, perubahan iklim tidak akan mendapat perhatian yang besar hingga muncul korban: masyarakat kepulauan yang kehilangan tempat tinggal, pulau, dan kewarganegaraan di saat yang bersamaan.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?