Pariwisata di Botswana: Teori-Teori Umum Saja

jangan liat bagusnya aja. Di balik itu semua, ada masyarakat lokal yang berjuang memanfaatkan alam liarnya agar tetap asri dan terjaga.

Afrika adalah benua dengan cap ekonomi terburuk di dunia. Ketika Amerika dan Eropa menyebut diri mereka sebagai negeri adidaya, terma negara berkembang selalu dilekatkan pada negara di Amerika Selatan, Asia, hingga Afrika. Untuk itu, ketika globalisasi datang menciptakan pariwisata, hal itu tidak boleh disia-siakan. Sebagai bukti, pariwisata adalah industri non-produk yang cukup sukses di berbagi tempat. Di Botswana, tempat studi kasus ini dilakukan, pariwisata berhasil mengubah cara hidup sehari-hari dan sudut pandang kehidupan masyarakat. Sayangnya, angka pasti peningkatan pariwisata tidak diberikan secara terperinci.

Artikel ini berfokus pada fenomena dan teori yang umum saja: bagaimana pariwisata menjadi tempat bertemunya dua budaya yang berbeda, yaitu penduduk lokal Botswana dan kultur asing, pariwisata menjadi media pemerintah untuk meningkatkan perbaikan ekonomi, dan bagaimana objek pariwisata dapat dimanfaatkan secara terus-menerus. Tim peneliti mengingatkan di sub-bab awal bahwasanya pariwisata bukan hanya soal ekonomi saja: ia juga tentang proses perubahan sosial, yang juga mencakup nilai-nilai dan komunitas. Jikalau tidak dikelola dengan baik, pariwisata hanya akan memunculkan kompetisi antar-sektor. Hasilnya, ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi. 

Relasi antara tuan rumah dan tamu juga perlu dipetakan: apa yang sebenarnya membuat mereka terhubung selain konsep ruang dan situasi. Keduanya dibayar oleh tamu, dipakai oleh tamu, seklaigus menjadi tempat bertukarnya ide serta pengetahuan. Untuk itu, tim peneliti mengingatkan bahwa tidak semua pariwisata dikelola oleh non-lokal. Ada pula kekuatan-kekuatan kecil yang bahu-membahu mengelola objek pariwisata, agar tidak dieksploitasi secara berlebihan, dan akhirnya dapat terus bertahan.

Lalu apa dampak sosial-budaya dari pariwisata? Kedua peneliti merujuk pada perubahan yang terjadi pada berbagai aspek: sistem nilai, struktur komunitas, hubungan sosial, kebiasaan personal, standar kehidupan, dan tradisi. Secara umum, perubahan itu dibagi dalam dua kelompok besar. Peruabahan sosial yang merujuk pada hubungan sosial atau personal, struktur moral dan etika, agama, kesehatan, serta kebahasaan. Perubahan budaya yang merujuk pada materia, non-material, serta proses akulturasi antara keduanya. Sayangnya, yang menjadi keberatan tim peneliti dalam studi kasusnya, tidak ada data yang mumpuni akan jumlah dan tipe-tipe turis. Keberadaan data seperti itu akan sangat membantu untuk melihat pariwisata dari sudut tamu. 

Terakhir, tim peneliti menyajikan beberapa konsep pariwisata berkelanjutan yang sejauh ini sudah dipraktekkan: Center Based Tourism (CBT) di mana warga lokal memiliki persentase yang tinggi dalam kepemilikan objek pariwisata dan menerima untung yang dibagikan secara merata, pro-poor tourisme (PPT) yang tidak jauh berbeda dengan CBT, hanya saja partisipasi warga lokal lebih banyak dan pengelolaannya diserahkan secara penuh, Dengan begitu, keputusan serta kebijakan yang dikeluarkan untuk pengelolaan pariwisata juga akan mendukung warga lokal. 

Dalam kesimpulannya, tim peneliti mencoba untuk memetakan bagaimana konsep pariwisata yang ideal untuk Bostwana, menilik dari perubahan sosial yang menjadi dampak dari pariwisata itu sendiri: high cost-low volume tourism. Tujuannya adalah menjaga pariwisata Bostwana yang berbasis pada wildlife. Keberlanjutan dan otensitas, adalah dua faktor penting untuk menilai bagaimana konsep pariwisata ini dipraktikkan.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir