Mengusulkan Etno-Media
Ruth Benedict, melalui bukunya The Chrysanthemum and The Sword: Patterns of Japanese Culture, menunjukkan bagaimana etnografi dihasilkan melalui cara yang berbeda. Ia menonton film-film Jepang, membaca karya sastra dari negeri yang berbeda, dan mewawancarai para imigran Jepang di Amerika. Hasilnya adalah studinya tentang sifat dan karakter orang Jepang yang saling berkontradiksi, namun tetap berada dalam rumpun kultur yang serupa. Meskipun metodenya berbeda, hasil yang memuaskan meyakinkan para antropolog di masa itu untuk mencoba metodologi yang sama.
Maka, diusulkanlah metode etno-media: sebuah diskursus baru dalam antropologi yang berfokus pada media massa sebagai objek penelitian utama. Faktor-faktornya, adalah teks, narasi, dan bentuk-bentuk audio visual yang tersedia di dalamnya. Dari hasil pembacaan saya, peneliti mencoba untuk menyamaratakan semua bentuk media massa: media yang diproduksi dalam industri jurnalisme besar dan dikonsumsi skala nasional. Ia mencakup pula koran harian, siaran radio, dan televisi. Peneliti hanya tidak menyebut secara spesifik, definisi pasti media massa.
Urgensi media sebagai salah satu faktor penting dalam masyarakat yang dapat diteliti sudah cukup banyak disebut. Maka, untuk membedakannya dengan studi media lain dalam antropologi, peneliti mengajukan diferensiasi: etno-media bukan etno-komunikasi yang berfokus pada sistem komunikasi masyarakat yang tercatat dalam media, etno-media bukan antro-jurnalisme karena tidak mengkaji wartawan sebagai objek utama yang menyediakan berita dalam feature antropologi, etno-media bukan pula studi tentang media etnis tertentu, yang meskipun dikelola secara profesional hanya dikonsumsi oleh kelompok etnis tertentu.
Etno-media bukan konsepsi media rakyat yang melibatkan masyarakat dalam sebagian besar partsipasi jurnalisme. Yang terakhir, etno-media tidak berbicara tentang media-culture, yang berfokus pada produksi budaya populer. Secara sederhana, etno-media membaca karya jurnalistik sebagai objek, bukan lagi perantara yang menyediakan gambaran masyarakat atau partisipasi masyarakat di dalamnya. Media massa dinarasikan tetap sebgaai gambaran masyarakat, tapi ia tidak perlu lagi wawancara. Singkatnya, Etno-media adalah antrophology at a distance di tingkat yang lebih lanjut.
Lalu, apa problem yang dihadapi oleh etno-media sebagai gagasan baru? Tentu saja teknis metodologis dan pencarian bahannya. Peneliti mengajukan metodologi yang umum dilakukan antropolog dalam mencatat etnografi media: karya jurnalistik menjadi perhatian utama, baik teks, audio, maupun visual. Melalui bahan-bahan tersebut, etno-media diharapkan mendapatkan hasil melalui dua aspek: fenomena kultural masyarakat, dan karya media sebagai artefak kebudayaan.
Etno-media, sebagaimana yang diusulkan oleh peneliti, menyisakan pertanyaan: apakah dia bisa memerinci bagaimana bentuk media massa? Apakah dia mendukung arah kapitalisme yang jelas-jelas ia sebut sebagai pendorong media massa?


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?