Mengenali Proses Pembuatan Sosis yang Berdarah-Darah
![]() |
| gambar diambil dari google. bisa jadi bukan gambar sebenarnya |
Isu agama dan religiusitas dalam antropologi pangan telah dibahas sebelumnya, melaui studi kasus perubahan pangan masyarakat Sefardik, Yahudi di Prancis yang tetap mewarisi resep-resep masakan Afrika Utara tetapi tetap sesuai dengan aturan diet a la Kitab Taurat. Kali ini, antropologi pangan beralih ke Swedia, di mana beberapa daerah dan suku memiliki tradisi yang sama dalam pembuatan sosis darah (selanjutnya disebut sosis saja). Sebagaimana sosis pada umumnya, sosis Swedia memiliki komposisi yang serupa: tepung, gandum hitam, darah babi, air atau bir, potongan daging atau apel, dan kismis. Proses pembuatannya pun serupa: sosis direbus dengan temperatur yang cukup agar tidak rusak atau bocor.
Namun, masyarakat Swedia tidak hanya berkutat pada proses pembuatan: ada tradisi-tardisi lama yang harus tetap dipraktikkan untuk menjaga kualitas sosis dan hal-hal lain yang berkaitan dengannya. Pertama, pantangan-pantangan yang tidak boleh dilakukan selama prosesnya, yaitu: larangan berbicara atau menyebut darah secara langsung -untuk itu, ada kata ganti-kata ganti lain yang dapat digunakan, meniup api, hanya pembantu saja yang diperbolehkan di depan tungku, kehadiran laki-laki di dapur, dan merebus sosis selama bulan baru.
Kedua, penggunaan limpa sebagai pembungkus sosis. Dalam pengetahuan masyarakat Swedia, limpa berguna agar sosis tidak rusak atau keluar dari bungkusnya. Konon, praktek ini sudah dilakukan sejak abad ke-17. Untuk itu, limpa disebut-sebut sebagai "penyelamat sosis" atau semacamnya. Penggunana istilah "penyelamatan" memang terkesan berlebihan dan tidak dapat dibuktikan secara sains, namun hal itu terbukti manjur selama berabad-abad. Tidak hanya itu, bentuk limpa yang telah digunakan juga dipercaya membantu masyarakat dalam meramal musim atau cuaca. Beberapa alternatif bahan digunakan untuk mengganti limpa, namun tidak banyak yang digunakan.
Ketiga, proses pembuatan sosis juga disertai dengan doa-doa agar produknya tidak rusak. Kalimatnya, terdiri dari tiga bagian: dua bagian awal sebagai perbandingan atau perumpamaan, dan ketiganya berisi perintah. Beberapa kata merujuk pada alat kelamin atau organ reproduksi, hewan atau manusia. Keempat, sosis itu setelah direbus akan dipukul-pukulkan ke tepi kompor, atau dasar ketel yang digunakan, atau balok kayu. Kelima, pembuatan sosis dilengkapi dengan ritual yang lengkap: hanya dua orang yang diperbolehkan berada di dalam dapur, yaitu ibu pemilik rumah dan pembantu perempuan. Orang asing tidak diperbolehkan untuk masuk atau campur tangan dalam prosesnya. Dalam ritual itu, salah seorang akan bertanya tiga kali, yang kemudian dijawab pula secara berturut-turut. Kata-kata yang digunakan, terkesan seperti lelucon, tapi substansinya serius.
Dari studi ini, peneliti hendak menggambarkan bagaimana sebuah tradisi dilestarikan melalui makanan sebagai agensi utama, dalam hal ini adalah sosis darah khas Swedia. Ia dibuat di lingkup keluarga -yang mungkin sudah didapatkan di tokok-toko. Ia menjadi pembawa tradisi, doa-doa, dan ritual yang musti dilakukan untuk melestarikan apa yang telah dilakukan generasi sebelumnya untuk bertahan hidup. Penjelasan peneliti yang tersebar di berbagai provinsi memang menarik dan mendetail, tapi generalisasi yang terlalu umum dan lingkup studi yang terlalu luas membingungkan.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?