Komunitas Punk dan Makanannya
Ketika globalisasi membawa waralaba McDonald ke seluruh dunia, memberikan kenikmatan kepada warga dunia serupa dengan yang dirasakan oleh warga Amerika, Seattle memberikan penawaran yang berbeda. Ketika seluruh dunia saling berbagi masakannya, menawarkan resep yang berbeda-beda sesuai semangat lokalitas dan dukungan kapitalisme, Black Cat menyajikan makanan sederhana: berbahan organik dan tak jarang diambil dari tempat sampah. Di tempat ini, orang-orang punk berkumpul, makan bersama, dan bersosialisasi membentuk identitasnya.
Bagaimana punk mendefinisikan panganannya? Berbeda dengan masyarakat pada umumnya, komunitas punk mencari makanan yang 'mentah': mendekati liar, organik, tidak diolah secara berlebihan, dibuang ke atau diambil dari tempat sampah. Mereka menolak 'junk food' yang dihasilan oleh kapitalisme karena identik dengan perusakan hutan hujan, penciptaan pertanian komoditas, dan kanker. Semua alasan itu berujung pada satu kesimpulan: makanan modern diproses dari pabrik yang merusak ekosistem. Kapitalisme juga mendukung adanya monokultur, degradasi industri, dan pasar massa. Secara sederhana, mereka menolak makanan menjadi komoditas yang diproduksi masal.
Oleh karena itulah, Black Cat Cafe tidak seperti cafe atau restauran pada umumnya. Mereka hadir dengan konsep yang kotor, tidak teratur. Orang-orang yang datang bersikap seenaknya, dan menu yang mereka hadirkan tidak higienis. Kokinya mengatakan bahwa makanan di Black Cat adalah representasi kebebasan dari sistem. Utamanya, kapitalisme yang merusak alam. Sebagai penentang hierarki sosial, komunitas punk menolak dengan tegas diskriminasi gender. Mereka kritis terhadap industri media, makanan, dan kosmetika yang menempatkan perempuan untuk tampil sempurna sesuai satu perspektif, perspektif elit kaya. Oleh karena itulah, vegeteranian di Black Cat tidak hanya terhubung dengan budaya punk, tetapi juga dengan mereka yang menjadi aktifis feminsime. Apa alasannya? Karena memakan daging adalah bagian dari patriarki, dalih mereka.
Lebih lanjut, punk vegeteranian berargumen bahwa memakan daging penuh dengan hal buruk: kekejaman terhadap binatang, daging yang terkontaminasi, dan efek yang buruk hasil dari konsumsi pangan olahan daging atau susu. Diet radikal yang menolak konsumsi daging ini nyatanya tidak hanya dilakukan komunitas punk baru-baru ini, melainkan sudah menjadi isu lama di Amerika pada 1990. Bagi mereka, menjadi vegetarian adalah sebuah perjuangan: selalu siap sebagai minoritas.
Selain vegan, komunitas punk juga lebih memilih makanan "mentah" sebagiamana disebut sebelumnya. Mereka mengkritik dengan keras panganan olahan yang diproses, disterilkan, diberi merek, diiklankan menjadi komoditas. Hal itu menjadikan substansi makanan sebagai penopang utama hidup manusia hilang. Untuk itu, mereka juga mengambil dan mengais sisa-sisa makanan di restoran atau pabrik untuk diolah kembali.
Makanan menjadi agensi tersendiri bagi terbentuknya komunitas punk. Mereka bersosialisasi, mengdidentifikasi kelompoknya, dan mengekspresikan sikap politiknya melalui makanan. Mentah, makanan sisa, dan vegetarian menjadi isu makanan yang penting. Dari artikel ini, kita dapat membaca bagaimana makanan adalah hal penting: ia tak hanya memberikan kelangsungan hidup, tetap juga kelangsungan sosial.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?