Ketika Pariwisata Tidak Lagi Datang ke Pantai


Apa jadinya kalau masyarakat tidak lagi pergi berkunjung ke objek-objek wisata? Ke mana masyarakat pergi untuk menghilangkan stress dan tekanan pekerjaan dalam kegiatan keseharian? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul akibat fenomena sederhana, yang disadari atau tidak mengubah pandangan masyarakat akan konsep berlibur, berpariwisata, atau bepergian melepas penat: ketika kemajuan teknologi membawa kemudahan dalam berbagai bidang. Tim Gale, dengan sarkasmenya berterimakasih kepada teknologi informasi dan komunikasi, serta transportasi masal yang menjadikan biaya perjalanan menjadi semakin murah bagi semua kalangan.

Manusia modern memulai konsep pariwisata kira-kira setelah perang dunia kedua: masyarakat-masyarakat negara maju ingin kembali melihat ke belakang, atau sisi lain dunia di mana manusia masih berbeda. Konsep itu berkembang, didefinisikan ulang, menjadikan pariwisata sebagai bentuk pelarian dari kegiatan sehari-hari dan pekerjaan yang membuat stress dan tidak produktif. Pariwisata adalah obat bagi kesibukan, menghindari dunia yang keras untuk menikmati keheningan dan ketenangan, sebelum akhirnya kembali lagi dengan lebih siap. Namun, bagaimana jadinya jika manusia modern menghendaki objek wisata masuk dalam kehidupan keseharian mereka, menjadi satu alias tak terpisahkan?

Maka dibentuklah Paris Plage, sebuah pantai artifisial di tepi Sungai Seine, jantung Ibukota Paris. Kegiatan itu semacam festival, dengan berbagai wahana dan kemeriahan di sekitar, serta orang-orang yang berpura-pura sedang berada di pantai sungguhan. Ketika pariwisata modern dipertanyakan manakala wisatawan mencemari kegiatan liburan dan rekreasi dengan kesibukan pekerjaan, Paris Plage selangkah lebih maju: ia membawa liburan dan rekreasi dalam keseharian. Diadakan selama sebulan, penduduk dengan ekonomi rendah dapat mengaksesnya secara mudah, begitu pula dengan orang-orang kaya harta namun miskin-waktu.

Itu baru satu fenomena. Fakta lain yang tak kalah mengejutkan adalah berkurangnya minat wisata ke objek pariwisata secara nyata. Hal itu dibaca melalui munculnya game-game simulasi dunia nyata, di mana setiap orang -bermodal internet dan perangkat seluler- dapat berpartisipasi di dalamnya, berinteraksi baik secara maya maupun nyata. Kemajuan dunia game mengalihkan stress kepada hal-hal yang ada si sekitar. Orang-orang tidak lagi perlu bepergian: ia hanya perlu mengalihkan fokus pada sesuatu hal yang menyenangkan, atau sedikit menghibur seperti menonton video, bermain game, atau membuat identitas baru di dunia virtual. Lagi-lagi, pariwisata sebagai konsep baru abad ke-20, menemukan senjakalanya dalam bentuk baru.

Apa hubungannya dengan maritim atau kelautan? Berkurangnya minat terhadap dunia nyata tentu saja mempengaruhi lingkungan dan alam. Ketika lautan ditinggalkan, manusia tidak lagi mengolahnya. Mereka malah menjadikan dunia buatan mirip pantai sebagai sumber hiburan. Mereka mengubah lanskap untuk jangka waktu pendek, namun terus-menerus. Paris Plage, adalah bentuk kerinduan manusia terhadap alam, namun tidak mampu menyempatkan waktu untuk datang.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir