Ketika Kapitalisme Merasuk ke Tempat-Tempat Terpencil: Darjeeling
Distrik Darjeeling yang berada di Provinsi West Bengal, India, terkenal akan perkebunan teh yang luas dengan permintaan yang tinggi. Kebun teh ini dimulai oleh Archibald Campbell yang membawa bibit teh dan menanamnya. Kesuksesan yang muncul akibat perkebunan kecil itu akhirnya membawa Distrik Darjeeling memperluas perkebunan hingga berhektar-hektar. Buruh tani tinggal di dekat perkebunan, membuat mereka memiliki ikatan khusus dengan teh. Pemetik teh biasanya diambil dari kalangan perempuan. Secara sosial, para buruh teh ini tinggal secara turun-temurun di Darjeeling. Untuk itu, ketika muncul wacana fair-trade yang diusulkan oleh para konsumen dan pabrik penerima suplai, yang memungkinkan para buruh dari dunia ketiga mendapat kehidupan yang lebih layak dan kompetensi yang cukup melalui sertifikasi, hal itu tidak hanya merubah pertanian, tetapi juga struktur sosial yang ada.
Pertanian adalah konsep awal manusia modern. Ia adalah tingkah-laku lanjutan Homo sapiens setelah berhasil bertahan hidup dengan berburu-meramu. Oleh karena itu, pertanian awalnya adalah proses produksi untuk konsumsi pribadi. Setelah kemampuan manusia terspesialisasi, dan didukung dengan adanya kekuasaan-berbasis-militer semacam negara dan imperium, pertanian berskala besar pun dibutuhkan. Hal itu berlanjut di masa modern, di mana kapitalisme masuk ke setiap sudut bumi, dan memaksa setiap pertanian untuk memproduksi komoditas non-konsumsi pribadi, melainkan untuk dijual, diekspor. Setelah sekian lama, keadaan itu berlangsung, muncul ide untuk meningkatkan kualitas di antara para penyedia produk. Maka, agar teh yang dihasilkan menjadi lebih baik, kualitas hidup buru tani pun ditingkatkan.
Dengan ide semacam itu, pertanian teh berlomba-lomba untuk mengadakan sertifikasi petani untuk mencapai akses pasar yang sesuai. Fair-trade dapat dibaca melalui serangkaian teori sosial yang diusulkan. Diantaranya adalah: 1) ekonomi politik yang memaksa pertanian-pertanian yang sebelumnya kecil untuk terus memperluas lahan, pertanian-pertanian besar untuk menjadi lebih mapan, dan menyediakan pasar bagi industri yang terus berkembang, 2) sosiologi yang melihat perubahan sosial akibat pangsa pasar yang meluas, dan 3) antropologi yang melihat perubahan pertanian yang terjadi dalam kasus Darjeeling sebagai salah satu contoh evolusi unilineal -diusulkan oleh Leslie White dengan penjelasan setiap kelompok masyarakat memiliki proses evolusinya masing-masing, dengan tujuan yang serupa namun berbeda-beda arahnya.
Tetapi, sebagaimana juga yang diusulkan oleh Eric Wolf terkait teori-teori Marx, pendekatan Immanuel Wallerstein tentang peningkatan kualitas tenaga pekerja atau buruh tani di pertanian teh sangat berkaitan dengan kompetisi yang muncul di antara mereka. Secara lengkap, pertanian teh Darjeeling beserta fair-trade adalah contoh relasi antara Barat dan Timur, Utara dan Selatan, negara maju dan negara berkembang dalam bingkai ekonomi politik. Selanjutnya, fenomena-fenomena lain muncul sebagai hasil maupun efek samping yang dapat dibaca dan ditelaah melalui disiplin ilmu lain.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?