Hantu-Hantu dalam Film Horor
Seiring dengan produksi film yang cukup masif untuk memenuhi penonton di masa Hindia-Belanda, maka dibuatlah film horor untuk memperkaya keanekaragaman genre perfilman. Film horor di masa Hindia-belanda termasuk populer, dengan jumlah penonton yang cukup tinggi. Hal itu terus berlangsung hingga masa kini, di mana produksi fil bergenre horor atau mistis terus berlanjut. Makalah ini berusaha untuk melihat perbedaan pemahaman akan genre horor dalam dua masa perkembangan utamanya, yaitu masa 1970-an, dan masa pasca-1998.
Film horor secara umum menghadirkan tiga tipe dalam ceritanya, yaitu: makhluk gaib, manusia yang sakit secara psikologi, dan perdukunan atau ilmu hitam. Secara khusus, makhluk gaib dihadirkan sebagai penggerak naratif yang utama. Karakternya bermacam-macam, bisa hantu, siluman, atau makhluk gaib lainnya. Veronika Kusumaryati menyebut bahwa pada masa 1980-an adalah periode di mana konversi naratif dan gaya film horor dibakukan. Biasanya, narasi itu dimulai dari suatu keadaan yang normal, tertata, dan baik-baik saja. Lalu, keadaan itu akan rusak manakala diganggu oleh tokoh antagonis yang berbuat jahat. Tokoh protagonis pun diceritakan meninggal, beralih menjadi hantu yang memiliki hasrat balas dendam. Di akhir, balas dendam itu tercapai dan sosok hantu dinetralkan oleh sosok agamis. Narasi-narasi horor seperti itu, akan dibumbui dengan bungkus komedi atau romansa.
Tak hanya makhluk gaib, genre horor juga menampilkan sosok-sosok penderita gangguan jiwa sebagai konsekuensi pemikiran dan persepsi masyarakat Indonesia. Biasanya, pengidap gangguan jiwa itu diidentifikasi sebagai nekrofilis, psikopat, atau paranois, lalu melakukan tindakan-tindakan keji yang dilabeli sebagai thriller atau slasher. Tipe terakhir dari genre horor adalah perdukunan atau ilmu hitam, yang mengeksplorasi bagaimana manusia atau makhluk gaib dapat mengeluarkan ilmu hitam sesuai batasnya.
Pasca-reformasi 98, atau awal milenium, setting horor yang didominasi oleh latar pedesaan kecil atau lokasi-lokasi terpencil, mulai bergeser ke arah urban. Dimulai dari rilisnya film Jailangkung (2001) yang ceritanya mirip dengan The Blair Witch Project (1999) yang dirilis di Amerika dan menuai kesuksesan besar. Narasi-narasi mistis itu dibawa ke kota, diperankan oleh anak-anak muda yang mencari kebenaran dan validasi dari mitos-mitos yang beredar, lalu karena mereka mengganggu ketenangan alam gaib, hantu-hanti itu mengejar mereka sampai ke kota, sebelum akhirnya mereka harus memperbaiki tatanan kembali ke keadaan sebelumnya.
Perbedaan narasi ini, mau tak mau menimbulkan perubahan ideologi dari para penonton film bergenre horor di Indonesia. Kejahatan-kejahatan tetap bermula dari desa, namun itu terus menyebar dan akhirnya sampai kepada masyarakat urban. Film horor juga menjadi perayaan dari hal-hal negatif yang selama ini disimpan, kemudian muncul sebagai bagian dari hantu, makhluk gaib, dan mitos-mitos terlarang di masyarakat


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?