Tapi Rania Berbeda
Aku melihat wajahnya yang murung. Rania masih cantik, seperti biasa. Seperti hari-hariku sebelumnya, Seperti tahun-tahun lalu yang penuh dengan ujian di antara kami berdua. Ia membuka pintu pagar, menyalamiku, lalu duduk di atas paving. Ia bersandar pada pagar besi, menyelonjorkan kakinya pada jalanan. Aku duduk di sampingnya, menaruh bungkusan plastik tepat di tengah-tengah kami. Ia menoleh padaku dengan raut wajah yang menjengkelkan, "Beli apa kamu?"
Aku membuka plastik itu, mengeluarkan bungkusan rokok. Ia mengambilnya dengan cepat, lalu merebut korek gas dari tanganku. Tak lama kemudian, ia sudah menghirup rokok itu dengan nikmat. Matanya menunjukkan kepuasan. Ia sudah lama mengurung diri di kamar dan akhirnya ia punya keinginan untuk keluar. Dari plastik itu, aku mengeluarkan sebotol soda, dan ketika melihatnya, raut wajah Rania lagi-lagi menjengkelkan.
"KAMU KOK MINUM SODA LAGI???" Ia setengah berteriak. Malam sudah cukup larut dan ia tidak punya cukup tenaga. Aku hanya mengangkat pundak, tapi ia merebut juga botol soda itu. Ia meminumnya sampai habis, seolah-olah air putih, lalu melempar botolnya ke jalanan. Aku hanya menghela napas. Aku tidak memegang apa-apa, tidak ada pula yang tersisa dari plastik itu. Aku hanya menatap langit, hingga akhirnya tangan Rania menepuk pundakku.
Ia menarikku agar mendekat, lalu ia memelukku sembari menyandarkan kepala.
"Jadi gimana?"
"Apanya, Ran?"
"Cewek itu."
"Oh, si Mawar?"
"Iya."
"Kami putus. Gak ada lagi sisanya."
"Tapi kamu masih sayang?"
"Masih."
"Ya udah sini peluk dulu."
Di malam-malam biasa, aku sudah mendengarkan lagu depresan agar sedikit merasa tenang. Earphone di telinga, hape di tangan kiri, dan kalung tasbih di tangan kanan. Sayangnya, malam ini ada Rania. Ia menggantikan semua itu, dengan harumnya yang semerbak setiap kali kami bertemu, dan lembut kulit tangannya. Aku berharap semua ini tidak cepat berakhir, atau bulan lebih lama di langit malam. Tapi sayang, Rania sudah tertidur. Matanya tertutup dengan begitu indah, dan nafasnya yang tenang membuatku merasa kasihan.
Ia harus kembali bekerja esok hari, dan aku kembali pada rutinitas perkuliahan. Aku mengingat-ingat jadwal, lalu meyakinkan diri bahwa tidak ada tugas. Aku membangunkan Rania, lalu mengangkatnya berdiri. Ia mengantongi rokok yang kubawa, dan melambaikan tangan.
"Jangan kangen anak itu lagi." Ia berkata setengah sadar dari balik pagar. "Kalau butuh temen bicara telpon aja." Aku mengangguk, lalu pergi dari rumahnya. Dalam perjalanan pulang, aku mengingat-ingat masa indah bersama Mawar, dan perjalanan kami ke berbagai tempat dalam waktu yang singkat. Tiga bulan adalah rekor yang cukup lama, dari setiap perjumpaanku dengan berbagai wanita. Rania, adalah salah satu yang cukup lama, tapi hubungan kami sudah berbeda sejak lahir.
Ia adalah adikku.


ini kalau kata juri stand up comedy: kompor gassssss!
BalasHapussepertinya ini cocok sama kamu
https://www.nusantarainstitute.com/sastrawan-santri-etnografi-sastra-pesantren/