Menurutmu, Cantik itu Apa?


Awal bulan Maret adalah masa-masa yang cukup ramai bagi Tara Basro. Tak salah, postingan instagram yang menampilkan dirinya hanya dengan pakaian dalam mendapat banyak teguran keras dari pejabat. Salah satunya, Kabiro Humas Kominfo (bukan Menkominfo yang selama ini juga diragukan), yang menyebut bahwa foto itu akan diselidiki, apakah mengandung unsur pornografi sesuai dengan UU ITE pasal 27 ayat 1.

Tunggu dulu.

UU ITE???

Yang bener aja anjir. Jadi selama ini yang bawa-bawa pasal karet itu kamu, Fernandus Setu? Oh, pantes aja negara ini mau ancur.

Kisah salin terjadi ketika saya di UKM: seorang kating menegur perut saya yang buncit, lalu saya membalas padanya, "Pasti gak ngerti body-positivity, sampean." Dia malah bertanya balik, "Emang apa itu." "Tapi kalau kasusnya Tara Basro, tau?" Dia mengangguk. Nah, ini nih. Jiwa-jiwa orang Endonesa: tau berita tapi gak tau konteksnya. Kebiasaan. Intinya, Tara Basro melalui postingannya yang kemudian dihapus karena diendus oleh Kominfo itu mengajak kita untuk menerima kekurangan tubuh, tetap menganggapnya cantik, dan berusaha merawatnya tanpa harus berusaha keras. 

Jadilah cantik, dan sehat. Itu saja.

Nah, kebetulan sekali majalah bulanan National Geographic edisi Februari membahas hal itu: apa itu kecantikan? bagaimana ia dibentuk? bagaimana pemahaman manusia tentang kecantikan berevolusi sepanjang zaman? Robin Givhan menulis itu dari sudut pandang sejarah. Ia bercerita tentang bagaimana rumah-rumah mode di Amerika mencoba menerima berbagai bentuk tubuh dan warna kulit dengan tujuan bisnis. Pada akhirnya, hal itu membantu revolusi. Kecantikan tak lagi didefinisikan dalam satu bentuk. Semua perempuan cantik. Semua yang mengaku perempuan berhak pula mengaku dirinya cantik. Tak perlu malu-malu.

Pengakuan. Itu adalah satu hal yang cukup sulit dilakukan banyak orang. Pengakuan akan keberadaan agama lain membawa kita pada toleransi. Pengakuan akan kelompok minoritas membawa kita pada perdamaian. Pengakuan akan dosa masa lalu membawa Raja Belanda ke Endonesa, mengucapkan permintaan maaf kepada Jokowi. Sayangnya, presiden kita sendiri tidak meminta maaf. Ia seharusnya menjadi perwakilan pemerintah untuk meminta maaf kepada korban 98, lalu mengusut penjahat-penjahatnya hingga masuk penjara.

Dua sajian utama NGI kali ini bercerita tentang pengakuan: Kampung Cina di Ketandan, yang menghidupi banyak cecahayaan Malioboro, Yogyakarta. Agni Malagina mencoba menelusuri peran-peran ekonomi masyarakat Tionghoa, yang berjualan beras dan narkoba, melalui anak-cucunya. Meski aturan keraton melarang mereka memiliki tanah pribadi, peran mereka dalam perputaran uang sangat besar. Kini, warisan mereka tinggal nama. Rumah-rumah mereka berganti, tapi tetap menjadi kampung halaman untuk pulang.

Pengakuan lain sedang diusahakan, dari sejarah kelam Amerika: perbudakan. Beberapa penulis NG mengkompilasikan kisah-kisah mereka ketika bersama anak-cucu dar 108 budak-budak yang diangkut dari Clotilda, sebuah kapal dagang. Di masa itu, perbudakan memang hal yang lazim. Namun, yang tak terperikan, adalah bagaimana orang-orang Afrika itu kehilangan kehormatannya, ditelanjangi dan dibiarkan kelaparan di dalam kabin kapal yang penuh sesak, dan mendapat pekerjaan yang buruk sesampainya di di dataran baru. Keteguhan mereka membawa persatuan, lalu kemudian keadilan antara kulita hitam dan kulit putih. Meski sudah mendapatkan banyak kenyamanan, anak-cucu mereka tak berhenti berjuang.

Bab terakhir yang ditulis dalam sajian utama majalah ini adalah kisah klasik: pertentangan antara kawasan konservasi dengan masyarakat lokal yang hidup dari lingkungan. Sayangnya, NG Society sendiri pun terlibat dalam proyek ini. Hannah Nordhaus bercerita bagaimana American Prairie Reserve mengembalikan ribuan bison untuk mengembalikan ekosistem, namun proyek itu malah mendapat pertentangan dari komunitas indian. Perdebatan ini seperti tanpa akhir, meskipun ARP sudah memberikan kebebasan agar wilayah itu dapat digunakan untuk berburu atau aktivitas lainnya. Kita tidak dapat melihat siapa yang salah, karena tanpa konservasi sekalipun, komunitas lokal selalu beradaptasi pada setiap perubahan.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir