Menggugat Klaim Darah dan Doa


Orang-oramg Tionghoa dari dataran Cina sudah lama bermukim di Kepulauan Indonesia. Keberadaan mereka dikenal sejak masa kerajaan Hindu-Budha, di mana raja-raja mengirimkan utusan dan para pelajarnya untuk bermukim di Asia Daratan. Sayangnya, imigran ini tidak mudah diakui di negeri keduanya. Di pulau Jawa sendiri, orang-orang Tionghoa memiliki peran penting dalam perekonomian. Namun, kesenjangan sosial membuat mereka tidak mudah dipercaya. Pangeran Diponegoro ketika mendeklarasikan perang melawan Belanda, juga turut melawan orang-orang Tionghoa.

Diskriminasi yang sama berlaku pula dalam dunia sinema. Setijadi-Dunn dan Braker mencoba mempertanyakan klaim sepihak yang dilakukan para pengamat film selama ini tentang apa yang disebut sebagai film Indonesia. Darah dan Doa (1950, yang dalam bahasa Inggris diberi judul The Long March), diklaim sebagai tonggak awal film Indonesia, dengan produser, sutradara, dan naskah asli Indonesia. Film-film yang diproduksi sebelum itu, belum dianggap sebagai film Indonesia, manakala masih dalam pengaruh penjajah Jepang atau pun Belanda.

Nyatanya, di masa Hindia-Belanda, orang-orang Tionghoa sudah memulai memproduksi film. Mereka mengadopsi kisah-kisah teater, menggunakan berbagai tema untuk mencari selera yang pas bagi audiens, berusaha keras menggambarkan setting lokal, menggabungkan berbagai elemen seperti tradisional-modern, lama-baru, Hollywood-Shanghai, tapi tetap bernada orientalis, agar dapat dinikmati oleh mayoritas penduduk.

Sayangnya, kerja keras mereka memudar begitu saja manakala Jepang datang dan menguasai sektor perfilman untuk tujuan politis. Partisipasi orang-orang Tionghoa dibatasi. Peran mereka pun perlahan hilang, dan ketika masa kemerdekaan datang, film-film mereka tidak dianggap mewakili semangat nasionalisme yang kala itu membara. Maka, ketika Usmar Ismail merilis film pertamanya, orang-orang Tionghoa itu semakin terlupakan. Padahal, tonggak awal perfilman telah mereka bangun dengan penonton yang juga pribumi.

Pertanyaan: bagaimana orang-orang Tionghoa dapat membaca selera hiburan masyarakat Hindia-Belanda?

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir