Memahami Turis: Interpretasi dari Indonesia
Manggarai adalah salah satu kabupaten di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Maribeth Erb datang untuk kedua kalinya pada akhir milenium, setelah usahanya yang pertama pada periode 1980-an. Dalam artikel ini, Erb berusaha melihat bagaimana turisme datang atau perspektif masyarakat dalam memandang turis. Erb melihat ada inovasi kultural yang berkembang yang dapat dilihat dari perbedaan sebelum dan sesudah turisme datang. Apa itu inovasi kultural?
Pertama. Turisme di Manggarai berkembang sangat pesat. Erb memberikan tabel jumlah kedatangan turis yang naik-turun sepanjang 1989-1998. Mayoritas data menunjukkan peningkatan jumlah, meskipun dalam beberapa tahun juga mengalami penurunan. Kedatangan turis melalui berbagai jenis kendaraan, baik darat, laut, maupun udara: memberikan dampak baik terhadap mobilitas manusia dan perputaran uang dalam bidang transportasi.
Kedua, orang Manggarai memiliki persepsi khusus terhadap pendatang. Kolonialisme Belanda dan Eropa secara umum membuat mereka melihat pendatang sebagai entitas dari alam lain, di luar kosmologi Pulau Flores. Tak hanya itu, mereka juga dianggap sebagai bayu baru lahir yang perlu diajarkan tata-krama dan nilai-nilai sosial Manggarai. Orang Manggarai menerima para pendatang, namun mereka perlu dileburkan dalam kultur yang telah lama dianut.
Ketiga, orang-orang Manggarai membuat inovasinya sendiri. Mereka tidak mau orang-orang datang begitu saja, melainkan juga diajarkan nilai-nilai lokal yang mereka pahami dan wariskan selama ini. Pandangan orang Manggarai terhadap pendatang beragam, mereka bisa jadi makhluk selain manusia, bayi baru lahir, maupun turis. Namun, apapun motif atau alasannya, mereka harus mampu berbaur terhadap masyarakat Manggarai.
Inovasi Kultural
Inovasi macam apa yang dilakukan orang Manggarai dalam memahami turis? Mengontrol mereka adalah kuncinya. Para turis diberikan paket wisata yang memaksa mereka menikmati produk kebudayaan lokal Manggarai. Dahulu, para pendatang boleh saja berkeliaran, seperti pegawai-pegawai kolonial. Kini, kedatangan turis dikontrol dengan ketat, dengan maksud agar mereka tetap berperilaku sesuai dengan standar-standar nilai lokal.
Namun, hal itu juga membuat ambiguitas. Ritual dan tradisi turun-temurun yang selama ini dilakukan masyarakat semata-mata untuk menyembah dewata, kini berpaling kepada para turis yang membayar paket wisata. Tarian-tarian dalam sanggar tidak lagi sakral. Praktik ibadah mereka menjadi tontonan berbayar. Komersialisasi kebudayaan menemukan tempatnya, namun selalu membuat masyarakat dalam perasaan ambigu, antara tetap bertahan atau menolak.
Perubahan sosial akibat meningkatnya pariwisata tidak selalu berkonotasi positif. Di kalangan akar-rumput, para penganut kebudayaa berjuang untuk tetap hidup dengan memahami posisi lokal mereka dalam kepungan globalisasi. Masyarakat Manggarai tidak lagi menganggap para pendatang adalah makhluk astral selain manusia, atau pun orang-orang putih dengan kekuatan dewata. Gelombang turisme lebih dipahami sebagai proses, untuk membuat orang luar yang tidak diketahui, menjadi lebih beradab dalam kultur mereka.


Jangan lupa like, comment, subscribe. Karena kata atta semua ktu gratissss
BalasHapus