Film Islami dan Citra Islam Mana yang Kita Pakai


Untuk menulis ini, saya melakukan riset kecil-kecilan tentang apa itu film Islami. Dan sebagaimana yang dituliskan teman-teman saya dalam kuisioner yang dibagikan tempo hari, film Islami mengacu pada produk sinema yang mengangkay unsur-unsur religionitas (maksud saya keagamaan, kalau saja kalian sulit melafalkannya) dan mengandung nilai-nilai keislaman. Sejauh ini, film Islami favorit teman-teman saya madih didominasi oleh genre romansa: Ketika Cinta Bertasbih, Ayat-Auat Cinta, dan Surga yang Tak Dirindukan. Sisanya menjawab film aksi semacam 3: Alif Lam Mim dan Hijab, yang saya tidak tahu (dan tidak peduli) apa isinya.

Bagi saya pribadi, film Islami terbaik adalah ? (Tanda Tanya, 2011) dan Sang Pencerah (2010), keduanya karya Hanung Bramantyo. Film ? pada intinya hendak mengajarkan pluralitas, namun malah dikecam banyak pihak karena fakta yang dihadirkan terlalu nyata: sentimen anti-Cina yang menyelimuti kaum muslimin, terorisme kepada praktik ibadah agama lain, dan klaim kebenaran yang superior. Ketika dihadapkan pada kenyataan-kenyatan itu, kita selalu menyangkal, dengan dalih, "Hal itu tidak benar. Itu bukan Islam yang sebenarnya. Islam yang sebenarnya adalah bla bla bla..." lalu kita menyebut sifat-sifat baik yang selalu bisa diterima secara universal.

Mengapa kita denial? Mengapa kita tidak mengaku saja bahwa Islam memang penuh dengan kontroversi yang melelahkan?

Tapi saya tidak mau mengelak dari fakta bahwa film-film romansa membantu kita memperbaiki citra Islam yang porak-poranda dihancurkan terorisme. Lihatlah sosok Fakri yang sempurna: ia alumni pondok pesantren, pandai beladiri, berkuliah di Mesir, diincar oleh banyak wanita hebat yang mengaguminya. kalau Anda membaca novel Ayat-Ayat Cinta 2, Anda akan tahu bahwa setelah kematian Maria, Fakri berhasil melanjutkan studi ke Yaman, lalu di jerman, dan menjadi dosen di Edinburgh, Skotlandia. Sosok utopis bernama Fakri ini adalah citra Islam yang sesungguhnya: ia bersikap baik kepada tetangga Yahudi, memberikan pendidikan kepada anak-anak tetangga yang membencinta karena trauma terhadap Islam, dan tetap setiap kepada istrinya yang hilang di tengah perang. Karakter-karakter rekaan Habiburrahma El-Shirazy memiliki komposisi yang serupa, baik dalam KCB, AAC, atau bahkan Bumi Cinta.

Sosok yang lebih membumi dan rasional bagi saya, tampaknya adalah Khan (Shah Rukh Khan) dalam My Name is Khan (2010): lelaki yang sedikit terganggu kewarasannya, namun mati-matian membela Islam di hadapan media Amerika dan tekanan pemerintah. Pada akhinya, masyarakat Amerika tersentuh dengan pengorbanannya membantu korban banjir di sebuah gereja sembari menembus badai. Kata-katanya melegenda, menunjukkan pada dunia bahwa tidak semua muslim adalah penjahat.
My name is Khan, and I'm not terrorrist!
Maka, pada Hari Film Nasional ini, yang ditandai dengan awal-mula produksi film Darah dan Doa karya Usmar Ismail pada 1950, saya ingin berpesan kepada teman-teman untuk mengisi hari membosankan ini dengan karya-karya hebat. Islam itu luas. Anda tidak akan menemukan Islam hanya berupa ritual atau pakaian yang melekat pada umat muslim sesuai gender. Islam adalah praktik yang dihayati dalam keseharian, lalu kemudian muncul sebagai nilai-nilai kebaikan. Ketika menulis nasihat ini, saya merasa sangat tidak pantas. Tapi, kalau merekomendasikan film, saya ahlinya.

Cobalah menonton The Two Popes (2019), berkisah tentang pertarungan ideologi dan pemikiran antara dua Paus: Benediktus yang konservatif dan hidup dalam balutan kemewahan, berdebat melawan Fransiskus yang moderat dan selalu membela orang-orang miskin di negara-negra Dunia Ketiga. Fransiskus bahkan mengakui kelompok LGBT! Itu adalah langkah paling berani yang diambil oleh pemimpin tertinggi Katolik seluruh dunia.

Tidak, saya tidak menyarankan Anda mengakui kelompok LGBT. Kalau masih ingin menolak, lakukan saja dalam diskusi ilmiah penuh argumentasi. Bukan serta-merta menolak dilandasi kebencian membabi-buta.

Tentu saja The Two Popes bukan film Islami, namun pertentangan dan perdebatan ide-idenya tentang isu keagamaan, keadilan sosial, serta kemanusiaan juga terjadi dalam umat Islam: pertarungan antara Aswaja dan Salafi, orang-orang kaya elit yang berjarak dengan kaum miskin, atau pengakuan akan adanya kelompok-kelompok yang berbeda di antara Islam. Semangat pengakuan, yang kemudian memunculkan telorasin toleransi dan semacamnya, adalah langkah awal menuju umat Islam yang lebih baik.

Akhirnya, melalui MONIQ -tulisan ini aslinya untuk MONIQ, namun rasanya tidak pantas dan saya mengjaukan pengunduran diri- pagi ini, saya mengajak teman-teman semua untuk memperhatikan kembali citra Islam yang terekam dalam sinema: apakah kita Fakhri? Lelaki utopis yang sosoknya menjadoi impian bagi semua wanita? Ataukah kita Ana Althafunnisa'? Wanita yang berjuan melewati berbagai rintangah kehidupan, untuk kemudian berhasil mendapatkan yang terbaik?

Atau kah kita umat Islam yang tidak lelah berdebat di media sosial tanpa argumen tetapi dipenuhi kebencian?

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir