Sang Pemenang Berdiri Sendirian: another quotable book from Paulo Coelho
Pengantar saja. Pertama kali saya berkenalan dengan Pak Coelho adalah ketika seorang kaka kelas meminjamkan buku karyanya yang berjudul The Pilgrimage. Selain berstatus sebagai seorang santri, saya juga pembaca yang tekun. Ketekunan saya, membuahkan hasil yang cukup mengejutkan: saya menghabiskan buku itu dalam jangka waktu yang relatif cepat, lima hari, dan menyukai Pak Coelho. Sejak saat itu, saya mencari buku-bukunya yang lain.
Setelah berhasil membaca The Alchemist, Five Mountain, dan beberapa judulnya yang saya lupakan, saya mendapatkan buku ini: Sang Pemenang Berdiri Sendirian. Cukup tebal, saya rasa, kemudian saya simpan dalam daftar buku yang hendak saya baca. Sayang, buku itu akhirnya harus tersimpan selama tiga tahun, sebelum akhirnya saya memaksakan diri untuk menghatamkannya. Saya tidak mau menjadi pengoleksi buku tanpa membaca. Saya tidak mau.
Dan akhirnya, saya benar-benar menghatamkannya. Hari ini.
Kisah
Paulo Coelho, yang dalam post-post Instagramnya berisi petuah-petuah bijak, bercerita melalui buku ini tentang seorang lelaki empat puluhan bernama Igor yang sukses dengan perusahaan ponsel di negaranya. Ia datang ke Festival Film Cannes untuk memberikan pesan-pesan kematian kepada mantan istrinya, tidak lain tidak bukan, bertujuan agar kekasihnya itu kembali.
Namun, rencananya untuk mengirim pesan itu tak wajar: ia dengan acak akan memilih orang yang pantas dibunuh. Ia menyebutnya pengorbanan. Bahkan, ia berdelusi bahwa roh gadis penjual aksesori di pinggir jalan yang menjadi korban pertamanya menuntun ia untuk tetap berpegang teguh pada rencana. Sebagai mantan tentara, ia dengan mudah melakukan misinya. Namun, pergolakan batin dan pikiran yang berkecamuk adalah pembahasannya.
Sebenarnya, buku ini tidak hanya bercerita tentang Igor, melainkan juga turit di dalamnya: Gabriella; aktris pendatang baru yang terlalu banyak ekspektasi, Savoy; polisi setempat yang berharap terkenal, Jasmine; model pendatang baru yang nasibnya baik; Hamid; desainer Timur Tengah yang suskes besar, dan tentu saja, Ewa, mantan istri Igor yang selama berada di Cannes harap-harap cemas.
Kisah mereka semua berkelindan dalam novel ini, menjadi satu dalam rangkaian alur besar alam semesta. Setiap kepala memiliki otaknya, setiap orang memiliki persepsinya. Hal itulah yang kemudian ditunjukkan Paulo Coelho untuk membuat buku ini semakin tebal: mengeksplorasi semua tokoh, mengambil semua ide atau gagasan dari pikiran mereka.
Dari segi cerita, novel ini memberikan banyak sekali pengetahuan tentang bagaimana elit hidup dan beraktivitas, membuat saya yakin bahwa saya saya tidak mungkin mau menjadi elit semacam itu.
Bintang Dua
Saya tidak mau menyebut novel ini jelek, tapi membaca beberapa halaman awalnya saja sudah membuat saya cukup mengantuk. Novel ini membosankan, terlalu banyak kata-kata bijak, terlalu banyak detail tidak penting dan utamanya, terlalu banyak hal yang diceritakan. Tidak ada tujuan khusus di mana cerita-cerita itu hadir untuk memperkuat sang tokoh utama. Atau memang semua tokoh adalah tokoh utama? Itu tidak mungkin. Cukup Igor dan Ewa saja tokoh utamanya. Konflik berputar di antara keduanya.
Maka, ketika muncul kisah-kisah tambahan, hal itu malah menjauhkan pembaca -setidaknya saya- dari keingintahuan. Semakin dalam saya membaca novel ini, saya semakin tidak menikmatinya. Semakin banyak waktu yang saya habiskan, semakin banyak kisah-kisah tambahan bermunculan. Dan karena semakin lama saya jadi mengantuk, saya hanya bisa memberikan dua bintang untuk novel ini.
Intinya, saya tidak merekomendasikannnya. Lalu, untuk apa saya menulis review ini? Tentu saja agar saya bisa membangun argumen untuk mendukungnya. Saya tidak mau bergabung bersama orang-orang bodoh yang tidak mendukung ide sosialis-komunis lalu dengan serta-merta merazia buku semacamnya. Kan goblok.
Eh tapi bukan berarti saya menolak buku ini ya. Saya cuma tidak merekomendasikannya. Itu beda lho.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?