Pembunuhan di Jakarta, yang Takut Orang Banyak


James T. Siegel lagi-lagi keberatan. Ia menemukan kejanggalan dalam pemberitaan Pos Kota yang berlebihan tentang pembunuhan seorang polisi, Serka Bambang, yang dilakukan oleh anak Hakim Agung berinisial IA. Dalam pemberitaan awalnya, mereka menggambarkan bagaimana polisi itu dibunuh, dengan beberapa luka tikaman di tubuhnya. Pos Kota juga memberitakan kronologis terbunuhnya, dari awal mula hingga dibuangnya ia dalam keadaan terbakar di suatu desa di pelosok Cianjur.

Apa yang membuat Siegel merasa aneh?

Yaitu pemberitaan yang berlebihan terhadap korban baru dalam kasus ini. Pos Kota tidak hanya menjadikan Serka Bambang sebagai korban, melainkan juga warga lokal yang menemukan jasadnya: masyarakat merasa trauma pada awalnya, karena harus bertemu dengan sesosok mayat penuh api yang ternyata tubuh polisi, lalu merasa takut karena "...polisi saja dibunuh, apalagi masyarakat kecil seperti kami," Pos Kota memanfaatkan momen ini untuk memperbesar ketakutan warga. Pos Kota juga meredakannya dengan figur kepolisian yang berhasil menumpas penjahatnya.

Dan di masa Orde Baru, hal itu yang selalu terjadi. Pemerintah hadir dalam struktur kenegaraan, sebagai sosok yang memberantas kejahatan melalui praktik-praktik tidak resmi -yang anehnya tidak ditentang oleh banyak masyarakat, tentu saja karena pemerintah yang semi-militaristik, seperti: petrus. Hal yang sama juga dilakukan di masa ini, tapi bukan di Indonesia. Rodrigo Duterte memberantas narkoba di Filipina dengan main asal tembak saja.

Kita bisa melihat niak baik negara, yaitu untuk menghilangkan kekhawatiran masyarakat akan situasi nasional yang belum stabil betul. Namun, cara yang mereka lakukan adalah tidak melalui jalur hukum, mengirimkan tentara untuk menembak secara diam-diam, lalu membuang mayatnya di tengah-tengah masyarakat. Ayah saya pernah bercerita bagaimana seorang laki-laki yang masih tetangganya di Lumajang, sangat terkejut, kaget, dan -sebagaimana ditulis Pos Kota juga- shock ketika ia melihat seseorang dikubur dengan menyisakan tangannya saja di luar tanah sembari menggemnggam sejumlah uang. Di masa itu, uang itu boleh diambil, dengan menguburkan mayat itu sebegai syarat tak tertulis. Di sini, warga lokal tidak pernah tahu siapa sosok asli mayat itu, tapi dengan pasti menebaknya sebagai penjahat yang melawan pemerintah. Dalam kasus ini, masyarakat juga bisa menebak pelakunya. Pertanyaannya, siapa yang berjasa dalam membentuk prespektif itu?

Tentu saja Pos Kota.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir