Mengingat Kembali Kenangan Buruk: Darkness by Eminem


Pertama-tama, sebelum saya memulai tulisan ini, marilah kita panjatkan doa bersama-sama untuk generasi baru rapper dunia, Jarad Anthony Higgins a.k.a Juice WRLD yang mengagetkan kita -di seluruh dunia- dengan berita kematiannya di akhir tahun lalu. Tepatnya, 8 Desember 2019. Karirnya memang tidak se-fenomenal penyanyi lain, dan dia baru saja mulai bermusik. Sama seperti saya, ia juga lahir tahun 1998. Atas semua karir dan karyanya, mari kita kirimkan doa terbaik. Al-Fatihah.

Saya tidak mau menyangkal bahwa karya terbarunya bersama Em dalam Music to Be Murdered by dengan judul Godzilla adalah lagu terbaik. Lagu itu terus bertengger di daftar charts dunia, bahkan hingga saat ini, sebulan setelah rilis. Oh, ya. Album terbaru Em ini secara resmi tersedia di platform streaming seperti Spotify sejak 17 Januari. Music audionya diunggah secara berkala di YouTube. Dan Godzilla hanya tersedia dalam versi audio saja.

Salah satu lagu yang memiliki versi video hanyalah Darkness: sebuah lagu yang ditulis untuk mengenang kejadian penembakan brutal terhadap penonton konser musik di Las Vegas 2017. Em berperan sebagai Stephen Paddock, satu-satunya lelaki yang bertanggung jawab atas insiden mematikan tersebut. Ia kemudian menarasikan, apa saja hal yang kira-kira terpikirkan oleh Paddock ketika melancarkan aksinya di malam itu, awal Oktober 2017.


Terasa jahat memang, ketika Em membawa kembali kenangan buruk masyarakat tentang kejadian brutal itu. 58 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya luka-luka. Mereka berkerumun dalam suatu konser musik, tetapi malah tertembak dan mati di lokasi. Suasana bahagia yang seharusnya datang, menjadi mencekam dan mematikan.

Eminem, dalam lagu ini, mencoba menjadi lelaki itu.

Saya tidak ingin menulis ulang liriknya seperti review lagu selama ini. Saya hanya ingin bercerita bahwa apa yang dilakukan Em sama benarnya -terlepas dari kekaguman saya selama ini. Fakta masih banyak orang depresi di dunia adalah keganjilan. Tidak ada yang tahu motif asli Paddock melakukan aksi itu, tapi apa yang digambarkan Em mungkin benar: seorang lelaki paruh baya yang depresi dan tersesat dalam pekerjaannya. Ia lelah dan tak tahu apa yang hendak dilakukan. Sebuah senapan dan setumpuk peluru di tangannya. Ia tak menembak langit. Ia menembak tanah...

dan manusia.

thanks Em for write it and sing it. Your choice to being him maybe not popular opinion, but i agree with you. They must learn from this action, or your song. 

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir