Kusni Kasdut dan Bagaimana Kita Memberi Cap PKI


Kusni Kasdut adalah salah satu dari sekian banyak penjahat di Indonesia yang memiliki laman wikipedia sendiri ketika namanya diketikkan dalam mesin pencari. Sayang, kisahnya tak lengkap dan hanya memiliki satu sumber: portal berita yang tidak begitu valid. Kisahnya direproduksi kembali oleh media-media lain, untuk menggambarkan seorang penjahat lintas-zaman dan revolusioner.

Hal itu mula-mula dilakukan oleh Pos Kota, koran harian kelas bawah yang ketika seseorang didapati membacanya, maka ia akan malu-malu menyembunyikannya. Sebagai suatu media yang lahir di masa Orba, Pos Kota menyatakan netralitasnya terhadap situasi politik nasional, tapi itu adalah cara lain untuk menghindar, sehingga Pos Kota selalu menghadirkan berita-berita kriminalitas sensasional kepada kalangan bawah yang disasarnya. Dalam istilah Prancis, Pos Kota penuh fait divers. 

Dalam beberapa poin, James T. Siegel menyatakan keberatannya terhadap pemberitaan Pos Kota, seperti mengumpulkan informasi penuh dengan detail namun tidak menjelaskan motif-motif di balik angka kriminalitas itu, komunal maupun partikular. Pos Kota dengan sengaja menggambarkan Ibu Kota -sebagai representasi nasional- yang penuh dengan kejahatan. Selain itu, mereka juga dengan sengaja membentuk regulasi-regulasi yang membantu peran mereka dalam drama pembaca. Secara singkat, Siegel hendak berkata bahwa jurnalisme Pos Kota, 'berlebihan'.

Hal itulah yang kemudian menjadi sorotan penting, manakala Pos Kota secara reguler memuat pemberitaan tentang Kusni Kasdut -yang terkenal setelah mencuri perhiasan di Museum Gajah (saat ini Museum Nasional Indonesia). Kisah hidupnya diulik secata serius, begitu pula dengan problematika dan kompleksitas kehidupannya yang miskin, Setidaknya, ada empat poin yang menjadi pokok dalam kisah Kusni Kasdut, antara lain: ekonomi atau finansial yang tidak mendukung, nasab keluarga yang tidak jelas karena inses, relasi keluarga (dengan ibunya) yang buruk, situasi sosial di mana ia harus bertahan hidup sejak masa kemerdekaan hingga orde baru, dan perjalanan hidupnya yang tidak lazim. Kelima poin itu adalah komposisi lengkap untuk membuat sebuah sosok penjahat. Maka sempurnalah Kusni Kasdut: penjahat level nasional yang latar belakangnya bermasalah.

Lalu, kalau ada masyarakat atau rakyat yang identik dengan salah satu ciri tersebut, dipanggillah ia dengan sebutan Kusni Kasdut. Lebih lanjut, hal ini dinamakan 'disartikulasi', lepasnya sebuah terma dari sosok aslinya dengan negasi yang buruk. Hal itu juga yang dilakukan masyarakat -atas ajakan pemerintah secara persuasif- terhadap terma PKI, yang telah lama hilang di Indonesia hanya untuk meredam aksi-aksi kecil keadilan. Apapun bentuk kegiatannya, kalau tidak diterima dengan baik oleh pemerintah, maka akan di-cap sebagai PKI.

Secara sederhana, Pos Kota adalah corong utama pemberitaan sensasional nan bombastis yang baru-baru ini mewabah lagi, namun dengan cara yang berbeda, Kita mengenalnya sebagai clickbait. Lalu, dengan pemberitaannya seperti itu, perspektif-perspektif negatif turut terbentuk, menghadirkan keganjilan yang mewarnai masayarakat normal. Hanya ada satu pertanyaan yang saya ajukan: mengapa Siegel dengan sengaja dan sadar, membandingkan latar belakang Kusni Kasdut dengan presiden, Soekarno maupun Soeharto?

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir