Kantin Perpus dan Sekitarnya: Sebuah Observasi
Hari itu hari Jum'at. Saya duduk di selasar perpustakaan, melihat hujan yang sejak tadi turun dan belum berhenti. Demi catatan ini, saya rela menembus hujan dari Gedung UKM. Sedikit berlari dan akhirnya sampai. Sore itu, selasar perpustakaan cukup ramai. Saya duduk bersama dua orang teman dalam satu meja: salah satunya mengecek media sosial dan membalas percakapan, satu lagi sibuk bermain game ponsel yang sedang ramai: Call of Duty Mobile. Saya juga memainkannya.
Beberapa meja sudah penuh dengan mahasiswa. Di depan, empat orang mahasiswa berkumpul dan berdiskusi tentang materi kuliah, sembari membuka laptop, buku referensi dan binder untuk catatan. Di meja sebelah, sepasang laki-laki dan perempuan dengan mesra berpegangan tangan. Agak lama, kemesraan mereka meningkat: kadang mengelus rambut, mencubit pipi, hingga menopang dagu. dan dari semua keramaian ini, akan selalu ada orang yang menyendiri.
Di arah jam sepuluh, seorang perempuan sibuk dengan laptopnya. Kadangkala, ia mengecek ponsel dan tersenyum sendiri. Karena wajahnya cukup cantik, saya masih mengingat detail lainnya: kaus belang, kerudung belang, sebotol tupperware, dan kantung plastik berisi sampah digantung di mejanya. Saya cukup lama memerhatikan perempuan penyendiri itu, hingga akhirnya mengalihkan perhatian pada hal lain: hujan yang belum berhenti. Kali ini, namanya gerimis.
Di bawah langit, semuanya basah: motor, helm, hingga jas hujan yang disampirkan. Karena sudah jam empat, banyak orang-orang yang pulang dan memutuskan untuk menembus hujan. Atau mungkin terburu-buru untuk jadwal kelas.
Saya berkali-kali tidak fokus menulis. Pasalnya, teman saya yang gamer itu tidak henti-hentinya mengumpat. Nasibnya di CODM tidak terlalu bagus. Ia mengumpat dengan keras dan hampir membanting ponselnya sendiri. Saya memandang jauh ke selatan: semakin sedikit mahasiswa yang duduk di selasar. Saya berjalan-jalan dan menemukan seorang perempuan yang dengan asiknya melakukan video call. Di meja-meja lain, botol air kemasan berbaris dalam kardus, dijual dengan harga tiga ribu rupiah.
Di parkiran, seorang petugas parkir berseragam biru abu-abu berteduh di posnya. Awalnya, ia hanya berdiri dengan tangan mendekap tubuh. Tak lama kemudian, ia mengambil mantel dan memakainya. Meski hujan, ada saja mahasiswa yang tiba di parkiran tanpa mantel dan akhirnya basah kuyup. Seorang lelaki yang sejak tadi saya perhatikan kemudian lewat, dan membalas tatapan mata. Sepertinya ia sadar kalau sejak tadi diperhatikan.
Di lantai, seekor kucing oren meringkuk di belakang sejoli yang sejak tadi bermesraan itu. Matanya mengantuk, kakinya melipat ke dalam. Sepertinya ia kedinginan, tapi sudah menemukan postur yang tepat untuk menjaga kehangatan. Melihat kucing itu, saya tersadar dengan lantai selasar yang kotor: beberapa sampah plastik dan dedaunan bertebaran. Seharusnya, ada petugas kebersihan yang dengan rutin menyapu, tapi mungkin mereka sudah pulang, dan kembali esok pagi.
Atau esok Senin.
Karena terbiasa berangkat kuliah pagi, saya jadi tahu bagaimana petugas kebersihan kampus -tidak hanya perpus, tetapi juga di GRL atau di fakultas manapun- sudah datang sejak jam enam dan bekerja. Tiba-tiba saja saya tersentak. Teman di hadapan saya bersorak. Ia mengganti kalimat kotor dengan ucapan syukur, lalu berkali-kali berteriak, "Comeback! Comback!" Sepertinya ia menang dan bisa membalikkan keadaan yang pada mulanya kalah. Tapi ia belum MVP -pemain terbaik.
Suasana semakin gelap, lampu taman yang berjajar di depanjang jalan kampus berkedip-kedip, seolah-olah ragu hendak menyala. Warnanya memang kuning dan bentuknya bulat, tapi sepertinya cukup untuk memberikan penerangan di jalan kampus yang ramai.
Dahulu, di semester pertama saya menjalani kehidupan kampus, saya dan beberapa teman pernah meneliti tentan kelompok wibu -pecinta jejepangan- yang bermarkas di persimpangan selasar perpusatakaan sebelah barat. Kini, saya mendengar suara mereka meneriakkan ekspresi berbahasa Jepang, sembari menirukan tokoh yang tidak nyata. Seorang lelaki gemuk berkaus putih dan bercelana pendek -saya tidak tahu di mana pakaian resminya untuk masuk kelas, saya menduganya digantung di suatu tempat dekat situ- menghampiri temannya satu demi satu.
Biasanya, kelompok wibu ini menghabiskan waktu dengan menonton anime dan bermain game di laptop. Saya mengintip salah satunya, dan melihat bagaimana game yang ia mainkan sangat interaktif dan penuh warna.
Malamnya, setelah kelas pengganti teori sosial, saya datang lagi ke selasar perpustkaan. Seorang teman menemani saya, lalu dua orang teman lain datang dan ikut berbincang. Bangku dan meja terlihat basah, airnya merupakan sisa hujan sejak sore. Jam menunjukkan pukul setengah sembilan, dan selasar perpustakaan menyisakan kesepian. Di ujung selatan, sepasang laki-laki dan perempuan berdiskusi di hadapan tumpukan kertas. Di atas meja mereka, terlihat sekotak susu kemasan dan segelas minuman. Itu semacam kopi-kopian yang nge-trend sekarang.
Tak lama. kami melihat beberapa adik tingkat kami di antropoogi datang. Mereka berkumpul di ujung perpus, beridir di sekita tiang. Rupanya, mereka hendak mengamen. Mereka berbaris di tengah-tengah selasar dan mengucapkan salam. Salah seorang dari mereka, laki-laki memegang gitar menjelaskan niat mereka. Dan mereka mulai bernyanyi. Lagunya adalah lagu populer yang tidak saya sukai.
Kapan terkahir kali kamu dapat tertidur tenang?
Tak perlu memikirkan apa yang akan datang
Di esok hari
Tubuh yang berpatah hati
Bergantung pada janji
Berlomba jadi asri
Mengais validasi
Anak-anak itu kurang persiapan. Di awal, mereka bernyanyi dengan lantang, lalu semakin lama suara mereka semakin menurun. Seorang anak berpostur cukup tinggi datang dengan kantung kain, meminta kami berempat sumbangan seikhlasnya. Saya mengecek tas dan mengeluarkan uang pecahan dua ribu rupiah. Teman-teman saya yang lebih baik hati mengeluarkan nominal yang lebih besar. Kalau ditotal, mungkin lebih dari sepuluh ribu. Untuk mereka, mungkin ini sudah cukup banyak, apalagi baru satu lagu.
Setelah mereka berpaling, pergi menuju tempat lain yang mungkin lebih ramai, kami melanjutkan obrolan tentang kuliah dan kehidupan sehari-hari. Saya mencoba fokus memperhatikan sekeliling, namun tak bisa dan akhirnya ikut juga dalam perbincangan. Beberapa teman menilai review artikel jurnal yang saya tulis untuk mata kuliah antropologi media tepat dan sesuai dengan pemikiran dosen, lalu meminta saya mengajarkan mereka bagaimana cara menulis review. Tentu saja saya menolak: tulisan saya jauh dari kata tepat, bahkan sempurna sekalipun.
Seekor kucing abu-abu mendatangi kami, lalu saya menggendongnya untuk ditaruh di atas meja. kami sempat berbincang tentang kucing oren yang ikut difoto dalam akun BEM FISIP UI. Perbincangan itu juga mengarah pada 'di-blurnya' foto-foto perempuan dalam akun-akun instagram rohis di beberapa kampus.
Setelah setengah jam, saya memutuskan pulang. Saya berpamitan dengan teman-teman.
*****
Di hari Sabtu, saya kembali lagi ke kampus.
Kantin akademik halalan thoyyiban memang tutup di akhir pekan, tapi saya tetap datang untuk melakukan observasi di sekitarnya: selasar perpustakaan bagian barat. Yang tidak disangka, kampus begitu ramai di hari Sabtu. Sejak memasuki kampus melalui gerbang Fakultas Peternakan, saya sudah melihat beberapa rombongan keluarga dengan seorang wisudawan di tengah-tengahnya, mengambil foto terbaik di sekitar fakultas. Pemandangan yang sama saya temui juga di Fakultas Ilmu Budaya. Hingga, saya sampai di selasar perpustakaan, beberapa wisudawan masih bisa ditemui di beberapa titik.
Seorang laki-laki pengendara Viar berhenti di selatan, memarkirkan kendaraannya dan membuka pintu kantin. Sepertinya lelaki itu karyawan, tapi tanpa seragam. Kampus boleh saja ramai, tapi saya masih mendapat tempat. Saya duduk menghadap selatan. Di depan saya, tiga orang perempuan dan seorang laki-laki tampak sedang belajar. Pakaian mereka cukup terang, antara merah dan hitam. Di sebelah kiri, seorang laki-laki penyendiri sibuk dengan laptopnya. Pakaiannya santai, seperti baru saja berolahraga, tapi tanpa keringat: kaus kuning dan celana training. Ia juga memakai sandal. Siapa pun yang pergi ke kampus pada akhri pekan, menggunakan sandal. Kecuali -tentu saja- wisudawan.
Di arah jam tujuh, seorang laki-laki dan permpuan sibuk dengan ponsel masing-masing. Saya hendak menerka umur mereka dari wajah, tapi rasanya mereka berdua masih mahasiswa tingkat sarjana. Jauh di belakang, arah jam enam, segerombol laki-laki mengobrol dengan kencang. Salah seorang dari mereka baru saja menyelesaikan prosesi wisuda dan masih mengenakan kebaya. Karena satu meja dan dua bangku hanya muat untuk empat orang, sebagian dari mereka duduk di pagar, menutupi tanaman-tanaman hijau yang basah karena gerimis.
Pasangan mahasiswa yang baru saja kusebut beranjak dari tempatnya. Sang lelaki berdiri, menunggu sang perempuan merapikan laptop. Setelah mereka pergi, saya baru sadar mereka meninggalkan sampah: dua gelas plastik dan sedotannya. Seorang laki-laki berjaket hitam datang menggantikan mereka. Ia menaruh helm di atas meja, lalu mengantarkan sampah itu menuju beberapa tong sampah yang bertumpuk di depan pintu kantin.
Di awal-awal kedatangannya, ia menelepon seseorang. Suara hujan semakin deras. Pasangan lain datang untuk berteduh, lalu mengambil tempat di meja ujung selatan. Keduanya membawa helm, masing-masing diletakkan di atas meja dan bangku. Sebenarnya, ada seorang perempuan lain yang hendak duduk di sana, melihat meja lain sudah penuh ditempati. Sayang, dia terlambat beberapa langkah. Ia akhirnya pergi. Sosoknya menghilang di balik tiang.
Hujan semain deras dan suaranya semakin ramai. Dua orang perempuan mengambil motor yang mereka parkir. Salah satunya membuka jok dan mengeluarkan mantel. Beberapa hari terakhir, hujan memang turun secara rutin dan saya mencoba untuk memperhatikan keindahan yang ditampakkannya: aroma tanah menguar, genangan-genangan tipis di atas paving, dedaunan anggrek yang menjulur dari pohon palem dan langit abu-abu.
Suasana tidak terlalu gelap -seseorang menyalakan lampu yang saklarnya terpasang di tiang paling ujung. Yang lucu, meskipun tutup, tulisan "Kantin Akademik Halalan Thoyyiban" tetap menyala. Rintik hujan membasahinya. Decik air satu per satu itu terasa menenagkan ketika terdengar.
Saat memperhatikan hujan itulah, seorang perempuan paruh baya datang. Ia membawa wadah plastik bening berisi jajanan pasar. Ia menawarkan berbagai macam kue, tapi tidak ada gorengan yang lebih biasanya saya sukai. Setelah melihat-lihat, saya memutuskan untuk membeli dua buah kucur, harganya lima ribu rupiah. Perempuan itu berpakaian serba putih, tetapi dibalut dengan jaket biru. Setelah menawarkan jajanannya kesana kemari, ia pergi ke ujung selasar, menembus hujan ke arah lain yang tidak lagi tampak.
Sebagaimana hujan yang telah berhenti, orang-orang saling berganti. Sekelompok mahasiswa datang, sekelompok lain pergi. Seorang lelaki duduk, pasangan yang lain beranjak. Salah seorang pengendara motor datang, lalu menempati meja-meja yang kosong. Salah satunya, adalah meja yang saya tinggalkan setelah selesai menulis ini.
*****
Hari Minggu. Saya berjalan kaki dari kos menuju kampus tepat setelah duhur. Ketika tiba, yang saya dapati adalah meja-meja di selasar perpustakaan penuh dengan mahasiswa. Dan saya, tidak kebagian meja. Saya berkeliling dan menemukan seorang laki-laki berjaket abu-abu sedang berfokus pada laptop acer berwarna sama. Saya meminta izin untuk duduk di hadapannya dan ia mempersilahkan. Saya membuka laptop dan mengeluarkan buku catatan ini, lalu mulai menulis.
Selasar perpustakaan adalah tempat yang monoton. Suasananya cenderung gelap -entah karena mendung atau tidak- dan kegiatan yang selalu sama. Semua orang sibuk pada aktifitasnya masing-masing dan berinteraksi melalui alat elektronik: ponsel, laptop. Beberapa orang yang ingin lebih fokus bahkan memasang earphone. Laki-laki di hadapan saya memakai headset, sebelum saya duduk bersamanya satu meja.
Di utara, beberapa perempuan berbicara dengan lantang, tertawa dan berdiskusi tentang tugas yang mereka kerjakan. Ketika saya lewat, saya mendengar pembicaraan mereka dan sedikit tahu bahwa mereka juga dari FIB. Di hari minggu, suasana kampus memang agak sepi: suara yang sedikit keras dari pembicaraan-pembicaraan kecil mudah sekli terdengar.
Saya lagi-lagi menghadap ke selatan. Di arah jam empat, seorang orang laki-laki berbincang tentang metode wawancara . Lawan bicaranya dengan asik menggambar di atas layar tablet. Apakah di abenar-benar menggambar? Bisa jadi. Apakah dia mahasiswa seni rupa? Saya tak mau menebak.
Selain motor, ternyata ada pula sepeda kayuh yang diparkir. Dari Selatan, beberapa mahasiswi melewati meja saya. Tampaknya mereka mahasiswi Prodi Fisika. Huruf F merah dari jaket -yang desainnya terlihat usang itu- biru mencolok sekali. Saya punya seorang teman yang menggunakan jaket yang serupa. Dan ia memang dari Fisika.
Dari depan MIPA, beberapa mahasiswa lain turun dari angkot biru. Mungkin mereka baru saja pulang dari agenda akhir pekan organisasi jurusan yang diagendakan senior. Awal-awal semester memang selalu begitu. BEM FIB mengadakan diklat, begitu pula dengan UKM tingkat universitas yang saya ikuti. Semua organisasi berlomba-lomba mengkader anggota. Orang-orang apatis seperti saya selalu berakhir di perpustakaan atau -paling buruk- rebahan di atas kasur. Menyendiri bersama buku atau tugas, lalu mulai bersosialisasi menjelang UAS.
Tepat di meja belakang, seorang wanita paruh baya menghadap langit-langit. Ia tidak sibuk dengan ponsel dan hanya mengkhayal sembari mengerak-gerakkan kedua kaki. Pakaiannya sederhana: batik putih dan rok biru. Entah apa yang ditunggunya. Entah apa yang hendak dilakukannya. Tak lama setelah itu, muncul empat orang gadis yang bingung karena tidak mendapat meja. Maka duduklah mereka di antara wanita paruh baya itu.
Jauh di belakang, perbincangan terkadang menjadi semakin keras. Topik yang mereka perbincangkan adalah persaingan siswa SMA dalam memasuki perguruan tinggi favorit. Lalu tersebutlah nama-nama kampus besar: UI, Undip, UGM, ITB, dan lain sebagainya. Tak lupa pula ia -seorang laki-laki penuh kepercayaan diri dalam kelompok itu- menceritakan pengalaman kerabat atau saudaranya agar dapat membuat lawan bicara yakin padanya. Di akhir, ia memberikan kesimpulan dan nasihat yang ia punya.
Padahal ia sendiri berakhir di sini.
Seorang laki-laki datang. Ah, bukan. Seharusnya ia lebih dikenal dengan panggilan Mas Mantan. Ia adalah pedagang keliling yang menjajakan makanan dengan cara merayu pelanggan menggunakan kalimat-kalimat cinta a la anak muda. Ia sempat terkenal. Di masa jayanya, ia pernah diundang dalam Hitam Putih, program talkshow yang dipandu oleh mantan pesulap Deddy Corbuzier. Saat ini, pamornya memang meredup. Tapi hal itu tidak menyurutkan langkahnya berkeliling kampus menjajakan dagangan.
Ketika melangkah ke arahku, ia mengeluh. Bagaimana tidak, mendung yang sejak tadi menggantung tiba-tiba saja menurunkan hujan. Amat deras. Selain ramai, suasana kampus jadi terlihat memutih: bulir-bulir hujan turun dengan cepat, lalu menjadi cipratan dan genangan, tidak mengalir atau diserap tanah. Lalu, dari balik hujan yang deras itu, aku melihat seorang adik tingkat datang. Ah, ia juga baru pulang. Dari diklat rohis kampus yang dinamakan Daurah Tarqiyah.
Tak lama, azan berkumandang dan hujan mulai mereda. Mata saya terasa lelah di hadapan laptop dan catatan, lalu memutuskan untuk pergi ke masjid. Sebelum pergi, saya berpamitan pada laki-laki yang satu meja dengan saya itu: ia masih saja fokus pada laptopnya dan terkadang tertawa sendiri.
Pasangan mahasiswa yang baru saja kusebut beranjak dari tempatnya. Sang lelaki berdiri, menunggu sang perempuan merapikan laptop. Setelah mereka pergi, saya baru sadar mereka meninggalkan sampah: dua gelas plastik dan sedotannya. Seorang laki-laki berjaket hitam datang menggantikan mereka. Ia menaruh helm di atas meja, lalu mengantarkan sampah itu menuju beberapa tong sampah yang bertumpuk di depan pintu kantin.
Di awal-awal kedatangannya, ia menelepon seseorang. Suara hujan semakin deras. Pasangan lain datang untuk berteduh, lalu mengambil tempat di meja ujung selatan. Keduanya membawa helm, masing-masing diletakkan di atas meja dan bangku. Sebenarnya, ada seorang perempuan lain yang hendak duduk di sana, melihat meja lain sudah penuh ditempati. Sayang, dia terlambat beberapa langkah. Ia akhirnya pergi. Sosoknya menghilang di balik tiang.
Hujan semain deras dan suaranya semakin ramai. Dua orang perempuan mengambil motor yang mereka parkir. Salah satunya membuka jok dan mengeluarkan mantel. Beberapa hari terakhir, hujan memang turun secara rutin dan saya mencoba untuk memperhatikan keindahan yang ditampakkannya: aroma tanah menguar, genangan-genangan tipis di atas paving, dedaunan anggrek yang menjulur dari pohon palem dan langit abu-abu.
Suasana tidak terlalu gelap -seseorang menyalakan lampu yang saklarnya terpasang di tiang paling ujung. Yang lucu, meskipun tutup, tulisan "Kantin Akademik Halalan Thoyyiban" tetap menyala. Rintik hujan membasahinya. Decik air satu per satu itu terasa menenagkan ketika terdengar.
Saat memperhatikan hujan itulah, seorang perempuan paruh baya datang. Ia membawa wadah plastik bening berisi jajanan pasar. Ia menawarkan berbagai macam kue, tapi tidak ada gorengan yang lebih biasanya saya sukai. Setelah melihat-lihat, saya memutuskan untuk membeli dua buah kucur, harganya lima ribu rupiah. Perempuan itu berpakaian serba putih, tetapi dibalut dengan jaket biru. Setelah menawarkan jajanannya kesana kemari, ia pergi ke ujung selasar, menembus hujan ke arah lain yang tidak lagi tampak.
Sebagaimana hujan yang telah berhenti, orang-orang saling berganti. Sekelompok mahasiswa datang, sekelompok lain pergi. Seorang lelaki duduk, pasangan yang lain beranjak. Salah seorang pengendara motor datang, lalu menempati meja-meja yang kosong. Salah satunya, adalah meja yang saya tinggalkan setelah selesai menulis ini.
*****
Hari Minggu. Saya berjalan kaki dari kos menuju kampus tepat setelah duhur. Ketika tiba, yang saya dapati adalah meja-meja di selasar perpustakaan penuh dengan mahasiswa. Dan saya, tidak kebagian meja. Saya berkeliling dan menemukan seorang laki-laki berjaket abu-abu sedang berfokus pada laptop acer berwarna sama. Saya meminta izin untuk duduk di hadapannya dan ia mempersilahkan. Saya membuka laptop dan mengeluarkan buku catatan ini, lalu mulai menulis.
Selasar perpustakaan adalah tempat yang monoton. Suasananya cenderung gelap -entah karena mendung atau tidak- dan kegiatan yang selalu sama. Semua orang sibuk pada aktifitasnya masing-masing dan berinteraksi melalui alat elektronik: ponsel, laptop. Beberapa orang yang ingin lebih fokus bahkan memasang earphone. Laki-laki di hadapan saya memakai headset, sebelum saya duduk bersamanya satu meja.
Di utara, beberapa perempuan berbicara dengan lantang, tertawa dan berdiskusi tentang tugas yang mereka kerjakan. Ketika saya lewat, saya mendengar pembicaraan mereka dan sedikit tahu bahwa mereka juga dari FIB. Di hari minggu, suasana kampus memang agak sepi: suara yang sedikit keras dari pembicaraan-pembicaraan kecil mudah sekli terdengar.
Saya lagi-lagi menghadap ke selatan. Di arah jam empat, seorang orang laki-laki berbincang tentang metode wawancara . Lawan bicaranya dengan asik menggambar di atas layar tablet. Apakah di abenar-benar menggambar? Bisa jadi. Apakah dia mahasiswa seni rupa? Saya tak mau menebak.
Selain motor, ternyata ada pula sepeda kayuh yang diparkir. Dari Selatan, beberapa mahasiswi melewati meja saya. Tampaknya mereka mahasiswi Prodi Fisika. Huruf F merah dari jaket -yang desainnya terlihat usang itu- biru mencolok sekali. Saya punya seorang teman yang menggunakan jaket yang serupa. Dan ia memang dari Fisika.
Dari depan MIPA, beberapa mahasiswa lain turun dari angkot biru. Mungkin mereka baru saja pulang dari agenda akhir pekan organisasi jurusan yang diagendakan senior. Awal-awal semester memang selalu begitu. BEM FIB mengadakan diklat, begitu pula dengan UKM tingkat universitas yang saya ikuti. Semua organisasi berlomba-lomba mengkader anggota. Orang-orang apatis seperti saya selalu berakhir di perpustakaan atau -paling buruk- rebahan di atas kasur. Menyendiri bersama buku atau tugas, lalu mulai bersosialisasi menjelang UAS.
Tepat di meja belakang, seorang wanita paruh baya menghadap langit-langit. Ia tidak sibuk dengan ponsel dan hanya mengkhayal sembari mengerak-gerakkan kedua kaki. Pakaiannya sederhana: batik putih dan rok biru. Entah apa yang ditunggunya. Entah apa yang hendak dilakukannya. Tak lama setelah itu, muncul empat orang gadis yang bingung karena tidak mendapat meja. Maka duduklah mereka di antara wanita paruh baya itu.
Jauh di belakang, perbincangan terkadang menjadi semakin keras. Topik yang mereka perbincangkan adalah persaingan siswa SMA dalam memasuki perguruan tinggi favorit. Lalu tersebutlah nama-nama kampus besar: UI, Undip, UGM, ITB, dan lain sebagainya. Tak lupa pula ia -seorang laki-laki penuh kepercayaan diri dalam kelompok itu- menceritakan pengalaman kerabat atau saudaranya agar dapat membuat lawan bicara yakin padanya. Di akhir, ia memberikan kesimpulan dan nasihat yang ia punya.
Padahal ia sendiri berakhir di sini.
Seorang laki-laki datang. Ah, bukan. Seharusnya ia lebih dikenal dengan panggilan Mas Mantan. Ia adalah pedagang keliling yang menjajakan makanan dengan cara merayu pelanggan menggunakan kalimat-kalimat cinta a la anak muda. Ia sempat terkenal. Di masa jayanya, ia pernah diundang dalam Hitam Putih, program talkshow yang dipandu oleh mantan pesulap Deddy Corbuzier. Saat ini, pamornya memang meredup. Tapi hal itu tidak menyurutkan langkahnya berkeliling kampus menjajakan dagangan.
Ketika melangkah ke arahku, ia mengeluh. Bagaimana tidak, mendung yang sejak tadi menggantung tiba-tiba saja menurunkan hujan. Amat deras. Selain ramai, suasana kampus jadi terlihat memutih: bulir-bulir hujan turun dengan cepat, lalu menjadi cipratan dan genangan, tidak mengalir atau diserap tanah. Lalu, dari balik hujan yang deras itu, aku melihat seorang adik tingkat datang. Ah, ia juga baru pulang. Dari diklat rohis kampus yang dinamakan Daurah Tarqiyah.
Tak lama, azan berkumandang dan hujan mulai mereda. Mata saya terasa lelah di hadapan laptop dan catatan, lalu memutuskan untuk pergi ke masjid. Sebelum pergi, saya berpamitan pada laki-laki yang satu meja dengan saya itu: ia masih saja fokus pada laptopnya dan terkadang tertawa sendiri.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?