Jauh-Jauh ke Ganding, Untuk Seorang Teman
Awalnya, saya tidak menanggapi secara serius gambar yang dikirim di grup angkatan itu.
Namun, pada suatu waktu, ketika kami -teman-teman alumni
pondok yang berkuliah di Malang- berkumpul, saya baru tahu kalua gambar itu
adalah undangan resmi. Tertulis di atasnya, nama teman saya Muqsith dan Fatim,
nama perempuan yang menjadi pasangannya. Maka, berjanjilah saya dan teman-teman
untuk menghadiri undangan tersebut: Muqsith menikah! Akadnya sudah lama
dilakukan tanpa sepengetahuan kami teman-temannya. Lalu dibuatlah undangan
dengan desain asal-asalan a la internet atau aplikasi desain sederhana.
Saya bersama Eric, salah satu teman paling dekat dan awet
sejak zaman mondok, berangkat dari Malang pukul enam. Tepatnya, pukul tujuh
pagi karena kami harus kebingungan mencari satu sama lain yang tersesat di
belantara bis Terminal Arjosari. Sekitar pukul tujuh, bis yang kami tumpangi
berangkat dan mengantarkan kami ke Bungurasih. Sepanjang perjalanan, saya dan
Eric tak henti-hentinya berkelakar tentang teman-teman pondok: siapa yang akan
datang, siapa yang tidak mungkin datang, dan siapa yang sudah lama tidak
ditemukan kabarnya. Setiap kali kami bertemu, lawakan Eric selalu sama. Namun,
karena kerinduan kami terhadap suasana pondok membuat lawakan itu selalu diterima.
Hanya butuh waktu satu jam untuk sampai di Bungurasih. Saya
menyempatkan diri untuk membeli pulsa yang kemudian saya konversikan menjadi
paketan. Kami mencari bis jurusan Madura dan membayar 30 ribu rupiah hanya
untuk menyeberangi Suramadu dan berhenti di Tangkel! Karena heran, saya
bertanya pada kondektur berapa harga yang harus saya bayarkan jika saya ke
Sumenep. “Enam puluh, Mas.” Lah? Jarak gak sampe setengahnya aja dapet setengah
harga? Saya mengumpat dalam hati, tidak percaya dengan harga mahal yang
ditetapkan.
Rencananya, di Tangkel, seorang teman yang sedang libur
semester akan menjemput kami dengan mobil dan membawa kami ke pondok. Sepanjang
perjalanan bis kedua ini, Erik tertidur dan saya yang terjaga. Yafie, teman
kami yang hendak menjemput kami dengan mobil itu akhirnya menelepon saya,
bertanya kami sudah sampai di mana. “Udah lewat Suramadu, Fie. Tapi belum sampe
Tangkel.” Saya melihat lingkungan sekitar, berusaha memastikan kami belum
melewati Tangkel. Yafie mengingatkan saya untuk segera memberitahunya jika
sudah sampai.
Dan tentu saja. Sesampainya kami di pondok, kamar pojok -di lain waktu disebut Musholla Al-Ikhlas- penuh dengan teman seangkatan. Tidak semua memang, tapi cukup untuk membuat kamar menjadi penuh sesak dan terasa sangat panas. Saya menyalami satu per satu teman, yang dengan menjengkelkan menyebut saya semakin gemuk. Saya hampir saja tidak peduli: mengapa semua orang peduli dengan fisik? Saya tidak merasa tersinggung. Tapi bisakah hal lain saja yang dipedulikan.
Contohnya: udah punya pacar belum? Saya akan lebih senang jika hal itu ditanyakan.
Tak perlu waktu lama, untuk kemudian membawa kami semua pada tujuan semula: resepsi Muqsith. Pada awalnya, saya berpikir ini akan menjadi resepsi besar. Namun, di tengah perjalanan, saya mendengar kabar bahwa resepsi akan dilaksanakan esok harinya, dan acara yang dilakukan hari ini bersama kami adalah undangan terbatas untuk teman-teman pondoknya, angkatan kami. Dari kamar, kami menyiapkan amplop berisi uang. Sampai di sana, kami merahasiakannya dari tuan rumah.
Apa daya, Muqsith menolak untuk menerima itu. Maka kami pun mengumpulkannya secara diam-diam, lalu memberikannya sebelum pamit. Sepanjang acara itu, kami hanya temu kangen dengan sesama teman yang lama tidak dijumpai.Terakhir kali saya ke pondok dan bertemu dengan wajah-wajah serupa, adalah awal tahun lalu, manakala saya memutuskan untuk menghabiskan waktu selama dua minggu di pondok. Sejak itu, baru kali itulah saya kembali. Tanpa alasan serupa, saya mungkin tak kembali.
Dalam ruangan mirip musholla itu, kami disuguhi makanan ringan dan secangkir kopi. Tak terlalu hangat memang, seperti hujan di luar. Tapi cukup manis untuk orang yang tidak menikmati kopi seperti saya. Sayang, karena berkumpul dengan teman-teman perokok, saya tidak bisa menghindar dari perihnya mata dan telinga. Setelah itu, tuan rumah menjami kami dengan makan berat -kabarnya Muqsith menyembelih seekor sapi untuk acara ini. Itu adalah jamuan terakhir. Maka setelah itu, kami berfoto bersama.
Cukup banyak keseruan yang kami habiskan sore itu. Sebenarnya, Muqsith juga mengundang kami untuk datang dalam resepsi yang sesungguhnya di Pamekasan -tempat tinggal istrinya- setelah sholat Jum'at. Namun, kami terlambat. Acara diadakan lebih cepat dan ketika kami hendak pergi, resepsi kedua hendak dilaksakan di rumahnya. Hal itu merupakan tradisi, di mana resepsi diadakan dua kali di rumah masing-masing mempelai. Karena tidak jadi, saya sendiri memutuskan untuk pulang.
*****
Setelah pulang dari rumah Muqsith -hari itu adalah pertama kali saya berkunjung, sebelumnya tidak pernah- kami dikomando ketua shof untuk menginap di Guest House, bukan di kamar pojok. Alasannya, saat ini kyai sudah cukup sering daur (berkeliling, bahasa Arab) dan kalau ketahuan, teman kami yang masih mengabdi di pondok akan kena getahnya. Dalam kacamata pondok, alumni-alumni baru lulus macam kami ini adalah penduduk ilegal. Maka, sebagaimana imigran ilegal, sudah seharusnya untuk diusir.
Kami mengobrol cukup banyak, karena ini adalah tahun kedua kami berpisah setelah sekian lama. Juli lalu, teman-teman memang mengagendakan reuni tidak resmi ke Pantai Asmara, Malang. Sayang, saat itu saya sedang berbaring di kasur rumah sakit, tidak bisa bergerak bebas karena baru saja selesai dioperasi. Tak hanya mengobrol, kami juga berdebat. Sayangnya, perdebatan kami tak cukup bagus: teman yang diangkat adalah cinta, hal abstrak, dan argumennya dibangun dengan persepsi, bukan fakta. Perdebatan itu tak berjalan cukup lama, saya sudah menduga orang-orang akan bosan dengan topik cinta, kalau hal itu dibungkus seolah-olah ilmiah.
Malamnya, teman-teman mengajak untuk ngopi di Aeng Panas, namun, karena saya tidak terlalu suka kopi, saya menolaknya. Saya akhirnya menghabiskan malam itu bertamu ke Koramil, kediaman Pak Salam, kerabat yang saya panggil pakde. Terakhir kali saya mengunjungi keluarganya, hampir setahun yang lalu, di waktu yang sama ketika saya 'mondok' lagi selama dua minggu itu. Tidak banyak perubahan yang terjadi, dan kabar-kabar kami masih sama saja meski tahun sudah berganti.
*****
Masih banyak yang ingin saya ceritakan, namun apa daya, saya tidak mengingat semua hal yang bisa saya ingat. Saya hanya merasa, pertemanan kami akan semakin kuat, jika kami rutin bertemu meskipun setahun sekali. Saya tidak berharap semua orang datang. Saya sudah bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang yang sulit ditemui. Terimakasih untuk dua hari itu.


Kisah yang menggoreskan rasa rindu akan masa dan suasana ituπππ
BalasHapusTor sudah punya pacar belum? π€πππ
BalasHapussudah dad. Kapan-kapan saya kenalin
HapusHaduh baru mau nanyain ini
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapuskomen aja yang lain qy
Hapus