Hidup Sehat a la Apa Pun: National Geographic Januari 2020


Salah satu rasa syukur saya di awal tahun 2020 adalah tidak naiknya harga majalah ini. Berdasarkan pengalaman saya sepanjang SMP hingga SMA, NatGeo versi majalah selalu naik 5 ribu: dulu sekali, saya membelinya dengan harga 45 ribu. Tahun ini, harganya tetap 60 ribu. Untuk itu, saya masih berlangganan, meskipun secara konvensional: setiap pertengahan bulan, saya akan pergi ke Matos, langsung menuju rak majalah di Gramedia, lalu pulang. Begitu terus hingga saya bosan. Haha.

Bulan ini, tema yang diangkat adalah kesehatan. Covernya menunjukkan seorang lelaki yang sedang mempraktikkan salah satu gerakan yoga, praktik senam kuno yang hingga kini belum divalidasi kemanjurannya, namun diakui berefek positif terhadap siapa pun yang mempraktikkannya. Bahasan utama yang ditulis oleh Fran Smith ini menunjukkan bagaimana yoga, sebagai sebuah olahraga dan olahjiwa, mengubah serta memengaruhi masyarakat.

Bagaimana tidak? Yoga bahkan menjadi salah satu alternatif sanksi bagi penjahat yang tidak mau berlama-lama di penjara. Yoga juga masuk dalam institusi-institusi pemerintahan, tidak hanya institusi kesehatan yang lebih dulu memperkenalkannya sebagai alternatif. Yoga tidak menjadi praktik penyembuhan optimal: para pemeluknya meyakini hal ini sebagai pencegah stress, penyakit kronis, dan pengurang tekanan. Bagaimana pun hasilnya, yoga secara pasti sudah melakukan yang terbaik.

Tak hanya yoga, studi kesehatan lain yang juga dibahas adalah nyeri (Pain), rasa sakit yang hingga kini belum dipastikan sebagai suatu penyakit tersendiri, melainkan efek dari penyakit utama lain. Yudhijit Bhattacharjee dengan gamblang bercerita bagaimana, "Nyeri adalah masalah yang disepelekan oleh profesi medis -secara signifikan karena tidak ada intervensi yang aman dan efektif." sebagaimana diungkap Clifford Woolf, seorang ahli neurobiologi. Meski begitu, upaya untuk mendeteksi nyeri sebagai penyakit tersendiri masih terus dilakukan, terutama untuk mengurangi penderit manusia secara umum.

Sebelum lebih jauh berbicara tentang pengobatan, mari kita tengok dulu bagaimana orang-orang dapat hidup sehat hingga umur seratus tahun. Hal itu diungkap Dan Buettner tentang The Blue Zones, wilayah orang-orang yang hidup sehat hingga umur ratusan, di antaranya: Sardinia di Italia, Nicoya di Kostarika, Okinawa di Jepang, dan Loma Linda di California. Resepnya, secara singkat, sangat sederhana. Hanya anda perlu mengurangi konsumsi daging atau pun bahan hewani lain, dan lebih sering berjalan kaki. Mudah, bukan?

Sulit.

Tahukah anda bahwa salah satu spesies yang menghuni manusia adalah mikroba? Ya. Baik di dalam maupun di luar tubuh manusia, ada lebih dari puluhan triliun mikroba bersarang: dari ujung kepala hingga ujung kaki, dari mulut hingga anus. Semuanya berperan penting dalam kehidupan sehari-hari: mengatur fungsi tubuh, mempengaruhi suasana hati, hingga hal-hal sepela lainnya. Robin Marants Henig menjelaskan itu semua, sejak masa kecil hingga dewasa, bagaimana kompleksitas mikroba membuat kita bersyukur akan kehidupan.

Selain tema kesehatan, sajian utama di awal NatGeo kali ini adalah feature penjelajahan mencari badak Jawa yang spesiesnya tinggal tujuh puluhan di seluruh dunia. Gita Alvernita Andre dan David Herman Jaya berkisah bagaimana mereka berdua menelusuri hutan rimba di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, dan selama berhari-hari tidak dapat bertemu satu ekor pun fauna terancam ini. Penantian panjang berbuah manis: ketika frustasi mencapai puncaknya, Tuhan mempertemukan mereka dengan seekor badak yang rela didokumentasi.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir