"Halo? Lah, Kok Nangis?"


"Makanya, perempuan itu gampang nangis."

Begitu ucap dosen kami, Bu Zurin, yang memberikan pengantar untuk mata kuliah antropologi kesehatan dan menjelaskan beberapa jawaban atas pertanyaan yang diajukan teman-teman. Konon, perempuan lebih mudah menangis sebagai bagian dari mekanisme pengontrolan emosi dan stress. Oleh karena itu, orang yang jarang atau sulit menangis ketika mendapat masalah, malah lebih berbahaya: ketika tekanan yang ia dapatkan terus dipendam, maka akan menjadi ledakan di akhirnya.

Mata saya menghadap langit-langit, mencoba mengingat kembali kejadian beberapa hari yang lalu ketika dia menelepon. Saya, yang saat itu sibuk dengan salah satu artikel menarik di jurnal SNK, mengangkat panggilan itu dan meletakkannya di samping laptop. Kunyalakan mode speaker, agar terdengar apa yang hendak ia beicarakan.

Namun, beberapa detik berlalu, tidak ada suara. Akhirnya saya memutuskan untuk menjeda musik dari YouTube, dan mengeraskan volume handphone. Mata saya masih fokus pada jurnal, yang tak lama kemudian malah menampilkan angka-angka dan tabel.

Terdengar suara tangis. Benar-benar suara tangis.

Di seberang sana, ia sesenggukan, lalu menangis dengan teriak yang cukup kencang. Saya gelagapan ketika kaget, lalu mengontrol agar volumenya mengecil. Kali ini, tangisnya agak menurun.

Berkali-kali saya bertanya, "Ada apa?" Tapi tidak ada jawaban dari seberang kecuali hanya tangisan panjang. Tak habis ide, saya memanggil namanya, nama lengkapnya, hingga nama kecil yang lebih ia sukai. Namun, tetap tidak ada jawaban. Tangisan itu cukup panjang hingga durasi telepon kami mencapai lima menit. Saya sempat kembali melihat laptop, men-scroll down jurnal untuk melihat judul lain. Ketika hendak memanggil namanya lagi, telepon itu sudah ditutup.

Setelah kelas itu, saya mencoba bertanya pada teman-teman perempuan tentang pernyataan itu. "Emang bener cewek gampang nangis?" Seorang teman urakan tidak bisa menjawab, ia mengaku tidak bisa menangis bahkan ketika menonton film sedih sekalipun. Dua orang teman lain baru bisa menjelaskan. "Emang, Rid. Kalau ada masalah hati, atau pikiran, gampang nangis. Tapi kalau fisik kayak jatuh atau semacamnya, saya gak nangis."

Teman lain bahkan sangat mudah hanya karena mengingat kata-kata kasar yang sangat menyakiti hatinya sejak semester satu di bangku kuliah dan itu diucapkan oleh teman sendiri. Saya tidak mau bertanya siapa: barangkali itu saya. Tapi kemampuan saya berkata kasar baru berkembang belakangan. Semester satu saya masih mencoba mengulang hafalan di tengah-tengah kesibukan ospek tidak guna dan lain sebagainya.

Jujur saja, saya merasa bersalah mengabaikan tangisan itu tanpa niat. Saya benar-benar keasikan belajar hingga melupakan telepon itu hingga keesokan harinya. Saya mencoba melihat history chat, dan menemukan betapa brengseknya diri saya yang bertanya tentang hal lain esok harinya: "Sudah ndengering album baru Eminem belum?" Tapi dia terlihat tidak mempermasalahkannya, lalu menjawab tidak. Dia bukan tipe perempuan yang menyukai hip-hop. Dia lebih suka penyanyi pop yang tampil dengan berantakan dan bersuara melas. Menjijikkan.

Kalau kamu membaca ini, saya minta maaf. Tapi beneran, saya baru tahu.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir