Haji Backpacker (2014): Enaknya Hidup Kalo Dapet Hidayah


Haji Backpacker bercerita tentang seorang pemuda bernama Mada (Abimana Aryasatya) yang tinggal di jalanan Thailand. Ia berteman dengan sesama pendatang asal Indonesia yang bekerja di rumah bordil, Marbel alias Mariani (Laudya Cynthia Bella) yang terkadang memberinya tumpangan tidur dan merawatnya ketika sakit atau terluka. Beberapa kali Mariani mengajak Mada untuk pulang ke kampung halamannya, namun Mada masih belum mau memaafkan masa lalunya yang suram. Dalam mimpi-mimpinya, ia masih dibayangi sosok Sophia (Dewi Sandra), teman masa kecil yang kabur ketika hendak ia nikahi.

Rasa traumanya membawa Mada berkeliling dunia tanpa tujuan. Tak disangka, ketika ia terlibat cekcok dengan preman dan membunuh salah satu pimpinan mereka, ia dikejar sehingga harus kabur ke Vietnam bersama sang kakak. Ia pun melanjutkan perjalanannya hingga sampai di China, bertemu dengan Su Chun (Laura Basuki), di mana ia tak hanya diobati, melainkan juga diajak kembali ke jalan yang lurus.

Melalui mimpi-mimpi buruknya yang selalu sama, ia diberi saran untuk menemui seorang ulama di Rajashtan, India. Ketika ia sampai, sang ulama telah mengetahui kisah dan mimpinya bahkan ketika ia belum sempat bercerita. Keajaiban yang terjadi di depan mata membuka hatinya, lalu sedikit demi sedikit membawanya kembali pada kewajiban sholat yang pernah ia tinggalkan. Tak sampai di situ, ia juga bertekad pergi haji, melalui perbatasan yang dijaga militer, hinggga akhirnya sampai dengan menumpang sebuah kapal menuju Tanah Suci.

Pariwisata

Film Haji Backpacker membawa penonton untuk melihat secara singkat, kota-kota kecil maupun besar yang dijumpai dan disinggahi oleh Mada sepanjang perjalanannya. Tanpa bekal yang memadai -belum lagi ketika barang-barangnya dicuri, Mada dengan nekat pergi haji dengan melalui jalan yang tidak biasa dilalui. Dahulu, pada 2011, harian Jawa Pos pernah mengirim salah seorang wartawannya untuk pergi berhaji melalui jalur darat. Film ini versi visual dari kisah yang serupa, tapi berbeda.

Melalui film ini, setidaknya penonton dapat mengetahui cara yang tidak lazim dalam bepergian, namun tetap membawa pengunjung tetap pada tujuan. Backpacking sendiri merujuk pada perjalanan mandiri yang murah -biasanya ditandai dengan membawa ransel besar di punggungnnya. Backpacker tidak perlu membawa banyak barang, karena akan mempersulitnya dalam mobilisasi. Lagipula, dia tidak akan lama di suatu tempat. Setelah beberapa hari, ia akan pergi lagi ke tempat lain.

Hal paling penting adalah paspor. Saat ini, di era globalisasi yang terang-terangan mendukung pasar bebas, banyak negara yang memberlakukan kebijakan bebas visa. Bermodal uang secukupnya, Mada sudah bisa menyeberang berbagai perbatasan negara, menumpang secara gratis kepada kendaraan-kendaraan logistik atau pun pribadi. Angkutan umum menjadi pilihan ketika ia harus berkeliling kota, atau setidaknya bepergian dalam negara. Backpacking adalah salah satu alternatif traveling tanpa banyak biaya, tapi memerlukan banyak keberanian.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir