Antropologi Kesehatan: Sebuah Pendahuluan


Kesehatan sebagai salah satu aspek penting dalam kehidupan selalu menjadi objek penelitian disiplin ilmu kesehatan. Sayangnya, semakin kompleks problem kesehatan yang dialami manusia, semakin banyak hal yang harus diungkap: ilmu kesehatan belum sempurna, masyarakat global menuntut penjelasan yang lebih lengkap. Di sini, antropologi sebagai suatu ilmu yang juga turut meneliti manusia baik secara individual maupun komunal memberikan alternatif pendekatan, yaitu melalui perspektif kultural.

Bagaimana antropologi hadir? Dimulai dari fakta bahwa hal-hal fisik selalu berkaitan dengan hal non-fisik. Dalam studi terbaru National Geographic edisi Januari 2020, disebutkan bahwa, "kesedihan memperkuat nyeri secara psikologis." Selain itu, banyak sekali kasus efek plasebo yang hanya memberikan pernyataan "telah dilakukan operasi" padahal tidak, tapi efeknya sama seperti setelah dioperasi. Hal ini menandakan bahwa pada dasarnya banyak sekali motivasi untuk sehat lebih memberikan dampak yang signifikan.

Hal ini dimulai pada 1849, ketika Rudolf Wirchow, ahli patologi asal Jerman memberikan pernyataan bahwa kesehatan juga termasuk masalah antropologi. Perhatian pertama baru muncul pada 1953 ketika Caudill menerbitkan Applied Anthropology in Medicine tetapu belum mengkategorikan antropologi kesehatan sebagai suatu sub-disiplin. Sepuluh tahun kemudian, baru muncul istilah 'antropologi kesehatan' dan 'ahli antropologi kesehatan' dalam artikel tentang kedokteran dan kesehatan masyarakat.

Di Indonesia, kajian ini telah lam dilakukan sejak masa kolonial, namun tak banyak ahli kesehatan masa kini yang merujuk masa itu karena adanya hambatan bahasa. Di Amerika, kajian ini berkembang pada dekade 70'an abad keduapuluh. Namun, perkembangannya tak banyak dilakukan di dalam negeri bahkan hingga saat ini.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir