미끄러운 기생충 (2019)
terimakasih sebesar-besarnya saya haturkan kepada Mbak Lina, kenalan baru saya di UKM yang telah bersedia meminjamkan akun Viu-nya sehingga saya bisa mengkhatamkan film menakutkan ini sampai selesai.
Saya sudah menonton videonya: sutradara naik daun asal Koryah, Bong Joon-ho menaiki panggung mewah Oscar keempat kalinya untuk menerima piala kategori Best Picture bersama aktor-aktor yang diberangkatkan dari negerinya. Sebelumnya, ia sudah tiga kali dipanggil untuk menerima piala dari kategori yang beragam: Best International Feature Film, Best Original Screenplay, Best Picture, dan Best Director. Nominasi terakhir ia dapatkan dengan sangat ketat, setelah mengalahkan Martin Scorsese yang membawakan The Irishman, Todd Phillips (Joker), Sam Mendes (1917), dan Quentin Tarantino (Once Upon a Time...in Hollywood).
Dalam pidatonya yang ditemani seorang penerjemah, Joon-ho dengan amat gembira berterimakasih kepada masyarakat Amerika yang telah memberinya piala dan gelar juara. Ia tak pernah menyangka akan bersaing dengan sutradara-sutradara hebat dan film-film box office yang diputar sepanjang 2019. Meski sebagian orang sudah menduga kehebatannya sejak lama, Joon-ho tidak menyangka akan meraih Oscar. Terutama dengan film dan cast full berasal dari Korea.
Lalu, tentang apa sebenarnya film ini?
Cerita...
...dimulai dari Keluarga Kim yang sederhana. Mereka tinggal di semi-basement, kolom kecil di bawah tanah yang jendelanya terbuka ke arah jalanan. Terkadang, ada beberapa orang mabuk yang kebelet buang air kecil namun tidak menemukan toilet, maka datang ke depan jendela mereka, menumpahkan isi kantung kemihnya. Di hari itu, saat ada lelaki mabuk lain hendak buang air kecil, seorang teman datang. Ia adalah Min-hyuk, teman Ki-woo (Choi Woo-shik) yang sudah berkuliah.
Selain membawa batu alam sebagai hadiah, Min-hyuk memberikan tawaran mengajar les seorang anak orang kaya di Keluarga Park. Tawaran itu diambil dengan setengah hati, coba-coba, namun penuh dengan kelicikan. Ki-woo menyamar sebagai Kevin, anak kuliah berprestasi agar bisa masuk rumah mewah itu, lalu mencoba mengajar. Ki-woo juga mendengar bahwa Keluarga Park membutuhkan guru seni untuk anak kecil, maka diundanglah Ki-jung (Park So-dam), anak kedua keluarga Kim yang ahli photoshop.
Anda tahu, scene paling menyenangkan dalam film ini salah satunya adalah ketika Ki-jung datang bersama Ki-woo, namun mereka menghafalkan dulu naskah identitas yang dipersiapkan sebelumnya sebelum memencet bel rumah Keluarga Park. Anda bisa melihat scene ini kembali di akun instagram resmi film Parasite.
"Hold on."
"Jessica, only child, Illinois, Chicago. Classmate Kim Jin-mo, He's your cousin."
Setelah Ki-jung masuk, mereka berdua melancarkan berbagai cara agar kedua orangtuanya juga turut bekerja di rumah itu. Maka disingkirkanlah sang sopir, begitu pula dengan sang pembantu sebelumnya yang menyimpan rahasia, Gook Mon-gwang (Lee Jung-eun). Setelah mereka semua masuk, bekerja di dalam rumah mewah itu, mereka akhirnya menyadari suatu fakta yang amat sangat mengejutkan bagi saya yang hanya orang Indonesia biasa. Bagi orang Korea, mungkin ini tidak mengjutkan. Tapi bagi saya, ini tak perlu dibeberkan.
Bintang 4
Dengan amat sangat yakin, saya akan memberikan nilai empat dari lima. Meskipun tidak se-epic The Two Popes yang saya nobatkan secara pribadi sebagai film terbaik 2019, Parasite memenuhi tipe-tipe film Oscar: tensi yang tinggi sejak awal, namun datar sepanjang film dan cenderung stagnan. Tokoh-tokohnya tidak banyak. Kalaupun lebih dari sepuluh, dihadirkan dalam porsi yang pas: bagaimana seorang ayah bekerja, bagaimana seorang ART membantu, dan bagaimana seorang anak bersikap.
Parasit?
Ya. Anda tidak perlu penjelasan panjang lebar dari mana kata parasit yang menjadi judul film ini berasal. Masuknya Chung-sook (Jang Hye-jin) sebagai ART baru sudah memberikan pencerahan. Belum lagi ketika Ki-taek (Song kang-ho) menggantikan Geun-sae (Park Myung-hoon), menjadi buronan seklaigus parasit selanjutnya. Parasit dalam film ini tidak bermakna biologis, wujud materiil. Melainkan sebuah fenomena yang lahir dari ketimpangan sosial.
Film ini tidak mencari solusi, atau pun pencerahan. Parasite hanya memberikan gambaran sadis bagaimana masyarakat kecil harus menghisap darah orang kaya untuk bertahan hidup, tanpa harus diketahui atau disadari sang induk semang. Keluarga Park dengan jelas menerima kehadiran orang asing satu per satu, tanpa memerdulikan latar belakang yang rasanya mengancam. kebodohan orang kaya dan kelicikan kaum miskin menjadi gambaran sadis manusia, tidak hanya orang Korea.



Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?