Tujuh Hari di Rumah Mbah Ibuk
Sore itu, saya masih di Bukit Jaddih, bersama
teman-teman kampus menjalani wisata religi ke makam tokoh-tokoh besar sehabis
ujian akhir semester. Lalu, datanglah pesan dari orang tua bahwa saya harus
segera pulang ke Lumajang, daerah asli Abi sekaligus Mbah Ibuk yang sedang
kritis. Saya berjanji segera pulang, setelah rangkaian wisata ini selesai dan
kembali ke Malang. Maka, buyarlah konsentrasi saya di sisa hari itu, menyisakan
endapan-endapan kesedihan yang menggelembungkan uapnya.
Dan ketika saya bangun tidur, saya mengecek
pesan-pesan yang masuk notifikasi WA. “Mbah Ibuk meninggal. Kapan ke Lumajang?”
Kakak perempuan saya yang paling tua mengetik. Sekaligus menghubungi lewat
telepon WA beberapa kali. Saya menjawab sekedarnya, dengan alasan harus
bersiap-siap terlebih dahulu, lalu berangkat ke terminal. Baru kali ini saya
berangkat ke Lumajang sendirian, dengan rombongan orang-orang yang naik bus
jurusan Jember.
Di Arjosari, sebuah bus patas menyambut, lalu mengantarkan
saya menuju Terminal Wonorejo. Sepanjang perjalanan, pedagang dan pengamen
silih berganti melewati. Saya sendiri membuka buku dan memasang musik. Sayang,
perjalanan terlalu melelahkan -atau karena saya tahu bahwa perjalanan ini akan
memakan waktu hingga tiga jam?- Hingga saya tak bisa menikmati buku yang saya
baca, musik yang saya dengarkan. Bus ini sangat kasar, tapi mengajarkan
keperihan hidup lain yang belum saya rasakan sebelumnya.
Di terminal, saya dijemput oleh pakde -kakak Umi,
bukan Abi- yang kebetulan datang dari arah Surabaya. Dari Wonorejo, kami
berangkat ke Candipuro. Butuh waktu sekitar 45 menit sebelum akhirnya kami
sampai. Hari itu, hari pertama tahlilan. Keadaan rumah sangat ramai, dipenuhi
dengan tamu-tamu yang dating sejak pagi. Saya kemudian mandi, sholat, lalu
beristirahat. Malamnya, adalah tahlilan yang tidak saya ikuti.
Ibu Arjunah
Mbah Ibuk sudah lama masuk rumah sakit. Seminggu atau
dua minggu sebelum saya menjalani ujian akhir semester, Abi sudah berangkat ke
Lumajang untuk mengantarnya periksa. Di rumah sakit mana tepatnya, saya
tidak tahu. Namun, di tengah-tengah UAS, Mbah Ibuk jatuh lagi. Kini dengan
kondisi yang lebih kritis. Tetangga Mbah Ibuk yang paling dekat, Mbak Nur,
adalah orang pertama yang tahu kronologinya. Ia menceritakan hal itu
berulang-ulang, di waktu-waktu yang tak tentu, dalam kondisi atau situasi yang
kadang tak tepat.
Ia seumuran dengan Abi, memiliki wajah dan perangai
yang tak terlalu menarik, hingga saat ini belum menikah. Ia hidup bersama
dengan bunga-bunga dan kesendirian. Suatu malam, ia mendengar suara dari rumah
tetangga, lalu bersegera melihat keadaan Mbah Ibuk yang terkapar di tengah
ruang tamu. Ia pun menelepon kerabat-kerabat kami yang lain, yang tinggal di
daerah Selatan dan Barat. Abi saya, salah satu anak angkat Mbah Ibuk yang cukup
dekat, bersegera berangkat pulang.
Sebuah panggilan masuk ke nomor Abi, yang kemudian
dijawab dengan salam berbahasa Arab. Saya menebak peneleponnya, dan benar saja,
berasal dari Habib Zainal, salah satu kolega Abi di Pasuruan. Mereka berniat
mengirimkan karangan bunga, tapi Abi menolaknya. “Orang-orang desa gak pernah
ngirim karangan bunga. Buat apa?” Tapi sepertinya Habib Zainal bersikukuh.
Siang itu, di hari kedua meninggalnya Mbah Ibuk, sebuah karangan datang. Tertulis
di atasnya, “Turut Berduka Cita, Atas Meninggalnya Ibu Arjunah. Ibunda Bapak
Khirul Ulum, M.M. Pascasarjana IAI Dalwa.” Sorenya, menjelang maghrib, para
pengirim karangan bunga itu yang datang untuk mengikuti tahlilan.
Mbah Ibuk bernama asli Arjunah (baca: Aryuna).
Suaminya bernama Sabar, dilukiskan dengan sketsa hitam-putih lalu lukisannya
diletakkan pada dinding, tepat di atas pintu yang menghubungkan ruang utama dan
ruang-ruang di belakang: musholla, dapur, dan kamar mandi. Selain itu, mereka
juga punya potret berdua di masa muda. Konon, karena tak punya anak, ia
mengangkat beberapa anak dari saudara-saudarinya yang banyak untuk diasuh.
Total, Abi menjadi anak dari empat bersaudara.
Di hari pertama itu, kami semua berkumpul,
bahu-membahu menyiapkan hidangan untuk tamu sejak berita meninggalnya Mbah Ibuk
disiarkan hingga sore hari. Malamnya, kami tahlilan hingga tujuh hari ke depan.
Sayang, sebagaimana Mbah Ibuk yang ditinggal hidup sendirian dalam sebuah rumah
mewah tua, prosesi tahlilannya pun juga kekurangan personil karena beberapa
saudara kami yang musti kembali pada kesibukan. Alhamdulillah, keluarga kami
sangat besar. Kerabat kami sangat banyak hingga tak saling mengenal meski cukup
sering bertemu.
Meninggalnya Mbah Ibuk, adalah salah satu situasi
ketika saya dapat mengenali saudara-saudari yang lain dalam jangka waktu yang
cukup lama. Tidak seperti lebaran ketika kami hanya ke Lumajang selama dua atau
tiga hari. Pengecualian diberikan pada Umi. Ia harus ke Mojokerto untuk menghadiri prosesi
lamaran salah satu sepupu -sepupu saya, bukan sepupu Umi- yang rumornya akan
dipinang oleh anak polisi. Atau anak tentara, saya tak tahu pastinya.
Menu yang kami hidangkan di hari pertama dan kedua
adalah rawon, kemudian dilanjutkan dengan pecel di hari keempat dan mie ayam di
hari kelima. Ketika ada tamu yang datang secara rombongan dan berasal dari
tempat yang jauh semacam Lumajang Kota atau Pasirian, maka hidangan akan kami
suguhkan lebih dahulu lalu dilanjutkan dengan sedikit doa. Jika hanya
kerabat-kerabat dekat, besan Mbah Ibuk, dan tetangga-tetangga sekitar, biasanya
akan membawa tas berisi mie telor dan bungkusan lain yang dapat membantu kami
mengadakan tahlilan.
Konon, dalam beberapa hadis yang diamini para penganut
paham Syafi’iyah, tradisi tahlilan di mana keluarga yang ditinggalkan mengadakan
selametan seperti ini haram dilakukan karena memperberat kondisi. Tapi
sepertinya kami tak dapat meninggalkan tradisi ini. Keluarga kami cukup berada,
dan tetangga serta kerabat memberikan donasi sekedarnya untuk mengurangi beban
ini. Semoga cukup untuk tujuh hari, meskipun kami akan mengadakannya lagi dalam
40 hari atau seratus hari atau bahkan setahun.
Orang Desa, Dijemput Pagi-Pagi
Belum selesai kami mengadakan tujuh harian untuk Mbah
Ibuk, kabar lain datang dari Darungan, Kalibendo, sebelah selatan kampung kami
sekaligus menjadi tempat kerabat-kerabat kami yang lain. Seorang sepuh
meninggal, sehabis subuh dalam usia yang cukup tua, 80 tahun. Saya tidak
benar-benar tahu, dari mana darah kami bersambung menjadi saudara, tapi
beberapa orang mengenal di rumah duka mengenal Abi dan sepupu-sepupu saya yang
lain. “Ini siapa? Ator ta?” Saya mengangguk, lalu ditanyai tentang kuliah dan
lain-lain.
Terop didirikan. Tuan rumah menyambut kami yang datang
dengan sebuah tas berisi bingkisan untuk membantu perjamuan tahlilan. Rumah itu
berada di samping sebuah sekolah, Lembaga Pendidikan dasar yang berada dalam naungan NU. Lumajang penuh dengan orang Madura, Banser, dan Nahdliyyin yang
khas. Beberapa obrolan kami yang disertai dengan kopi dan penganan kecil,
membicarakan bagaimana kyai-kyai lokal memimpin pondok dan berinteraksi. Tak
banyak selain NU di sini. Dan sebagaimana masyarakat desa, mereka sering
menolak yang selain NU itu.
Kau tahu, saya suka membandingkan cara berpakaian
orang desa dengan orang kota. Abi saya cukup mencolok dengan kurta biru,
meskipun kemudian dia menggunakan sarung dan kopiah hitam untuk melengkapi.
Orang-orang desa cukup sederhana. Dalam bertamu, mereka datang dengan sarung
atau celana, lalu batik lengan panjang atau kemeja lengan pendek untuk atasan.
Terkadang, ada pula yang datang dengan kaos seadanya, seperti baru pulang dari
sawah, minus lumpur kotor dan semacamnya.
Seperti saya.
Hari Keenam, Ketujuh, dan Terakhir
Sejak dahulu, saya selalu diberitahu bahwa nenek
moyang keluarga kami berasal dari Mataram Jogja, dan kami memiliki lembar
silsilah yang entah dipegang siapa, sehingga kami memiliki privilege khusus
untuk masuk ke bagian dalam keraton. Kisah itu selalu diceritakan setiap kali
kami pulang kampung di masa-masa lebaran, bersamaan dengan kisah-kisah
masyarakat Uranggantung: deru Semeru, petrus yang meninggalkan mayat begitu
saja, dan lain-lainnya.
Akhir-akhir ini, saya juga mengetahui sedikit
asal-usul keluarga kami: kami masih memiliki kerabat di Blitar, yang seangkatan
dan saling mengenal dengan generasi Mbah Ibuk beserta saudara-saudarinya. Di
hari keenam, rombongan kerabat dari Blitar datang dengan sebuah minibus. Saya
tak mengenal satu pun. Abi, dengan gelagat baik hati, menyambut mereka yang
datang dengan beberapa karung beras. Saya dipaksa keluar kamar dan menyalami
mereka satu per satu, lalu membawa sembako ke dapur.
Karena mereka datang setelah tahlilan selesai, maka
Abi pun mengajak mereka untuk tahlilan dan makan bersama. Bisa dibilang, itu
ronde kedua. Selain itu, kami juga memberikan nasi kotak untuk bekal mereka
pulang. Sekedar informasi saja, saya menggunakan terma ‘mereka’ karena memang
tidak kenal sama sekali, meskipun masih kerabat. Maaf saja.
Esoknya, Abi pergi pagi-pagi sekali, meninggalkan saya
yang melipat bungkusan nasi kotak. Kabarnya, Abi mengurus administrasi kematian
Mbah Ibuk dan remeh-temeh lain semacam arisan dan uang pensiunan almarhum
suaminya. Mbah Sabar, berdasarkan sedikit pengetahuan, adalah pensiunan
tentara. Tanggal dua nanti (saya menulis kalimat ini di hari pertama tahun
2020), akan ada rombongan dari koramil yang akan bertamu. Untuk itu, seorang
saudari terpaksa tinggal bersama suaminya untuk menyambut rombongan tersebut.
Tahlilan hari terakhir berjalan amat lancar, dan tidak
ada keanehan yang perlu saya tuliskan. Esoknya kami pulang.
Tapi sebelum itu, kami mengunjungi seorang saudara
jauh. Abi memanggilnya Dek. Entah generasi saya harus memanggilnya siapa. Ia
berada di Jugosari, desa yang beda lagi, dan jalannya lebih sulit dilalui.
Mobil kami menyempil di antara rumah warga, sebelum akhirnya menemukan rumahnya
berdasarkan ingatan yang samar-samar. Rumahnya kecil, kami disambut dengan bau
pesing. Bude saya sempat bingung, harus masuk dengan sandal atau melepasnya.
Lantainya masih beton, tanpa keramik.
“Orang ini dulunya tukang sarang.” Begitu ucap bude
saya sebelumnya. Ketika bersalaman, sang empunya rumah berkali-kali menunjukkan
jarinya kepada saya, lalu bertanya, siapa saya. Merasa bahwa orang itu tidak
akan mengenali saya, maka Abi berkali-kali memperkenalkan diri. Nampaknya, saudara
yang kami temui sudah pikun. Ia sulit diajak berbicara, sulit diajak foto bersama,
namun tetap sopan. Ia berkali-kali menyuruh dua kakak saya untuk ikut duduk di
kursi, namun menolak.
“Tukang sarang itu artinya pawang hujan.” Begitu cerita
abi manakala kami sudah di mobil menuju jalan pulang. “Tapi gak cuma itu. Beliau
itu termasuk orang sakti di daerah Uranggantung sini. Makanya, ketika dulu ada
isu begal, perampokan, pencurian, gak ada yang berani nyentuh keluarga kita
karena dijamin sama beliau. Tapi, ketika saya nyoba untuk minta sedikit ilmunya,
beliau malah nolak dengan alasan, biar saya saja yang begini, keluarga yang lain
gak usah.”
Intinya, tukang sarang itu artinya orang sakti.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?