The Two Popes (2019): Debat Ulama versi Katolik
Di zaman serba internet saat ini, Jorge Bergaglio (Jonathan Pryce), Paus baru bergelar Fransiskus masih tidak tau bagaimana ia dapat memesan tiket pesawat. Maka, sebagaimana yang dilakukan orang-orang tua di masa lalu, ia menelpon provider, bertanya apakah bisa memesan tiket pesawat menuju Lampedusa. Di seberang, wanita yang menerimanya tidak percaya, lalu menutup telepon seorang Paus begitu saja. Ini bukan pertama kalinya bagi Jorge ditolak. Ia sudah lama dan sudah sering menerima penolakan, hingga akhirnya terpilih sebagai Paus di masa ini.
Ya. The Two Popes (2019) bercerita tentang bagaimana setelah 700 tahun, seorang Paus mengundurkan diri. Jorge Bergaglio, adalah yang terpilih selanjutnya.
Kisah: Mengajukan Pengunduran Diri
Hal ini dimulai ketika Paus Yohanes Paulus II meninggal dunia pada 2005. Saat itu, semua kardinal dari penjuru benua berkumpul untuk mengadakan konklaf selanjutnya. Adalah Joseph Alois Ratzinger (Anthony Hopkins), seorang kardinal dari Jerman, yang kemudian sangat getol sekali mempromosikan dirinya untuk kepausan berikutnya. Selain dia, ada pula Kardinal Martini dari Italia dan Jorge Bergaglio dari Argentina.
Sebagai orang dekat Paus Yohanes, Ratzinger berusaha meyakinkan rekan-rekan kardinal lain untuk memilihnya dalam konklaf sehingga ia mendapat 75 suara sebagaimana yang disyaratkan. Sayangnya, dalam pemilihan pertama, ia hanya mendapat 49 suara. Meski mendapat dukungan sebesar itu, ia masih tidak menyangka bahwa Bergoglio mendapat sepuluh suara, nomor dua setelahnya. Maka, dari sanalah dimulai persaingan.
Yah, sebenarnya, itu bukan semacam persaingan sejati. Ratzinger sangat berambisi sehingga harus berkeliling ke setiap meja untuk mendiskusikan masalah-masalah umat. Di sisi lain, Bergoglio hanya duduk bersama teman-temannya, menyapa siapa pun yang ditemui, dan tersenyum seadanya. Keduanya adalah representasi dari pandangan masing-masing: Ratzinger mewakili kalangan katolik taat yang konsevatif dan lebih tertarik pada isu-isu kehancuran umat sedangkan Bergoglio menjadi wakil dari orang-orang miskin di dunia Selatan yang bertoleransi pada perubahan.
Setelah konklaf itu, Bergoglio berkali-kali mengirimkan surat ke Vatikan, untuk pengunduran dirinya sebagai kardinal di Amerika Selatan. Dia merasa cukup, lalu ditambah kesehatan paru-parunya yang semakin menurun. Alasan itu ditolak mentah-mentah, begitu pula dengan segala usaha Bergoglio mengeluarkan selembar surat pengunduran dirinya. Di akhir, Ratzinger mengungkap alasannya: Bergoglio harus menggantikannya, lalu ia mengundurkan diri dengan terhormat. Konflik memuncak. Pertentangan ducapkan. Dan Jorge Bergaglio, seorang kardinal asal Argentina, bercerita tentang masa lalunya yang kelam bersama sejarah politik negerinya.
Anda tak akan menyangka bagian awal film ini adalah perdebatan tak henti; antara orang tua berpikiran kolot dengan orang miskin dari dunia ketiga yang mengharapkan tak ada lagi kemiskinan. Meskipun diselingi (dan sepertinya wajib) diikuti dalil-dalil teosofi, Bergoglio berharap Paus Benediktus mau berfokus pada masalah-masalah yang lebih riil, yang lebih merakyat, sehingga ia mampu diterima semua kalangan. Ratzinger pandai bermusik, membuat album yang direkam di Abbey Road, tapi tidak tahu The Beatles. Sebaliknya, Bergoglio suka sepakbola, makan di warung tepi jalan, dan selalu mengangkat tasnya sendiri. Kedua sosoknya sedari awal sudah menjadi dua kutub yang berbeda. Yang menyatukan keduanya, tentu saja adalah mereka berpijak pada bumi yang sama, iman Katolik.
Bintang Empat, Saya Yakin Sekali
IMDB yang terpercaya itu memberikan rating, 7,7 dari total sepuluh. Angka yang menurut saya masih kurang karena film ini begitu apik. Dari awal, kita sudah tahu bagaimana kisah ini akan berakhir, tapi penyajian drama di dalamnya membuat kita tergugah. Siapa yang tidak kagum dengan Kardinal Jorge yang setiap kata-katanya begitu quotable? Tentu saja yang berteriak kegirangan. Alurnya? Alurnya berantakan, tapi terlihat tetap indah karena ditempatkan pada situasi yang tepat.
Sampai akhir, akan selalu ada kejutan yang menghampiri Anda, bahkan kisah-kisah datar yang diceritakan Bergaglio sekalipun. Anda tak akan percaya kan kalau di credit film ada highlight Piala Dunia 2014? Aduh, saya tak percaya untuk selalu memuji penokohannya. Ia begitu kuat dan lantang, meskipun saya tak tau secara pasti apakah sesuai dengan pribadi aslinya. Akting Anthony Hopkins tak perlu dipertanyakan, tapi Jonathan Pryce? Ia sempurna. Ia mengeluarkan aura yang pas, sesuai, dan terlihat mencolok dengan kesederhanaan.
Akhir kata, The Two Popes (2019) yang lahir dari Netflix dan bermula dari suatu drama pada 2017, mengajarkan pada kita bagaimana seharusnya bersikap di masa modern. Tak hanya berubah karena itu tak akan cukup. Kita perlu berkompromi. Bahkan untuk permasalahan setegas agama. Dengan sejarah ribuan tahun, institusi agama tetap akan ditinggal pengikutnya, jika tidak terus berkompromi. Dalam Islam, utamanya Indonesia, hal ini sedang terjadi.
Lihat saja perseteruan antara Aswaja dan Salafi. Antara modernis dan konservatif.
Yah, sebenarnya, itu bukan semacam persaingan sejati. Ratzinger sangat berambisi sehingga harus berkeliling ke setiap meja untuk mendiskusikan masalah-masalah umat. Di sisi lain, Bergoglio hanya duduk bersama teman-temannya, menyapa siapa pun yang ditemui, dan tersenyum seadanya. Keduanya adalah representasi dari pandangan masing-masing: Ratzinger mewakili kalangan katolik taat yang konsevatif dan lebih tertarik pada isu-isu kehancuran umat sedangkan Bergoglio menjadi wakil dari orang-orang miskin di dunia Selatan yang bertoleransi pada perubahan.
Setelah konklaf itu, Bergoglio berkali-kali mengirimkan surat ke Vatikan, untuk pengunduran dirinya sebagai kardinal di Amerika Selatan. Dia merasa cukup, lalu ditambah kesehatan paru-parunya yang semakin menurun. Alasan itu ditolak mentah-mentah, begitu pula dengan segala usaha Bergoglio mengeluarkan selembar surat pengunduran dirinya. Di akhir, Ratzinger mengungkap alasannya: Bergoglio harus menggantikannya, lalu ia mengundurkan diri dengan terhormat. Konflik memuncak. Pertentangan ducapkan. Dan Jorge Bergaglio, seorang kardinal asal Argentina, bercerita tentang masa lalunya yang kelam bersama sejarah politik negerinya.
Anda tak akan menyangka bagian awal film ini adalah perdebatan tak henti; antara orang tua berpikiran kolot dengan orang miskin dari dunia ketiga yang mengharapkan tak ada lagi kemiskinan. Meskipun diselingi (dan sepertinya wajib) diikuti dalil-dalil teosofi, Bergoglio berharap Paus Benediktus mau berfokus pada masalah-masalah yang lebih riil, yang lebih merakyat, sehingga ia mampu diterima semua kalangan. Ratzinger pandai bermusik, membuat album yang direkam di Abbey Road, tapi tidak tahu The Beatles. Sebaliknya, Bergoglio suka sepakbola, makan di warung tepi jalan, dan selalu mengangkat tasnya sendiri. Kedua sosoknya sedari awal sudah menjadi dua kutub yang berbeda. Yang menyatukan keduanya, tentu saja adalah mereka berpijak pada bumi yang sama, iman Katolik.
Bintang Empat, Saya Yakin Sekali
IMDB yang terpercaya itu memberikan rating, 7,7 dari total sepuluh. Angka yang menurut saya masih kurang karena film ini begitu apik. Dari awal, kita sudah tahu bagaimana kisah ini akan berakhir, tapi penyajian drama di dalamnya membuat kita tergugah. Siapa yang tidak kagum dengan Kardinal Jorge yang setiap kata-katanya begitu quotable? Tentu saja yang berteriak kegirangan. Alurnya? Alurnya berantakan, tapi terlihat tetap indah karena ditempatkan pada situasi yang tepat.
Sampai akhir, akan selalu ada kejutan yang menghampiri Anda, bahkan kisah-kisah datar yang diceritakan Bergaglio sekalipun. Anda tak akan percaya kan kalau di credit film ada highlight Piala Dunia 2014? Aduh, saya tak percaya untuk selalu memuji penokohannya. Ia begitu kuat dan lantang, meskipun saya tak tau secara pasti apakah sesuai dengan pribadi aslinya. Akting Anthony Hopkins tak perlu dipertanyakan, tapi Jonathan Pryce? Ia sempurna. Ia mengeluarkan aura yang pas, sesuai, dan terlihat mencolok dengan kesederhanaan.
Akhir kata, The Two Popes (2019) yang lahir dari Netflix dan bermula dari suatu drama pada 2017, mengajarkan pada kita bagaimana seharusnya bersikap di masa modern. Tak hanya berubah karena itu tak akan cukup. Kita perlu berkompromi. Bahkan untuk permasalahan setegas agama. Dengan sejarah ribuan tahun, institusi agama tetap akan ditinggal pengikutnya, jika tidak terus berkompromi. Dalam Islam, utamanya Indonesia, hal ini sedang terjadi.
Lihat saja perseteruan antara Aswaja dan Salafi. Antara modernis dan konservatif.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?