thankful for your life, this is the Last Christmas (2019)


Katarina (Emilia Clarke) atau yang lebih senang dipanggil Kate adalah pemudi pekerja keras. Ia bekerja di toko aksesoris natal yang dikelola oleh wanita Asia, "Santa" (Michelle Yeoh). Namun, karena kecerobohan dan konfliknya dengan keluarga, ia tak punya tempat tinggal. Jika harus pulang, ia merasa tidak nyaman dengan Ibunya, Petra (Emma Thompson), imigran Yugoslavia yang selalu menyanyikan lagu-lagu Rusia dengan nada menyeramkan. Begitu pula yang terjadi dengan ayahnya, dan juga kakak perempuan lesbian-nya.

Namun, semua berubah sejak ia bertemu dengan Tom (Henry Golding) yang entah bagaimana selalu ia temukan dalam kesehariannya menjelang natal.

Lelaki itu tidak terlalu mempesona, namun ia cukup tampan untuk selera orang Inggris. Dengan jaket coklat dan sepeda, ia membawa Kate berkeliling London, menjamah lorong-lorong kecil nan tersembunyi, duduk bersama pada kursi kosong taman kecil, dan memerhatikan detail-detail kecil interior perumahan. Tom adalah lelaki yang humoris. Ia tidak perlu menawarkan banyak hal, namun mengajak Kate merasakan kebahagiaan-kebahagiaan kecil di sekitarnya.

Ini adalah natal pertama, sejak Kate diimplan jantungnya, akibat suatu kecelakaan setahun yang lalu. Ketika itu, ia merasakan bagaimana semua orang perhatian kepadanya, namun ketika sembuh ia tak lagi merasakan perhatian yang sama. Oleh karena itu, ia merasa kosong: ada jantung orang lain yang berdetak di tubuhnya, dan membuat ia tetap hidup hingga saat ini, namun tidak ada orang-orang yang benar-benar sayang kepadanya.

Saya akan mengira ini film yang biasa saja: tanpa alur tertentu, tanpa makna tersembunyi, dan tanpa konflik yang mencekam. Namun, semua berubah menjelang akhir film.

Entah bagaimana, sikap Kate kepada orang-orang di sekitarnya berubah. Ia berbaikan dengan ibunya, kakak perempuan satu-satunya, teman-teman kuliah maupun kos yang selama ini ia buat repot, dan orang-orang di dapur umum yang peduli pada tunawisma. Maka, ketika ia pergi ke apartemen Tom yang kecil, ia tidak mendapatkan apa pun selain seorang sales yang hendak menjualnya. Dikatakan, apartemen kecil itu milik seorang pemuda, yang meninggal setahun yang lalu akibat kecelakaan.

Tom Webster.

Pada titik itu, ia merasa terguncang. Ia sadar, bahwa selama ini ia tidak merasakan apa pun. Tom yang ia temui telah mati setahun yang lalu, dan kini hadir kembali untuk mengingatkan Kate akan makna kehidupan. Jantung Tom berdetak dalam dadanya, seolah-olah berkata bahwa ia musti bersyukur telah diberikan kehidupan. Maka tak sia-sialah kegiatannya selama ini: menyanyikan lagu-lagu natal untuk kemudian disumbangkan kepada tunawisma. Ia merasa hidupnya lebih berkah, sebagaimana yang juga diinginkan Tom Webster.

Tiga Setengah untuk Lagu-Lagu Natal

Dirilis akhir November tahun kemarin, saya tahu menonton film ini adalah sebuah keterlambatan. Namun, bagaimana lagi? Tidak banyak film yang tersedia dalam jejaring studio bajakan. Didapuk untuk menyambut natal, saya merasakan bagaimana kisah-kisah itu dihubungkan sedemikian rupa saja, tanpa harus terlibat secara penuh ke dalam konsep kenatalan. Yang pasti, lagu-lagunya bagus, menyenangkan, dan selalu asik didengar.

Jangan bertanya bagaimana Kate bisa mengenal Tom: ini adalah natal, kawan, waktu di mana keajaiban datang dalam bentuk apa pun. Tak hanya santa yang membagikan hadiahnya dari rumah ke rumah, ada pula Tom yang datang dengan sewajarnya, tak berlebihan, lalu menemani Kate di waktu-waktu yang tepat. Karakter Tom memang tak banyak diulas, namun itulah konsekuensi menghadirkan orang mati: dia tak bisa banyak dieksplor, selain bayangan-bayangan indah seorang Kate yang memiliki jantungnya.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir