Terbiasa dengan Rasa yang Asing


Sebulan yang lalu, tepat pada hari ini, 27 Desember 2019, Bring Me The Horizon (BMTH) secara tiba-tiba mengejutkan para penggemarnya dengan merilis album pendek (extended play) dengan judul yang amat panjang. Sebagaimana saya tulis dalam review singkat sebelumnya, nama album itu pun kemudian lebih mudah disebut "GO TO", yang diambil dari dua kata terakhir. Dari wawancaranya dengan NME, Oly Sikes menyebut bahwa mereka akan lebih sering membuat eksperimen musik semacam ini. Dan tidak semuanya dirilis dalam album resmi.

GO TO berisikan 10 lagu, dengan judul yang eksploratif dan di luar batas. Artis yang diajak untuk berkolaborasi pun tak selalu terkenal, tapi cukup memiliki track record. Sebut saja ada Halsey (yang kemudian menulis lagu bersama Oli dan Jordan untuk soundtrack Birds of Prey), BEXEY, Lotus Eater, Happyalone, YONAKA, dan kekasih Oli sendiri, Alissa Salls yang menggunakan nama panggung Toriel. Lalu, dari 10 lagu itu, saya akan mengulas salah satu favorit saya:

Judulnya tertera di atas. Memang sepanjang itu.

Saya tidak tahu bagaimana menyingkat judul itu. Sebut saja, untuk artikel ini, Bad News, sebagaimana salah satu liriknya yang selalu terngiang-ngiang di telinga saya.

I'm afraid i've got bad news. 

Mari kita bedah liriknya dari awal.

I got a feeling that i can't seem to shake 
Stuck on repeat, it's all play
It's like there's always raon clouds waiting for me
And i've got this itch I wanna scratch
It's like a flu I can't uncatch
A phantom pain hurts so bad that it's surreal

I'm afraid  I've got bad news
I'm afraid I've got bad news
I'm afraid I've got bad news
I'm afraid I've got bad news

And I got a feeling I can't shake 
It's like a bone I'm trying to break
It's like seeing spiders running riot on your lover's grave
And oh, it's hard to know what's real
Lack of iron and not sleeping
I've seen your face before
But now I feel so used

Now I feel so used

*****


salah satu hal yang saya pelajari dari lagu-lagu Barat berbahasa Inggris, terutama dengan genre metal, adalah fokusnya pada permasalahan hidup manusia. Di dalam negeri, kita tidak banyak menemukan hal yang sama, melainkan hanya dipenuhi dengan kisah cinta, romansa pemuda, hingga hal-hal serupa yang kemudian membuat kita muak tak ada habis-habisnya. Hal itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa banyak orang lebih memilih lagu-lagu berbahasa Inggris daripada lagu dalam negeri: karena bukan hanya keren, tetapi juga memiliki isu-isu kehidupan sosial yang membumi.

Lagu ini contohnya, adalah bagaimana sang penyanyi berusaha mengungkap rasa gelisah dan prihatinnya, namun tidak dapat disalurkan dengan sempurna sehingga selalu tertahan di dalam diri. Ketika ia hendak mengungkapkannya, seolah-olah ada awan mendung yang melingkupinya, ada rasa gatal yang tidak bisa ia garuk, ada flu yang tidak keluar. Rasa sakit itu, katanya, menghantuinya terus seolah-olah itu nyata.

Dan ia menganggap, akan ada kabar buruk datang padanya.

Perasaan yang sama juga turut menjalar pada chorus kedua: bagaimana sang subjek hendak mematahkan tulang seseorang dan melihat seekor laba-laba merayap pada kubur sang kekasih. Perasaan itu, katanya, sangat sulit untuk diketahui benar atau tidaknya, nyata atau palsunya. Ia tak bisa tidur, tapi ia pernah bertemu dengan perasaan itu, berkenalan dengannya. Oleh karena itulah, ia sudah terbiasa dengan perayaan tak nyaman itu.

Apa yang sebenarnya hendak BMTH ft. Happyalone katakan melalui lagu ini?

Kita adalah manusia, yang pada realita sehari-harinya menghadapi ribuan dinamika tak tentu, lalu perasaan demi perasaan yang asing sebelumnya. terkadang, perasaan itu mirip dengan kegelisahan yang kemudian diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan eksistensial: siapa aku? apa gunanya diriku di dunia ini? kenapa Tuhan menciptakanku? Namun, karena perasaan itu datang setiap hari -untuk manusia normal dan waras- akhirnya kita jadi cukup terbiasa. Namun, kita tetap saja gelisah.

"Seolah-olah kau melihat seekor laba-laba merayap di atas kubur kekasihmu."

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir