Senyummu di Dzulhijjah


Konon, dahulu kala, seorang anak tersesat ketika memasuki hutan. Ia bertemu dengan dua orang penjaga berseragam, menenteng senjata. Pada mulanya anak itu ketakutan, tapi akhirnya sadar hutan ini tak akan menyakiti fisiknya. Hanya saja, ia musti merelakan alam sadarnya untuk keluar dari hutan itu. Maka, terjadilah apa yang musti terjadi: dalam balutan hutan itu, ia melepas paksa dedaunan. Ketika Sang Hutan pergi, ia tak sadar lagi.

Di akhirat, perbuatannya tak dipertanyakan. Ia tak sempat bertobat.

*****

Aku ingin bercerita tentang senyummu.

Telah kutemui kau dua hari yang lalu, dalam perjalanan menuju arah tak tentu. Aku mencoba tunduk pada angin dan dedaunan, namun tersadar akan keberadaan. Ah, ada bayangan yang mengejar. Lalu lewatlah kau di sampingku dengan tabrakan. Lengan kita bersentuhan dengan keras, sedikit sakit menjalar hingga tertangkap: wajahmu tersungkur. Aku ingat kau mengendarai sepeda, dan aku berjalan dari mata angin yang sama. Orang-orang berkerumun, utamanya mengangkatmu dan kendaraanmu. Beberapa buku terjatuh, dan aku memungutnya sendiri. Lalu kau datang kepadaku.

"Eh, Mas. Kalau jalan di trotoar dong. Jangan ke jalan utama gini. Ketabrak kan jadinya." Maaf saja, pada detik itu, aku terlalu terpaku pada wajahmu. Tidak tirus memang, tapi cukup kurus untuk wanita satu setengah meter. Kerudungmu tersibak angin, membuatku terpaksa melihat rambut panjangmu. Ah, hitam. Memang apalagi yang kuharapkan? Rambutnya sedikit pirang? Sekilas aku teringat dengan seorang teman wanita yang cantiknya bukan kepalang. Namun perhatianku kembali padamu. "Denger gak, Mas?"

"Iya, Mbak. Maaf. Maaf sudah nabrak." Aku menundukkan kepala. Orang-orang masih berkerumun dan kau mempermalukanku dengan kasar. "Gak ada yang luka, kan? Kalau ada saya bayar biayanya."

Sejenak, kau memperlihatkan wajah kaget. Yah, aku tahu. Kau mengira aku akan melawan balik. Tapi aku tak mau. Ini terlalu pagi untuk memulai pertikaian. Aku lebih suka gelap malam untuk membungkus kejahatan. Lagipula, kejahatan mana yang lebih buruk daripada melawan wanita?

Mengabaikannya. Retoris dalam kamusku.

Maka, sebelum kau sempat memuntahkan amarah lebih lanjut, orang-orang berteriak, membentak, menyebutmu tak tahu diri, meski tak sengaja menabrak, tetap saja pejalan kakilah korbannnya. Kau membalas bentakan-bentakan itu, dan aku hendak melerainya. Tapi aku tak mau. Ini terlalu pagi untuk memulai berbuat baik. Aku lebih suka hangat sore untuk membungkus kebaikanku. Lagipula, kebaikan mana yang lebih bagus daripada membiarkan wanita bertengkar?

Aku melangkah pergi, menghadap pada jalanan sepi. Beberapa orang melihatku berpaling, lalu ikut pergi. Aku sudah berjalan terlalu jauh untuk kau kejar ketika kau dan beberapa orang yang bertikai untuk membelaku tersadar: korban sudah pergi, masalah telah usai. Jalanan kembali pada kesibukannya, hari kembali pada matahari.

Tapi kau tak menyerah, kau malah mengendarai motormu dan mengarah padaku.

Aku terpaksa berhenti, karena kau menghalangi jalanku yang tak tentu. "Maaf ya, Mas. Harusnya saya yang minta maaf udah nabrak." Ah, aku melihat lagi wajahmu. Terpana boleh saja, kan? "Kalau boleh tahu Masnya mau ke mana, ya?"

"Saya musafir, Mbak. Saya gak punya tujuan. Saya berjalan aja ngikutin kata hati." Aku suka ekspresi terkejutmu, tak lebih tak kurang. Kali ini kau benar-benar memperhatikan, lalu menundukkan kepala. "Kalau mbak mau lanjut jalan, mending lanjut aja. Saya gak papa kok. Gak ada luka atau semacamnya, cuma kaget. Buku-buku saya tadi sempat jatuh, untung masih bagus."

"Oh, ya? Alhamdulillah kalau gitu. Atau Mas nya mampir ke rumah saya dulu?" Ah, akhirnya. Dalam imanku, penawaran seperti ini tidak boleh dilewatkan. Aku mengiyakan saja lalu mengikutimu. Kau antar aku ke rumah besarmu. Yah, memang tidak terlalu besar, tapi aku tahu kau hidup berkecukupan. Pagar dan dinding menjulang, mewakili sebagian pemandangan yang tertutupi. Aku bisa merasakan itu: perasaan-perasaan nyaman di setiap nafasnya. Aku bisa mencium itu: wangi-wangi kelas menengah di setiap langkahnya.

Di hari itu, aku memasuki rumahmu. Di hari lain, kau akan tahu bahwa aku tak pernah lagi ingin kembali.

*****

Seharusnya, kau tak pernah memasuki hutan itu.

Ia memakanmu dari dalam, memaksamu menjelajahi berantara penuh dengan akar melayang nan tak karuan. Ia melepaskanmu pada sungai penuh batu-batu cadas: "Ah! Kenapa tercipta tubuh lemahku!?", begitu kau mengumpat di dalam hati. Tuhan menerima doamu, lalu membuat tubuhmu terus dihantam sial dan diterkam hewan. Liar melajur tanpa henti, ketenangan tercipta dari hati. Ketika sudah lelah, bertepatan dengan malam hari tanpa cahaya, kau memutuskan untuk beristirahat dan makan dedaunan.

Lalu pada suatu detik kau teringat dengan dua tentara berseragam yang menenteng senjata. Kau pun menelusuri tanah yang telah kau pijak, sungai yang kau renangi, aliran hutan yang kau lewati. Tapi tak sampai, tak ditemukan di mana kedua lelaki itu berjaga. Kau pusing menutup mata, lalu ketika terbuka: ada rumah-rumah jamur di kejauhan, samar-samar. Tangan kau angkat, kaki kau gerak. Semoga ada sedikit panganan yang bisa kumakan. Semoga ada. 

Langkah demi langkah kau eja, rasa sakit kau tahan sedemikian rupa. Semasa hidupmu, ah, kau masih hidup hingga nafas ini, kau sudah merasakan banyak kepahitan, dan hal semacam ini sering terjadi. Sudah seharusnya kau bisa menahan ini. Tapi entah kenapa, gelap hutan membuatmu semakin yakin: ada yang menyerap energiku, ada yang menyedot sumsumku. Setiap langka kau merasa semakin lemah. Hawa yang basah memaksamu berhenti.

Kau berada pada gerbang suatu desa. Rumah-rumah jamur dengan jendela kecil terbentang di matanya. Kau mencoba teriak, tapi suara kecil saja tak sanggup kau beri makan. Hidungmu menyentuh tanah, nafasmu bercampur dengan debu. Bau kehidupan menguar bersama rumput dan dedaunan yang mekar. Di kejauhan, tetes air membentuk aliran kecil menuju arahmu. Kau tak mengharap sebuah peristirahatan. Kau butuh buah atau dedaunan untuk dimakan.

*****

Kisah ini, ditulis sejak bulan Dzulhijjah, lalu berhenti karena ide yang tiba-tiba berhenti mengalir. Lalu, ketika saya membuka lagi draf-draf belum terpublikasi, saya menemukan kisah ini, menyelesaikannya sebisa mungkin, dan menutup luka yang muncul setelahnya. Sebagaimana kisah-kisah lain, Senyummu di Dzulhijjah terinspirasi dari seseorang yang benar-benar nyata, menghasilkan momen aneh dan lucu, sehingga tak henti-henti membuat saya menangis, dengan sedikit tawa.

Terimakasih telah membaca hingga akhir. Saya tahu ini membosankan.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir