Randomly Stories 4: Kota Sepi, Eksekusi, dan Hujan


Sore itu gerimis. Mendung menyelimuti langit dan hujan hanya turun rintik-rintik. Aku berjalan di trotoar yang cukup lebar, dengan kekosongan melanda kota di hari kerja. Libur baru saja dimulai dan aku harus rela tinggal dalam kota sepi seolah mati: dilanda konflik, dihajar perang, dan dibawa kabur imigran. Tapi kota ini tidak terluka: ia hanya sepi di sana-sini dan tak ada kerusakan yang terjadi. Aku melewati bebungaan yang mekar di sisi jalan dan merasa kasihan pada siapa pun yang meninggalkan bunga-bunga ini sendirian, tapi mungkin ada bunga yang lebih cantik di kotanya. 

Dan benar saja, bunga cantik itu, tak lama kemudian, terlihat di kejauhan. Butuh dua kali gelengan kepala -sekitar empat detik- untuk meyakinkan diriku itu adalah kamu. Hidup dalam dunia politik yang kejam semasa SMP dan SMA membuatku mengembangkan kemampuan untuk mengenali musuh dari kejauhan. Tapi kau bukan musuh: kau adalah bunga yang kubiarkan akar cintanya tertanam dalam hatiku. Meski bisa saja kau tak rela. Meski bisa saja kau tak mau.

"Eh, Dinda." Aku tak bisa menghentikan langkah kakimu jika tak seperti itu. Kau menoleh padaku lalu tersenyum, dan membalas sapa itu setelah beberapa detik berlalu. Di sampingmu, seorang lelaki yang -anjirlah!- lebih tinggi dariku sedang menggenggam erat tangan kirimu. "Dari mana? Kok sendirian." Tentu saja aku dari arah yang berlawanan.

"Dari toko buku," jawabku ragu-ragu, membuatnya seperti kebohongan. Aku menunjuk kanan jalan, tapi tak tentu. "Di sana."

"Oh iya. Ini kenalin." Kau menunjuk lelaki di sampingmu, yang sejak tadi dengan matanya yang sinis memasang wajah merendahkan. Aku tak ingat namanya, tapi sepertinya aku memang tidak berniat menghafalnya. "Duluan ya, Fat."

"Ya silahkan." Aku melanjutkan langkah kaki. Dalam hati, ada sedikit kebanggaan karena bisa menemuimu dalam suatu sore di kota yang sepi. Yah, meskipun faktanya kau berjalan dengan lelaki lain, tapi tak apa. Toh aku bukan siapa-siapa.

Kalimat-kalimat seperti itu, sepertinya sudah sering diucapkan oleh para pengagum rahasia. Yang tidak berani mengungkapkan cinta. Yang tidak berani mengutarakan rasa suka.

*****

"Kamu sudah pernah ke Bumi?" aku bertanya pada seorang tetangga, yang kebetulan berpapasan denganku di depan rumah. Kami menuju balai kota, tempat di mana orang-orang berkumpul untuk melihat eksekusi mati seorang pemuda yang membunuh perompak karena membela kekasihnya. Perompak itu telah mati, dan masyarakat kami lebih memilih menghukum yang masih hidup. Nyawa dibalas nyawa. Perompak itu mati, pemuda itu seharusnya mati juga.

"Bumi?" tetangga yang berjalan di sampingku itu mengembalikan pertanyaan. "Planet yang terlihat hijau dari jauh itu?"

"Bukan hijau, biru."

"Ah, tidak. Di mataku, itu hijau."

"Seterahlah."

Lalu kami pun sampai di balai kota. Meski sudah cukup luas, ternyata balai kota kami masih tidak cukup muat untuk warga yang datang dalam eksekusi kali ini. Setiap sebulan sekali, ketika aku datang ke sini untuk memesan penganan manis, aku berharap gedung-gedung di pusat kota tidak bertambah tinggi. Selain menutup sinar mentari pagi -hingga siang bahkan, bangunan pencakar langit membuat kita untuk selalu berpikir 'dunia ini terlalu sempit'. Planet kami tidak meluas. Penduduknya bertambah banyak setiap hari.

Kerumunan demi kerumunan aku lewati. Tetangga yang tadi berjalan di sampingku memutuskan untuk pergi ke sebuah cafe dan menyaksikan eksekusi dari lantai kedua salah satu gedung. Meski hanya satu orang -dulu, dalam suatu kasus terorisme, ada belasan orang dipenggal- tapi eksekusi ini pantas dinikmati dengan nyaman: ditemani secangkir kopi, sepiring gorengan penuh minyak, dan kabar demi kabar dari instagram. Tak lupa, musik santai menemani pengunjung cafe yang membludak setiap kali ada acara di balai kota. Dari pengalamanku mengikuti tradisi ini, eksekusi membutuhkan waktu yang cukup panjang: ada pembukaan, sambutan, pembacaan kasus, dakwaan, hingga pembayaran ganti rugi kemasyarakatan. Setelah itu, akan ada doa bersama yang kami panjatkan kepada Tuhan Agung Pendiri Bangsa. Total, masyarakat kami butuh setengah jam untuk mengeksekusi seorang pemuda. Bayangkan saja sendiri, berapa lam waktu yang kami butuhkan untuk menghukum belasan teroris.

"Terdakwa bernama Rama. Berumur 23 tahun, asal Kota Malang." dia berasal dari kampung yang sama denganku, tapi umurnya jauh di bawahku. "Divonis bersalah setelah membunuh seorang perompak yang mencoba merebut kapalnya di Laut Selatan. Untuk itu, pengadilan memutuskan untuk memberinya hukuman mati karena telah menghilangkan nyawa."

Pemuda itu mendekat ke arah penjagal. Ia tertunduk lesu dengan wajah lemas. Di sampingnya, sudah ada kapak besar yang siap memisahkan kepala dari tubuhnya. Dan ketika penjagal memegang kapak itu, lalu mengangkatnya ke langit, kami semua berteriak:

"KARENA NYAWA ADALAH NYAWA. HILANG SATU MENGANCAM KAMU. HILANG SERIBU MENGHAPUS KAMI."

seluruh kota dalam nafas yang sama. teriak demi teriak saling bersahutan, memerintahkan kapak itu turun tepat pada tulang. 

Lalu, ketika teriak itu memuncak, penjagal itu pun melayangkan kapaknya.

DAS!

Kepala pemuda itu turun, menggelinding di lantai balai kota. Darahnya muncrat. Sebagian penonton di baris terdepan mendapatkan percikan di lidah. Aku tidak pernah berdiri terlalu dekat, sehingga tidak pernah merasakan sensasi bagaimana menyicipi darah pemuda. Lalu, dalam tiga detik, seluruh warga berteriak. Mereka berlari-lari, melompat-lompat, berjingkrak ke sana kemari mengekspresikan kebahagiaan. Aku berjalan mundur, lalu berjuang kembali untuk keluar dari desakan warga yang terlalu senang dengan eksekusi. Telingaku penuh dengan teriakan. Hidungku mencium bau keringat yang tak tertahan. Butuh lima menit untuk keluar dari balai kota dan akhirnya melangkah pada jalan yang kosong. Sempat terpikir untuk memanggil tetanggaku, mengajaknya pulang kembali. Tapi sorak-sorai belum berhenti, Bahkan di gedung-gedung tinggi yang melingkari balai kota.

Aku pulang sendiri, menikmati aliran darah dari pergelangan tangan yang kugores sejak tadi.

*****

"Kabarnya, kaummu adalah kaum yang lemah." Tiba-tiba saja aku mendengar pertanyaan itu. Koran harian yang sedang kubaca perlahan menurun, agar aku bisa melihat siapa yang mengatakannya. Pria gemuk dengan jambang di sekitar lehernya. Telinga lancip di bawah, membuktikan asumsiku bahwa mereka orang Man-Man, salah satu suku mayoritas di kota ini.

"Ha? Kata siapa?" Aku mencoba mengembalikan pertanyaan. Kuangkat gelas berisi coklat panas dan menyesapnya sedikit. Kuturunkan kembali dengan sedikit anggun, mencoba tidak kalah garang dengan lelaki di hadapanku. "Kami kaum yang kuat kok."

"Oh ya?" Lelaki itu bertanya lagi. Kali ini ia membungkukkan leher, memajukan wajahnya hingga menutup koran yang kubaca. "Apa buktinya?"

"Buktinya?" Aku membalas tatapan merendahkan yang terpancar dari matanya. "Kaum kami berperang selama 1300 tahun melawan Gor-Gor. Dan itu tak terhenti hingga raja mereka mati."

"Wah, sejarah yang bagus." lelaki itu menghisap rokoknya. Lalu setelah dua baris asap keluar, ia bertanya lagi. "Tapi kabarnya kalian takut hujan. Benar, kah?"

"Ah, bukan begitu." Aku memperhatikan pakaiannya, memastikan ia tidak membawa apa pun yang membahayakan nyawaku. "Tubuh kami terbiasa dengan panas. Gurun tempat kami tinggal menyisakan asap dan sinar matahari lebih panjang dari manapun."

Mendengar itu, dia tertawa. Dalam hati, aku merasakan sakit itu. Teman-teman sekampung yang ramai-ramai berimigrasi ke kota-kota besar mengatakan hal yang sama, jadi aku tidak terlalu kaget. Mansaya di planet ini suka merendahkan sesama makhluk untuk membuktikan bahwa mereka yang terkuat. Tak hanya dalam pikiran atau percakapan, tapi juga dalam tindakan: penindasan atas nama kekuatan selalu terjadi. Sepanjang hari, sepanjang hari.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir