Randomly Stories 3: Kaki, Burung Bercahaya, dan Semut
"Aku tidak bisa merasakan kakiku pagi ini."
Di ujung sana, kau terkejut. Lagi-lagi kau mengulang kata-kata yang sama, memintaku mengucapkan lagi apa yang baru saja kukatakan. Tapi aku tak mau mengulanginya. Cukup sekali saja. Agar kau tak pulang, agar kau tak meninggalkan pekerjaanmu demi diriku yang lemah. Maka kututup telepon. kuberikan lagi pada Agung yang memasang wajah khawatir sejak tadi. Ia duduk di sampingku yang berbaring apa adanya, sembari memijat kakiku.
"Itu beneran gak kerasa, Gung." Ia pun mencubit dengan kuku, tapi tetap saja. Aku tidak berteriak atau mengerang sedikit pun. Ketika ia berpindah ke paha, aku memukulnya. Kami adalah sahabat baik dan sudah sejak awal bercanda dengan kekerasan: saling pukul, saing hina, dan bertengkar melawan orang-orang pasar bersama-sama. Tak ada dendam bagi kami ketika memukul tanpa balas. "Tapi jangan kalau paha, dong."
"Kok bisa sih? Kamu makan apa tadi malem?"
"Gak. Gak makan apa-apa."
"Ya tapi kok bisa kakimu gak kerasa apa-apa? Sarafnya mati?"
"Ya kali."
"Ya jangan diaminin, dong."
"Lah, siapa yang ngaminin. Itu nebak."
"Ya udah gak usah nebak!" Kali ini ia marah. Sebagai sahabat, tak pernah aku melihat Agung sekhawatir ini. Namun, bagaimana ia tak khawatir. Tiba-tiba saja ia mendapatkan panggilan dini hari -aku yang menelponnya, lalu dikabari bahwa sahabatnya tak bisa menggerakkan kaki. Ia langsung pergi ke rumahku, masuk kamar dengan mendobrak pintu, "Kenapa lagi kamu?"
Yang merepotkan, tentu saja memberitahu dirimu, kekasih. Kau sudah pergi jauh meninggalkan kampung halaman beserta aku dan teman-temanmu, lalu mendapat kabar buruk seperti ini. Dalam hati, aku berdoa agar kau salah dengar, lalu tak peduli sembari mengerjakan apa pun proyekmu di ibukota. Namun, alih-alih mengabaikanku sebagaimana yang kuharapkan, kau malah menelpon. Dan itu adalah panggilan video.
"Biar aku saja yang mengangkat." Kali ini Agung sedikit mengancam, dengan tangan mengepal yang mengarah padaku. Aku tertawa melihatnya. "Jangan coba-coba kabur. Habis ini kita ke rumah sakit." Aku mengangkat tangan, memberikan gestur tubuh. bagaimana aku bisa kabur? Aku yakin sekali ia masih dendam padaku ketika aku kabur dari rumah sakit dalam keadaan belum sembuh benar. Perutku tertusuk pisau agak dalam, dan penusukku berada di kantor polisi. Aku ingin menemuinya saja, tak ada yang lain.
"Tunggu dulu." ia menghadapkan wajah serius kepadaku, ketika itu."Apa maksudnya ketika kau mencoba untuk menemui kembali orang yang menusuk perutmu di kantor polisi? Itu gak ada artinya sama sekali! Kamu gak dendam sama orang itu? Orang biasa kalau seperti itu akan trauma, Fat! Oh... jangan-jangan kau ingin balas menusuknya di kantor polisi? Gak seperti itu cara bekerja masyarakat, Fat! Bahkan penjahat sekalipun."
"Enggak, Gung. Enggak." Kukatakan padanya sembari memeluk perut. Perban melilit di balik kausku. Keringat bersimbah di seluruh tubuh. Aku mencoba berdiri, tapi tetap saja kesakitan. Ketika saku berhasil duduk di kasur, ia sudah pergi, meninggalkan aku sendiri dalam kamar. Ah, kau pasti tahu kalau Agung adalah anak orang berada. Ia berhasil memesankanku ruang inap yang cukup bagus. Tapi itu sudah lama terjadi. Kali ini aku hanya bisa berbaring di kamarku yang berantakan.
"Kau yakin itu bukan stroke?" Agung kembali dari luar. Aku hendak bertanya siapa yang menelponnya sepagi ini, tapi dia malah bertanya hal seperti itu.
"Nah, kali ini kau yang berdoa."
"Aku hanya menebak."
"Ya jangan!"
*****
Di pagi yang lain, aku berteriak dengan amat keras.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA."
Teriakan itu bisa saja lebih keras dari yang kau bayangkan. Kesadaranku hilang dalam beberapa detik, sebelum akhirnya kembali setelah aku tahu: teriakanku membangunkan teman-teman asrama yang lain. Mereka membuka pintu, bertanya-tanya ada apa denganku. Beberapa mendekat, lalu memeriksa mataku. Keningku tidak panas. Tanganku memang bergetar, tapi aku tidak terlalu terguncang. Ini bukan suatu hal yang menyakitkan, tapi cukup mengagetkan.
"Itu," aku menunjuk ke atas meja." Itu apa di atas meja?"
"Hah? Ada apa emang? Gak ada apa-apa, Rid." Salah satu temanku mengecek meja, lalu menyebut apa saja barang yang yang berada di atasny. "Ini cuma leptop, Rid. Gak ada apa-apa."
Tapi aku benar-benar melihat itu. Terang berwarna-warni menyilaukan mataku.
Ah, Tidak. Warnanya hanya kuning, tapi sangat terang sehingga hampir terlihat putih. Bentuknya seperti... burung. Iya, burung. Kelompok hewan yang memiliki paruh dan bisa terbang. Ketika melihat itu untuk pertama kali, aku tak bisa melihat detail warnanya. Namun, semakin lama, semakin aku sadar burung itu sangat cerah.
Beberapa teman pergi, beberapa teman yang lain menyarankan aku untuk istirahat, alih-alih mengambil wudhu dan bersiap-siap sholat subuh. Tapi aku tak bisa tidur. Mataku masih menatap burung itu, yang dengan anggunnya mengangkat paruh ke arahku. Lalu, ketika semua teman telah pergi, dan aku menyelimuti diri dengan sarung, burung itu melompat kepadaku.
"Hei, jangan panik. Aku Simurgh."
*****
Semut itu merayapi dinding. Di tengah pendakiannya yang rumit -karena jalanan di rumah mansaya kini lebih licin dari dulu- ia bertemu dengan sekelompok semut lain. Dengan tanduk merah nan mengkilap, kelompok itu menyapanya dengan sopan. "Selamat pagi, Pak." Semut yang berjalan sendirian itu pun membalas salam yang serupa, memasang senyum terbaik pagi itu, dan bertanya ala kadarnya. "Mau cari makan sepagi ini?"
"Iya pak." Salah satu semut menjawab. Teman-teman lainnya berhenti untuk menghormati senior mereka yang sendirian itu. "Kami harus berangkat pagi-pagi sekali. Akhir-akhir ini, sangat sulit memburu makanan di tempat tinggal mansaya. Oleh karena itulah kami pergi berkelompok. Pengalaman memburu kami masih belum sehebat anda. Kisah-kisah anda melegenda di rumah-rumah kami."
Ternyata dia pimpinan kelompok. Entah kenapa, semut senior itu tidak pernah menyukai kelompok, atau pun orang yang mengaku pemimpin. Ia bisa saja memerintahkan anak buahnya untuk mengeroyoknya, mengambil buruan yang ia dapatkan dini hari tadi. Tapi tentu saja, kisahnya melegenda dalam rumah-rumah mereka. Tak ada yang berani merampoknya. Bahkan sehebat caladi sekalipun.
"Oh, kalau begitu, selamat berjuang." Ia membalas pujian itu dengan sepotong kalimat motivasi. "Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk berburu. Yang penting, kalian harus menjaga kekompakan." Maka rombongan semut muda itu pergi. Tanduk merah yang terbentuk secara alami di kepala mereka sangat mengkilap, memantulkan sinar matahari yang terbit terlalu cepat. Semut itu menyegarakan langkah kakinya. Ia tak ingin terlambat datang pada kisah-kisah baru yang hendak ia terbitkan.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?