Randomly Stories 2 by Fathia
"Eh, Din. Boleh Minta foto, gak?"
Wanita itu menoleh, melihat padaku dengan wajah yang terkejut. Aku hanya bisa tertunduk malu, tersadar sendiri akan kebodohanku selama ini. Teman-teman lain selalu berfoto bersama, dengan wajah yang riang gembira, bercampur jadi satu frame yang luas nan indah. Aku tak pernah berfoto sebelumnya, selain pada studio-studio kaku yang penuh dengan peralatan lighting dan semacamnya. Dan kini, dengan segenap keberanian aku mencoba maju, menghadapi sosok yang kukagumi diam-dia selama ini.
"Oh, boleh kok Fat. Berdua?" Aku mengangguk. Lalu dia dengan sigap meminta tolong pada teman lain -yang ternyata kaget juga melihat aku mau berfoto dengan wanita tercantik di tempat ini. Kami mengambil foto beberapa kali, dengan senyum seadanya sedangkan dia memasang senyum indah -itulah wajah yang kukagumi selama ini di kelas, selain juga wawasannya yang luas dan kemampuan analisisnya yang tajam. " Makasih, ya. Jarang-jarang lho aku punya foto bareng kamu."
Aku tertegun, tidak menyangka dia akan berkata seperti itu. Aku lantas mengorek-ngorek telinga, memastikan aku tidak salah dengar, hingga aku terlambat merespon, "Sama-sama." lalu mengoreksi perkataanku. "Eh, harusnya saya yang terimakasih, Din. Udah mau ngasih kesempatan." Tapi dia malah memukulku pelan, dengan tepukan yang membuatku sedikit kaget. "Santai aja kali. Kan kita temen sekelas."
"Ya udah ya. Saya mau balik dulu." Aku berpamitan dengan kata-kata standar, tak ada basa-basi, karena aku tak tahu bagaimana berbicara panjang-lebar. Setelah mengambil tas, aku pergi dengan senyum yang merekah, sedikit malu-malu kepada Dinda.
*****
Aku tak tahu bagaimana harus membayar puisi, lalu meletakkannya dalam ruanganku yang sempit.
Oleh karena itulah datang Rinda, salah satu sahabat baikku, ke rumah dan memeperhatikan kamarku yang penuh sesak. Meja belajar penuh dengan catatan, kasur penuh dengan buku, dan papan tulis di tiga sisi yang tak lepas dari corat-coret harianku. "Kamu tidur di sini, Fat?" katanya sembari menyingkirkan satu dua benda yang terserak di lantai, menendangnya ke tembok atau ke arah tumpukan barang yang sejenis. "Jangan bilang kamu betah di sini."
Rinda membuka lemari pakaian, kotak kayu yang tinggi tempatku menyimpan buku-buku di bawah tumpukan baju. Ia tambah heran, lalu memperlihatkan wajahnya yang bertanya-tanya ke arahku. "Ada apa ini? Ajaran agama apa yang kamu anut sampe bikin lemari baju jadi rak buku? Hah??" Aku tau ia bertanya dengan emosi, maka aku sedikit tertawa, lalu menjauh ke arah pintu. "Sana sana, biar saya aja yang urus kamar kamu." Ia membuka jendela, membiarkan cahaya matahari merasuk, menggantikan lampu kamar yang selama ini menjadi penerang satu-satunya. "Kamu bikin apa kek, teh atau minuman dingin buat saya."
"Oke-oke." jawabku sembari meluncur ke dapur, mengeluarkan isi kulkas dan mulai memasak. Aku meneriakkan nama Rinda, lalu ia -dengan wajah penuh debu- muncul di tepi pagar. "Serah, Fat. Yang penting enak." Ia berpikir sebentar, lalu kembali berteriak. "Tapi emang masakan kamu kan enak semua ya. " Aku tertawa, lalu meninggalkan dapur untuk mengecek tabung gas di depan rumah, apakah masih ada. Akan repot sekali, kalau aku harus keluar lagi lalu membeli gas ke warung dekat musholla.
Tiba-tiba aku terhenti. Suara mendesis terdengar jelas seiring dengan bau tak sedap. Aku segera berlari menuju dapur dan memeriksa kotak gas. Ketika kubuka...
DAARRR!!!
Aku masih mengingat bagaimana aku terlempar. Dua tiga meter aku mengukur dalam ingatan yang samar. Dari dapur, aku mendarat di ruang tamu yang terpisah beberapa langkah. Punggungku menabrak pintu depan. Bagian kiri pinggangku bahkan tergores sudut meja kaca, lalu menjatuhkan gelas-gelas penuh kopi sisa tamu tadi pagi.
Aku berusaha bangkit., tapu rasa nyeri itu menjalar ke seluruh tubuh. Mataku samar-samar melihat kobaran api hingga langit-langit. Aku hendak meraba dahulu, di mana kacamataku terjatuh. Dari atas, suara lirih terdengar. "Fat? Fathia?." Ah, ada Rinda. Langkah kakinya terdengar menuruni tangga. Aku mencoba menoleh, tapi bahkan leherku juga tak mau sedikit berputar. Akhirnya, aku hanya mampu memanggilnya dengan suara tak kalah lirih.
"Rin, Rinda."
Ia mendengarku dan begegas menuju ke pintu depan. Ketika nampak wajahnya, aku tersenyum. "Sorry, Rin." aku mencoba sedikit bicara. "Minumannya gak jadi. Dapurnya hancur."
Ia diam saja, lalu berteriak keras hingga pingsan. Rinda terbaring di lantai. Tubuhnya menghantam lantai cukup keras.
Dan setelah lama api berkobar, aku bangkit dan menengok lemari kaca. Dari pantulannya, aku melihat diriku yang terbakar hingga penuh darah.
*****
"Gak ada yang namanya kayak gitu, Mas. Di sini penduduk asli semua. Jarang sekali ada pendatang seperti sampeyan ini. Apalagi sampe punya nama begitu itu." Lelaki itu dengan sopan berdiri dan menundukkan kepala. Aku bertanya kepadanya tentang seseorang dengan nama tertulis di kertas. "Gak ada fotonya ta, Mas? Barangkali kalau ada fotonya bisa saya bantu."
"Gak ada e, Mas. Anak ini gak pernah mau diambil fotonya." Aku ikut menundukkan kepala, takut-takut bersikap tak sopan. Meskipun tidak ramai, tanah yang kuberdiri di atasnya ini adalah sebuah kampung tepi kota. Terpisah secara sosial, kampung ini dibatasi sebuah sungai besar dan pepohonan sawit. "Nanti saya ke sini lagi aja, Mas. Barangkali gak ketemu sampai malam. Oh, iya. Kalau boleh tahu, rumah kepala desa di mana, ya?"
"Oh, rumah Pak Dani?" Iya mencoba meyakinkanku dengan sebuah nama yang asing, tapi terdengar berkarisma. Aku mengikuti langkah kakinya keluar dari warung, meninggalkan segelas kopi dan sepiring gorengan. Ia menengadah mengahadap langit lalu berbicara, "Sampeyan lurus terus ke utara, nanti ketemu musholla belok kiri. Nah, kalo ketemu pohon trembesi di kanan jalan, itu ada rumah Pak Dani. Rumahnya cukup besar kok, Mas, jadi bakal ngerti sendiri sampean."
Aku menganggukkan kepala, lalu berpamitan pada warga. Kususuri jalan besar pebuh bebatuan, dengan kaki yang terseok-seok di setiap langkahnya. Aku cukup memerhatikan rumah-rumah di desa ini, yang dipagari satu meter dari tanah maupun dipagari batu saja selutut. Bebungaan mekar, di samping daun sirih, lidah buaya, dan cabai. Pepohonan trembesi cukup tinggi di sini, seolah-olah selalu ada yang ditebang setiap bulannya. Yang hampir menyaingi, tentu saja pohon kelor.
Tiba-tiba aku teringat desa, teringat pada sesuatu yang tak cukup asing pada masa laluku. "
*****
Randomly Stories by Fathia adalah kumpulan kisah pendek, yang ditulis tanpa niat, tanpa konflik, dan tanpa ambisi. Inspirasinya datang dari pengalaman sehari-hari, bertemu dengan orang-orang akrab, dan mendatangi tempat-tempat terdekat. Oleh karena itu, jika ada kesamaan nama, peristiwa, dan latar belakang tempat atau waktu, itu adalah tanggung jawab penulis pribadi.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?