National Geographic Desember 2019: Antara Arkeologi dan Kepunahan


Pada 2011, Yuval Noah Harari menerbitkan bukunya Sapiens untuk pertama kali dan telah menimbulkan banyak perdebatan terkait isu kemanusiaan. Para penikmat buku-bukunya mempertanyakan lagi identitas dan sejarah manusia: Siapa kita? Apa tujuan manusia diciptakan? Apa gunanya bonus kognitif dalam akal kita? Yuval tidak menyediakan jawaban. Ia hanya memberikan gambaran besar, apa saja yang telah kita lakukan sebagai suatu spesies sepanjang sejarah bumi.

Salah satu isu yang Yuval tolak adalah kelangkaan sumber daya alam. Menurutnya, "..., sumber daya yang tersedia bagi umat manusia terus meningkat, dan mungkin akan terus begitu. Itulah mengapa ramalan-ramalan mengenai kiamat akibat kelangkaan sumber daya sebenarnya keliru." Sebaliknya, ia lebih tertarik -atau prihatin- pada isu lain, "Berbeda dengan itu, rasa takut akan kerusakan lingkungan memiliki landasan yang luar biasa kuat."  Tak lupa, ia juga menekankan bahwa, barangkali manusia akan terus menerus memeras sumber daya alam dan memperbaharuinya, namun manusia akan terus merusak. Itulah yang kemudian dijelaskan secara lebih dingin dalam National Geographic edisi akhir tahun kemarin.

Lalu, apa saja yang terjadi?

Burung yang punah. Selama ini masyarakat akan mengira hilangnya habitat menjadi momok utama langkanya semakin sedikitnya spesies burung. Hal itu tak sepenuhnya salah. Namun, angka yang lebih besar ditunjukkan oleh kucing liar (1.768 juta). Mereka menjadi pembunuh nomor satu, mengalahkan kucing rumahan (764 juta), bangunan tinggi (624 juta), mobil (213 juta), dan tiang listrik (55 juta). Noah Stryker juga menjelaskan dalam bagian ini bagaimana pemerintah dapat mengadopsi ide-idenya untuk mengebiri kucing liar, meskipun harus melewati berbagai konflik kepentingan, seperti komunitas burung dan komunitas kucing. Banyak pihak yang terlibat, tentu saja.

Jerapah yang tersisa dalam empat spesies di Afrika. Dan lagi, hal itu diperburuk dengan persebaran yang tidak merata: antara tengah dan selatan benua. Maka, konservasi buatan dengan memindahkan spesies secara perlahan dilakukan, dengan harapan tidak hanya jerapah di satu wilayah yang mampu berkembang pesat secara kuantitatif, namun semua wilayah jerapah yang tersisa dapat diselamatkan. Belum lagi, manusia pelindungnya juga harus berjibaku dengan perang yang kapan saja dapat terjadi.

Kepunahan besar-besaran.  Sudah bukan rahasia bahwa hal ini sudah lama terjadi dan akan terus terjadi. Yuval dalam bab-bab awal Sapiens menjelaskan bahwa sejak manusia berhasil membuat kapal, meninggalkan Afrika-Asia dan menyeberangi laut hingga ke Australia, leluhur kita telah membunuh setidaknya 60 persen spesies burung dan berbagai macam megafauna. Bahkan, hal itu terus terjadi hingga saat ini.

Apa sih yang menyebabkan kepunahan? Dahulu, hanya meteorit yang menghantam bumi lalu menghasuskan semua spesies dinosaurus -setidaknya itulah argumen terkuat hingga saat ini. "Kini, penyebabnya beragam: pembalakan, perburuan liar, penyebaran patogen, perubahan iklim, penangkapan ikan berlebih, dan pengasaman laut."  Begitulah yang diungkap Elizabeth Kolbert, peraih Pulitzer itu. Lalu, siapa yang menjadi aktor utama dari semua aktivitas itu?

Manusia. Oleh karena itulah, sejak manusia -utamanya sapiens- muncul dan berhasil mengendalikan alam, masa geologis ini disebut antroposen. Namun, karena kepunahan yang diakibatkannya, naturalis E.O Wilson lebih suka menyebut masa ini sebagai eremozoikum: masa kesepian, di mana setiap waktu kita hanya dapat berjumpa dengan sesama manusia, atau paling tidak, dengan fauna yang mereka konsumsi.

Bahkan, dalam pembahasa utama paling akhir, NatGeo edisi kali ini masih saja membicarakan kepunahan. Ikutilah kisah Richard Conniff mengunjungi Royal D. Suttkus Fish Collection, Tulane University, New Orleans, tempat di mana jutaan koleksi spesies ikan diawetkan dalam alkohol, lalu menjadi objek penelitian yang cukup lengkap dalam mengungkap perubahan alam. Apa lagi yang bisa dipelajari? Banyak tentunya. Namun, yang utama, adalah melihat bagaimana pengaruh manusia yang merusak terhadap alam.

Arkeologi

Sebenarnya, ada dua bab utama dalam pembahasan edisi kali ini yang terlihat cukup menarik. Yaitu tentang isu arkeologi di bawah padatnya Yerusalem, tanah tempat tiga agama langit menetap dan berebut hak hingga saat ini. Sebagian arkeolog Israel dengan tegas menolak proyek mereka masalah politis, namun penduduk muslim yang dirugikan dengan robohnya rumah-rumah mereka akibat penegboran bawah tanah juga turut bersuara. Ketegangan semakin memuncak. Mungkin hanya masalah waktu ketika arkeologi sebagai ilmu pengetahuan tak bersifat manusiawi.

Di sisi lain, penggalian besar-besaran di seluruh dunia telah membuka peluang orang-orang kaya untuk mengoleksi fosil-fosil Dinosaurus dalam kamar-kamar mereka yang megah. Awalnya, niat ini mulia: memberikan modal kepada para arkeolog juga kurator museum untuk memperbanyak koleksi. Namun, manakala hasrat pribadi terkumpul -dan itu tidak salah, maka dataglah fosil-fosil itu menuju ruang privat. Akibatnya, tentu saja mempersulit penelitian lanjutan serta publikasi yang lebih luas. Lagi-lagi, arkeologi sebagai ilmu pengetahuan dihadapkan pada situasi sulit terkait etika.

Bagi yang tidak memikirkannya, itu terserah mereka.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir