Jatuh Cinta pada Go Ara di Miss Hammurabi (2018)


Tak terlupakan bagi kita warga Endonesa dan penikmat meme sekalian di penjuru Nusantara, akan kepopuleran seorang mahasiswi hukum sebuah kampus negeri di Jogja. Bernama Leanna Leonardo, wanita satu ini populer akan fotonya menggunakan jubah hakim, lalu diikuti komentar netizen (yang beringas dan tak masuk akal), hukum aku dong! Tai. Warga negara macam apa yang minta dihukum tanpa alasan yang jelas. Kalau saya berada dalam posisi Mbak Leanna, saya akan menjatuhkan hukum penggal kepala dan penyaliban silang. Sayang sekali, itu tak mungkin terjadi.

Tapi begitulah cinta. Ia membutakan siapa pun yang berada di dekatnya sehingga rela melakukan apa saja yang tak mungkin sebelumnya.

Saya merasakan hal yang sama, namun bukan pada Mbak Leanna. Kali ini, saya jatuh cinta pada Go Ara, dengan kualitas aktingnya yang memesona sebagai Hakim Park Cha Oh-reum dalam Ms. Hammurabi (2018). Berduet dengan anggota grup idol Infinite, Kim Myung-soo, mereka memainkan peran sebagai duo hakim berandal yang seenaknya sendiri. Hakim Park baru menjadi hakim, sehingga selalu bersemangat dan idealis. Sebaliknya, Hakim Im sangat didaktis, memegang prinsip, dan taat peraturan. Meski berbanding terbalik, keduanya mamppu menuntaskan kasus-kasus sederhana dengan cara yang hebat.

Cerita

Dengan premis awal seperti itu, apa yang menarik dalam drama koryah satu ini? Tentu saja kita akan disuguhi kisah cinta. Saya tidak tahu pasti adakah drama koryah semacam ini sebelumnya. Tapi keputusannya untuk menampilkan kisah cinta antar dua hakim berbeda pandangan membuat saya terus menontoon hingga habis 16 episode. Tak hanya berkutat dengan istitusi hukum tertinggi di koryah (yang ternyata busuk dan penuh bau bangkai), namun hakim juga berinteraksi dengan latar belakang korban, norma sosial masyarakat yang berubah, dan lapisan masyarakat lainnya.

Semboyan 'tajam ke atas, tumpul ke bawah' sempat menjadi prinsip pribadi Hakim Park, namun ia segera diingatkan tentang bagaimana 'semua sama rata di mata hukum. Tak hanya itu. Ketika datang kasus yang sulit dan ia memberikan keputusan yang terkesan amat memberatkan, ia juga diingatkan bahwa hakim lah yang sebenarnya berkuasa dan berbahaya dalam ruag sidang, sehingga patut untuk memberikan putusan yang paling adil, baik bagi penggugat maupun terdakwa.

Kisah cinta tak bergulir setenagh-setengah. Ia dimulai sejak awal, flashback ke masa SMA, hingga ke masa-masa sulit Hakim Park di episode-episode akhir. Meski tidak selalu berkutat pada Hakim Park maupun relasi love-hate nya dengan Hakim Im, Ms. Hammurabi juga berkisah tentang dinamika peradilan. Saya belajar sedikit tentang norma pengadilan, orang-orang yang berperan, dan bagaimana hierarki senioritas masih berlaku di negara itu. Sebagaimana drama koryah lain, Ms. Hammurabi berhasil membuat penontonnya -terutama saya- menangis, tertawa, dan merasa paling pintar.

Bintang Empat

 Sebelum menonton Ms. Hammurabis secara maraton di Iflix, saya juga menonton At Eighteen (2019), sebuah drama SMA yang setengah awalnya asik karena dipenuhi intrik, namun sisanya kisah cinta diam-diam yang kemudian memberikan solusi akan permasalahan di awal. Diperbadingkan dengan drama satu ini, akan terasa tidak adil. Oleh karena itu, saya akan memberikan penilaian secara general.

Saya tak banyak menonton drama koryah dan pengetahuan saya akan hal itu masih minim. Mohon dimaklumi, saya sedikit tertanggu dengan K-Popers. Namun, ketika melihat hebatnya cerita, kuatnya penokohan, dan variasi latar yang tinggi, saya yakin dengan penilaian saya. Ms. Hammurabi sangat direkomendasikan, setidaknya untuk memberikan nilai-nilai sosial. Go Ara... ah. aktris satu ini sangat hebat. Meski tidak terlalu cantik, wanita sederhana seperti dia adalah tipe saya seungguhnya. Jangan tanya bangaimana kualitas aktingnya. 

Ia sempurna.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir