Insiden dan Kematian: Agung Arjuna Bagian Dua


"Aku bukan lelaki baik-baik." ia pernah berkata pada suatu waktu, "Jadi, akan lahir luka-luka baru di tubuhku, setiap hari. Ku mohon kau mengerti, agar nantinya kau tidak perlu khawatir." Aku mengangguk, dan selalu mengangguk, mengingat ketika itu aku hanya terpana pada wajahnya. Ia tidak terlalu tampan, tapi raut mukanya menunjukkan keseriusan. Ia berbicara dengan nada yang dalam dan hal itu selalu membuatku terpukau. Ia adalah lelakiku, hingga saat aku mengetahui kebenarannya.

Luka-luka itu nyata, muncul dalam setiap garis kulit Agung, seolah-olah memang akan muncul setiap pagi, lalu sembuh ketika matahari mencapai teriknya sebelum dhuhur. Luka itu tidak sembuh ketika malam, melainkan berganti dengan luka-luka baru esoknya. Tubuh Agung semacam kebun pisang, yang melahirkan tunas-tunas baru manakala pohonnya ditebang. Aku menyaksikan hal itu dengan tangis mengalir. Sebagai kekasihnya, aku bisa apa?

Indra menenangkanku. Ia memelukku erat, lalu menawarkan pundaknya agar dapat menjadi tempatku menangis. Ia adalah salah satu teman dekatku, juga teman dekat Agung. Kami duduk di kursi besi abu-abu, dalam lorong yang mengisi kesepian dan ketegangan dalam hati. Lain kali, aku ingin berteriak sepuasnya, agar tekanan ini menghilang, terangkat bersama beban-beban kehidupan. Tapi sayang, Agung masih berada di sana, di kedalaman hati yang paling dasar.

Kami sudah lama bersama. Sejak kecil, aku bermain dengannya: berlari di taman, saling melempar kerikil, dan kabur dari penjual cilok yang kami minta secara gratis. Aku mengenal kedua orangtuanya dan kakak laki-lakinya -yang kemudian berpisah dari Agung dan aku menemaninya hidup sendiri. Sejak SMP, Agung tinggal di rumahku dan ia menjadi semakin tampan dari hari ke hari. Entah apa penyebabnya, mungkin karena memang aku sudah memasuki masa di mana aku menyukai lelaki semacamnya.

Meski selalu bersamanya, ada masa di mana Agung hanya ingin bermain dengan teman-teman lelakinya. Indra, adalah salah satunya. Mereka menjalani kenakalan-kenakalan SMA, aku tahu itu. Yang tidak kuketahui, adalah bagaimana ia harus bermain nyawa dengan semua ini.

*****

"Ia menabrak mobil, Na." Aku memasang wajah heran? Kecelakaan ini bukanlah ia yang ditabrak mobil, tapi menabraknya? "Iya. Agung dengan sengaja menabrak mobil itu." Ia memperlihatkan foto mobil Pajero hitam yang membawa pejabat kota, dengan lengkungan ke dalam. Pintunya hampir lepas dan sudah miring ke bawah. Aku mengambil foto itu, lalu memperhatikannya lebih seksama. Memang ada bentuk seperti tubuh manusia, tapi aku tetap tak percaya.

"Jadi ini yang Agung lakuin sama kalian?" aku marah, memukulnya dengan foto itu, lalu melemparnya kembali ke arah Indra. Ia tak mampu menjawab dan hanya bisa bisa menunduk. "Apa motivasi kalian ngelakuin hal kayak gini? Kenapa harus mainin nyawa? Apa gak ada hal lain yang bisa dilakuin anak laki?" Indra mendekat, lalu menghapus air mata dari pipiku. Aku dengan tak sadar menangis, memeluk Indra lagi. Ia mencoba menenangkanku.

"Kamu emang ceweknya, Na." ia mengelus rambutku, dari atas hingga ujung paling bawah. Bibirnya di telingaku, berbisik di tengah-tengah lorong yang kini penuh ramai. Jarum di dinding menunjukkan angka sembilan. Para pembesuk dan pengunjung berlalu-lalang, dan Indra menyembunyikan aku dalam pelukannya. Ia tak mau orang-orang tahu aku menangis, dan aku tak ingin lama-lama menangis. Dokter yang mengurus Agung belum keluar, padahal aku menunggu kabarnya.

Aku memutuskan pulang, dengan menitipkan kabar Agung pada Indra. Jika ada satu pun kabar, meski itu kabar buruk, aku minta Indra memberitahuku. Meski itu datang pada tengah malam. Meski itu mendatangkan kesedihan. Ayah membawaku pulang, meninggalkan Indra di depan ruang ICU. Sepanjang perjalanan, aku tak berhenti menangis. Ayah fokus menyetir, menghadap jalanan ramai. Ia tahu aku tak akan berhenti hingga tertidur. Dan aku tertidur bahkan sebelum mencapai rumah.

*****

Esoknya, aku memutuskan untuk tak pergi kuliah. Beberapa SKS memang harus ditempuh hari ini, tapi aku lebih memilih libur. Aku bersiap-siap pergi ke rumah sakit, meminta cerita yang lebih lengkap, tentang insiden Agung kemarin.

Halo Nana, Halo Nana. Bangun. Suara Agung berdering dari ponselku di atas meja. Nada dering itu masih kupakai hingga saat ini, berharap ia bangun dan kembali menatapku. Layar ponsel menunjukkan nomor Indra, dan aku segera mengangkatnya. Hatiku menyimpan doa-doa, semoga anak ini mendatangkan kabar baik. Lalu aku menjawab salamnya dan dia memberiku semangat untuk pergi ke RS sepagi ini.

"Agung bangun, Na." aku mendengar Indra terisak. "Cepet ke sini." Aku pun segera meminta supir mengantarku ke RS dan kami meluncur tak lama setelah panggilan itu. Jalanan tak terlalu ramai. Kota ini masih sepi dibanding metropolutan di sekujur negeri. Aku berharap Agung dapat bercerita lebih lengkap, tentang bagaimana ia 'menabrak' mobil, menggulingkan sebuah Pajero ke pinggir jalan. Aku tak tahu Agung sekuat itu, apalagi keberaniannya melakukan hal semacam itu.

Sampai di sana, aku segera keluar dari mobil dan berlari ke dalam RS. Agung dirawat di lantai empat dan aku harus menunggu lift yang penuh sesak. Beberapa orang berseragam cokelat masuk ke lift dan naik bersamaku. Tingginya harapanku untuk bertemu Agung membuatku tidak sadar, siapa orang-orang yang berada di sekitarku. Maka, ketika pintu lift terbuka, aku segera keluar, mencari lorong di mana Indra menungguku dan pintu ruang inap Agung yang terbuka.

"Nana, Nana." anak itu dengan wajah pucat menghampiriku. "Jangan ke sini dulu. Jangan ke sini dulu." Indra tegang. Aku bisa merasakan nafasnya yang memburu.

"Kenapa, Dra? Ada masalah apa?"

"Kamar Agung ada yang jaga," Indra menarikku menjauh, bersembunyi dalam suatu ceruk kecil dekat tangga. "Tadi saya ke hammam bentar. Eh, balik-balik, udah banyak orang berseragam yang di depan kamarnya."

"Mana berseragam?" Aku mencoba mengintip, tapi ia menarik kepalaku kembali.

"Ya ga semua sih, ada juga yang pake baju preman. Tapi mereka semua nyamar."

"Kamu tau siapa mereka?"

"Kayaknya sih kiriman dari pejabat?"

"Hah?" Indra melihat wajah heranku, sembari kami sesekali mengintip. Ada dua puluhan laki-laki di sana, dengan tinggi di atas rata-rata dan beberapa orang tampak seperti orang asing.

"Iya." Indra mengajakku duduk di lantai, mencoba membuatku tenang dahulu sebelum ia mengatakan apa pun yang sekiranya akan menimbulkan reaksi yang berlebihan. "Sebenarnya, Na. Agung kemarin nabrak mobil pejabat. Entah apa posisinya, tapi dia dari Jakarta. Gak mungkin dong pejabat rendahan."

"Maksud kamu pemerintah pusat?"

"Ya, semacam itulah."

"Terus, terus?"

"Dan orang itu akhirnya ngirim preman ke sini."

Aku menghela napas panjang. Indra sama bodohnya dengan si Arjuna. "Kalo itu masih bisa ditebak, goblok." aku memukul kepalanya. Tak kusangka dia memberiku informasi rendahan semacam itu. "Yang sekarang aku tanya apa alasannya? Kenapa Agung sampe nabrak mobil?"

Indra terdiam. Dia menundukkan kepala dan aku memutar mata. Aku benci laki-laki. Mereka selalu tidak jujur, menyembunyikan apa yang musti dikatakan. Begitu pula dengan Agung. Aku kembali mengintip, dan di depan kamar Agung masih ada beberapa orang mondar-mandir. Entah mengapa, aku selalu berpikir orang-orang itu berkurang. Dan ketika aku menoleh lagi, hendak berbicara dengan Indra, ia tak ada.

Bajingan, umpatku dalam hati. Beberapa detik kemudian, timbul kegaduhan. Preman-preman di depan kamar Agung bubar, berlarian ke dua arah mengikuti lorong. Aku pun berdiri dan menemukan suatu benda keras terjatuh. Suaranya nyaring, tepat di bawahku. Ketika aku memungut benda itu, tampaklah bahwa Indra meninggalkanku sebuah Nokia lama. Aku kembali melihat kamar Agung, dan tak ada seorang pun berdiri di sana. Bergegas aku berlari, menggeser pintu dengan keras, dan tampaknya mengerti apa yang terjadi.

Agung gak ada. Ranjangnya kosong meninggalkan selimut dan bantal yang berantakan. Sebuah pesan muncul dari Nokia lama itu, dan aku membukanya. Dari Indra, "Agung kabur. Dia minta temenin." Aku menelpon nomor itu, dan seperti yang kuperkirakan, tidak tersambung.

Dua detik kemudian aku berteriak sangat kencang, sehingga beberapa suster datang.

*****

temui aku di bulan september tahun ini
aku berjanji membawamu pergi
tapi kau tahu, bekalku belum mencukupi 
hingga ia doa-doanya larut di laut dan mati

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir