Catatan Seorang Panitia Inisiasi 2019: Selorejo, Dau
Hari Pertama
Saya berangkat dari pondok, menunggu pukul delapan sesuai dengan anjuran teman yang menjadi CO divisi. Saya memutuskan untuk berjalan kaki, menuju Gazebo FK tempat beberapa teman, maba peserta inisiasi, dan tiga truk menunggu. Jalanan UIN dan Kerto masih sama, tak banyak berubah kecuali terop yang dipasang untuk acara warga. Saya datang dengan sarung dan kaus putih, mengingat sejak hari Kamis itu semua perkuliahan diliburkan. Hanya hingga besok, tentunya.
Sampai di sana, kami menunggu dosen yang akan memberikan satu-dua sambutan sebagai pembukaan pemberangkatan. Beberapa dosen dihubungi, tapi karena berbedanya kecepatan respon antara satu dosen dengan yang lain, maka datanglah dua dosen kami sekaligus: Mas Doni dan Pak Manggala. Beberapa patah kata diberikan, lalu kami dipersilahkan berangkat menuju lokasi penelitian. Saya menaiki truk nomor tiga, sebagai medis yang berjaga, khawatir kalau-kalau ada peserta yang tak siap sejak awal.
Dan benar saja: ada peserta inisiasi yang sudah jatuh di hari pertama. Seorang gadis kecil merasa tidak kuat dan asmanya kambuh. Yang parah, asmanya mencapai tahap di mana tubuhnya kaku dan kami tidak hanya membawakan dia oksigen, tetapi juga membawanya ke rumah sakit terdekat. Kepanikan melanda diri saya dan teman yang membawanya ke RS UMM, terutama ketika melihat kaku tangannya dan sesak napasnya. Sepanjang perjalanan, saya hanya bisa berdoa, bersholawat, dan berharap yang terbaik sembari memegangi tangannya.
Alhamdulillah, sesampainya di RS, dokter yang berjaga memberikan penanganan terbaik. Saya memanggil petugas untuk membawa junior kami yang sakit dan mengangkutnya dengan kasur dorong. Setelah itu, saya dan teman panitia mendaftarkan namanya. Di titik itu, kami menyadari suatu hal: kami sama-sama tak mengetahui nama anak ini. Untungnya, setelah dicari-cari, kami mendapatkan data peserta dan mengkonfirmasi identitas lengkapnya. Setelah itu, kami mengunjungi kembali anak itu yang ternyata -tak lama kemudian- sudah siuman.
Kami mengajaknya berbicara, dan saya mencoba melontarkan beberapa lelucon yang ternyata berhasil. Saya benar-benar tak menduganya. Baik teman saya maupun junior itu sama-sama tertawa. Dan akhirnya, anak itu meminta untuk kembali ke lapangan penelitian, menyusul teman-temannya yang sudah memulai acara dengan pembukaan di balai desa. Saya dan teman panitia mencoba menahannya agar lebih lama beristirahat, terutama agar ia tak jatuh sakit kembali. Tapi ia memaksa. Akhirnya, kami kembali lagi ke lapangan penelitian dengan keadaannya yang sudah baikan.
Siang itu, adalah agenda pertama turun lapangan, baik bagi peserta inisiasi maupun panitia. Di lapangan, ada beberaopa divisi yang turut menjaga: advisor, keamanan, dan kami -medis. Saya bertugas di Pos RT 9, depan deretan rumah warga. Esok harinya, pos itu kemudian berpindah secara lamai ke musholla karena lebih nyaman. Pada suatu kesempatan, seorang teman dari divisi PDD yang termasuk akrab datang ke pos dan saya berkesempatan untuk bertanya tentang kisah asmaranya. Dari situ, saya dapat belajar banyak hal tentang hubungan asmara zaman modern: pacaran.
Malamnya, ketika saya mencoba mendapatkan sinyal yang bagus di ground, saya mendapat pesan di grup WA kelompok PKM yang juga dianggotai oleh dosen, bahwa proposal PKM kami diterima dan lolos fakultas. Saya segera mendatangi teman se-tim dan memberinya kabar di tengah-tengah acara. Mereka berdua tampak senang dan kaget. Untungnya hal itu tidak mengganggu jalannya acara kami dan kabar itu sesungguhnya menjadi motivasi agar cepat menyelesaikan tugas ini: menjadi panitia inisiasi.
Hari Kedua
Saya terbangun ketika adzan subuh terdengar. Dinginnya udara mencapai titik di mana saya harus berselimutkan sarung. Oleh karena itulah saya kembali tidur setelah sholat subuh. Satu-dua jam selanjutnya, kami -seluruh kru medis- terbangun lagi. Ketua divisi kami -yang mangkelin sumpah- rame sendiri agar kami terbangun. Maka saya paun memaksakan diri untuk bangun, sembari merasakan rasa pegal di kedua bahu. Tak hanya itu. Rasa pegal itu juga menjalar ke lengan.
Belum sempat saya meminta pijat kepada teman-teman di tenda, beberapa teman lain mengeluhkan hal yang sama. Maka saya pun menawarkan diri untuk memijat, tanpa bayaran. Saya tidak terlalu berbakat sebenarnya. Tapi tangan yang kuat dan pijatan yang lembut selalu menjadi jurus ampuh saya menghadapi persoalan capek fisik dan semacamnya. Selanjutnya kami mengikuti senam dan rangkaian acara lain, bersiap-siap untuk turun lapangan.
Di sela-sela kegiatan, saya menyempatkan diri untuk turun ke desa, menghampiri musholla dan memasuki toiletnya untuk buang air yang tertahan sejak pagi. Ketika saya kembali ke atas, acara sudah selesai dan sembari menunggu komando untuk ikut turun lapangan, kami menyempatkan diri untuk tidur pagi. Yah, bukan sesuatu yang baik sebenarnya. Tapi mengingat hari kemarin yang melelahkan dan hari ini yang kemungkinan besar sama capeknya, tidur pagi bukanlah suatu masalah serius.
Saya menulis catatan ini dalam buku kuliah: tepat ketika saya harus berjaga di pos RT 9, musholla kecil yang tidak terdengar satu pun kumandang adzan. Entah mengapa. Ukurannya sangat kecil, bahkan ketika harus dibagi menjadi dua bagian, jamaah laki-laki dan perempuan. Ada satu mik dan seperangkat amplifier. Ketika saya membuka lemari kaca, ada beberapa mushaf qur'an yang rusak tidak terawat. Tidak ada yang utuh hingga dapat dibaca dengan baik.
*****
Wajah-wajah mahasiswa baru hari ini sungguh cerah. Mereka melakukan penelitian dengan semangat yang tinggi: mencari informan, mendatangi rumah demi rumah, menyapa warga di jalan dengan senang hati dan ramah. Langkah demi langkah penelitian mereka lakukan, membawa mereka pada pengetahuan yang sepenuhnya baru dan akan membekas nantinya pengalaman itu dalam benak mereka.
Berkelompok mereka berjalan, menyendiri ketika menyusun dan merangkum hasil penelitian. Malamnya, mereka akan mempresentasikan proses penelitian: lalu dihantam dengan pertanyaan-pertanyaan dan protes yang didominasi penolakan. Esoknya, mereka akan menyusun lagi penelitian dengan rangkuman yang baru: entah di bagian atau sub-bab apa. Saya, dalam beberapa kesempatan sharing dengan advisor, mendapatkan sebagian pengalaman dan pengetahuan itu.
*****
Seorang nenek berjalan dari arah bawah. Jika kiblat sholat menghadap ke atas, maka ia datang dari arah Timur. Ketika berjalan, ia melangkah dengan sangat amat pelan. Tangannya bersandar pada sesuatu di jalanan, apapun itu: tembok atau sekedar tanaman kecil yang tumbuh agak tinggi di tepi jalan. Terhadap mobil Kijang yang dipakirkan di depan sebuah rumah dekat dari pos, ia mengintip ke dalam sebentar, melalui jendela sopir yang terbuka, lalu melihat pantulan wajahnya di kaca spion sembari tersenyum.
Kain kembennya sudah koyak, memperlihatkan kaki kurusnya yang coklat nan kering. Ia sadar dan mencoba menutupinya, lalu melanjutkan jalannya yang pelan. Ketika lewat di hadapan saya, ia mempersilahkan saya mendatangi rumahnya yang kecil dan tampak kumuh dari depan. Saya mulai penasaran ketika ia urung menyeberang dan malah mendatangi tempat sampah tetangga, lalu mengubek-ubek isinya. Saya hanya bisa menatap dan bertanya-tanya: ada apa dengan nenek ini?
Saya pun beranjak dari tempat, mencoba mengikuti nenek itu yang berjalan ke rumahnya dengan sangat amat lambatr. Ketika wanita-wanita lain di desa ini berjalan dengan semangat yang tinggi dan mondar-mandir kesana kemari, nenek itu hanya melangkah kecil, sembari sekali-kali memergoki saya yang mencoba memerhatikannya. Sial. Nenek ini malah berjalan memutar: seolah-olah ia menghitung satu demi satu dahan pohon yang akan jadi kayu bakar di rumahnya tapi kini masih bersandar pada pagar tinggi milik tetangga.
Saya berdiri tepat di tenagh jalan, mencoba memperhatikannya tegak rumahnya. Sayang, ia tak lewat pintu depan. Saya hanya bisa berpaling, bertanya-tanya dalam hati, kemudian menuliskan hal ini apa adanya.
Hari Ketiga
Saya bangun jam empat, dengan dingin yang tidak terlalu menusuk karena sudah dobel jaket sarung sejak sebelum tidur. Dan kami tidur lebih awal, dengan keputusan untuk tidak lagi bergantian jaga malam. Meskipun bangun pukul empat, saya baru mau bangkit sholat subuh setengah lima, berwudhu di ember yang penuh air di pinggir lapangan. Setelah shubuh, saya ada keinginan untuk murojaah dan akhirnya berhasil mengulang seperempat pertama juz sepuluh.
Setelah itu, saya bermain game, jalan-jalan, dan akhirnya tertidur panjang di tenda medis. Setelah bangun, kami turun lapangan menemani maba yang mencari data penelitian dengan keadaan perut terisi jajan, belum ada makanan berat. Ketika ada senior yang menawarkan jasa titip untuk membeli sesuatu di kota, saya tidak menitip apapun. Keinginan terbesar saya sejauh ini, adalah bisa masak sendiri.
*****
Di hari ketiga ini pula rasa bosan mulai terasa. Menurut beberapa teman advisor, maba sudah bad mood dan malas-malasan dalam melanjutkan penelitian. Senior juga merasakan hal yang sama, tetapi dihibur dengan perasaan bebas dan tanpa beban karena mereka adalah pihak tertua di arena inisiasi ini. Menulis catatan ini adalah salah satu cara saya menutupi kebosanan. Andaikan lebih berani, mungkin saya juga akan mendatangi warga dan bertanya ini itu. Tapi sayang. Saya cuma staff medis yang berjaga di musholla dan berharap tidak banyak hal yang terjadi.
Ini hari Sabtu, dan desa ini tidak menampakkan hal-hal yang baru. Beberapa senior perempuan yang sedang makan di warung rujak meminta plester dan satu-dua yang lain baru tahu kalau saya adalah staff medis. Sebagai orang yang tidak terlalu berambisi, pengalaman medis ini mungkin ini tidak akan saya tulis dalam CV. Toh, saya juga tidak terlalu menikmatinya: saya hanya berharap semuanya baik-baik aja.
Hari itu berjalan dengan lancar, dan malamnya kami bersiap-siap untuk melakukan ritus kepada peserta inisiasi. Saya sendiri tidak terlibat langsung, hanya ada jadwal baru mengingat kami harus bangun tengah malam. Ketika tengah malam, kami terbangun dan makan malam yang sebelumnya tertunda. Proses ritus dimulai pukul dua malam, dimulai dengan penggerebekan tenda maba. Saya dan teman-teman dari tim medis berjaga-jaga di sekitar barisan maba, berjaga-jaga jika ada yang kedinginan atau tidak kuat bangun malam. Malam sebelumnya, sudah ada peserta yang jatuh setelah presentasi karena cedera lamanya kambuh kembali. Dini hari itu, ada tiga peserta yang tidak kuat dan harus kami berikan selimut tambahan.
Hari Keempat
Pagi itu saya terbangun ketika matahari belum terbit, tapi sudah ada cahaya-cahaya putih di langit. Tandu menjadi kasur dan jaket mewujud bantal, saya tidur tanpa atap atau berteduh di bawah pohon. Saya benar-benar capek ketika malamnya harus berjaga di pos dan dengan sadar membuka tandu lalu tidur di bawah gemintang. Setelah bangun, saya naik dan kembali ke tenda medis, lalu turun kembali untuk buang air ke musholla sekaligus mengantarkan seorang teman perempuan yang hendak sholat subuh. Ketika kami naik, acara sudah dilanjutkan dengan sambutan-sambutan senior. Saya memutuskan untuk istirahat di tenda medis, bersama para advisor yang tertidur.
Setelah semua selesai, kami merapikan tenda-tenda dan bersiap-siap pulang. Dari tenda (sekaligus dapur) konsumsi, saya diberi banyak bahan masak: beras, gula, mie, kopi, dan masih banyak lainnya yang kemudian yang gabung dalam satu kardus berat. Sebagai oleh-oleh, tak lupa saya mengajak Abiem membeli sekilo lebih jeruk kecil-kecil (sebenarnya saya menawarkan seseorang untuk saya berikan, tapi hingga kini kami belum bertemu).
Saya pulang di truk nomor tiga, ikut dengan maba sebagaimana keberangkatan di hari pertama. Perjalanan terasa lebih cepat dan kami berhenti Gazebo FK, lalu saya memesan ojek online untuk kembali. Sesampainya di asrama, saya langsung beristirahat dan tidur di sore hari. Malamnya, saya mengajak Mbak Fitri untuk nongkrong, dan kami duduk bersama di bagian bawah Widyaloka.

Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?