Bantengan: Antara PostModernisme dan Kenyataan


Malang, adalah kota penuh budaya. Di atas tanahnya, berdiri orang-orang Jawa, Madura, dan kumpulan-kumpulan urban masyarakat pendatang lainnya. Semenjak didirikannya lembaga pendidikan tinggi berstandar nasional, maka datanglah para pelajar dari penjuru negeri. Malang berubah menjadi kota pendidikan, menyusul kota-kota besar lain yang lebih dulu melangkah dalam bisnis perkuliahan.

Tapi bukan pendidikan yang hendak saya bahas. Saya ingin menegaskan bahwa, meskipun dibanjiri pendatang dari berbagai arah mata angin (dari selatan ada kah?), orang-orang asli Malang tetap bertahan dengan kebudayaannya sendiri. Di lingkup mahasiswa, boleh jadi mulai banyak terdengar istilah 'lo-gue'. Tapi di Malang, kebudayaan itu tetap datang, disambut dengan berbagai macam budaya asli yang diwariskan dan dilestarikan dengan baik. Salah satunya, bantengan.

(Gimana cara saya menulis pembukaan? Bagus, kan?)

Budaya satu ini ditulis dalam sebuah artikel jurnal oleh dosen antroplogi Universitas Brawijaya, Hanifati A. Radhia dengan judul Pergelaran Bantengan "Banteng Wareng" Madyopuro Malang: Telaah Antropologi Kesenian. Sebagaimana judulnya, artikel ini berusaha membahas suatu kebudayaan melalui kelompok kesenian yang berkembang di daerah Kedungkandang. Bagaimana isinya?

Pembahasan artikel ini terbagi dalam empat bagian. Bagian pertama, mengungkap serba-serbi kehidupan kelompok Banteng Wareng. Bagian kedua, membahas bentuk ritual dan pergelaran Bantengan yang diperagakan. Bagian ketiga, dimensi sosial -budaya yang berkaitan langsung dengan pergelaran, hingga; bagian keempat, telaah antropologi sosial menggunakan pendekatan postmodernisme.

Untuk apa menggunakan posmodernisme dalam kajian ini? Nyatanya, pendekatan posmodernisme sangatlah berguna. Dalam paragraf-nya yang cukup quotable, Bu Hani menulis:

Posmodernisme menjadi demokratis: mendengarkan hal yang sebelumnya non sense, jangan-jangan terkubur kebenaran sejati. Posmodernisme mengajak mempelajari sejarah dengan trend anti sejarah. Jika sejarah berkisar pada narasi besar (grand narratives) tokoh gemilang dan pihak yang menang, maka trend anti sejarah mempelajari kaum tertindas, pihak yang dirugikan, lemah, terus menerus menjadi korban kekuasaan. Melalui trend anti sejarah, posmodernisme berupaya mencari kebenaran yang terlupakan (forgotten truths).
Maka, datanglah penjelasan-penjelasan marginal mengapa Bantengan tetap ada: untuk menjaga kehidupan kampung tetap ramai, menanggapi permintaan-permintaan pergelaran dalam hajat sosial, dan lain sebagainya. Bantengan tidak mewakili masyarakat elit: ia hanyalah perwujudan dari orang-orang kampung yang menggilai perwujudan-perwujudan astral kehidupan, ia lahir untuk meramaikan kesenangan, menghindari kesepian sebelum diisi oleh setan beneran.

Malang, adalah kota budaya. Bantengan, salah satunya.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir