Wisata Religi 2019: Sebuah Catatan Perjalanan
Pasuruan
Kota ini sedang beristirahat.
Kami sampai pukul delapan di Parkir Wisata Kota Pasuruan. Untuk menuju makam Mbah Hamid, kami musti berjalan kaki sejauh dua kilometer. Sebenarnya ada opsi untuk becak, dengan harga sepuluh ribu sekali jalan. Kami melewati barisan-barisan took kelontong, yang menjual obat-obatan bercampur barang-barang eletronik, para pedagang jual-beli emas yang menunggu dengan kantuk, orang gila yang berteriak sendiri di sudut perempatan, lelaki dengan parfum yang menyengat, dan orang-orang cina dengan pakaian sederhana. Jalanan tak ramai. Kami saja melangkahkan kaki dengan santai di antara deru mobil, kencangnya motor, dan terik matahari. Setelah belok kiri dua kali, saya melihat alun-alun kota berdampingan dengan masjid Agung Al-Anwar yang berdiri megah.
Ada gang kecil yang harus kami lewati, dinamakan Gang Makam Masjid. Kami disambut dengan para pedagang yang khas: buah salak, foto-foto habaib, cinderamata, manik-manik, parfum berbagai wangi, dan tasbih bermacam bentuk. Semakin dekat dengan makam, yang tepat berada di belakang masjid, jalanan semakin padat. Suara dzikir lamat-lamat terdengar, dari seorang pengemis di sisi kanan jalan yang berpakaian lusuh. Kami memasuki Kawasan makam yang dipenuhi pagar. Beberapa anggota rombongan mengambil wudhu’, lalu duduk di barisan khusus laki-laki. Beberapa tanda meminta jamaah untuk tidak melewati batas, menandakan suasana ramai pada hari-hari tertentu. Kami datang menjelang Natal, dan rasanya tak masuk akal.
Tapi kalau kami datang ke gereja, itu lebih tidak masuk akal lagi.
Kami menunggu semua anggota rombongan duduk bersama, lalu memulai jamaah doa yang baru. Orang-orang yang sudah dulu datang, sudah setengah jalan menuju akhir doa. Maka kami pun khidmat bertawassul, dengan makam Mbah Hamid yang hanya dapat dijangkau penglihatan saja.
Arosbaya
Tak sadar, saya terbangun di tengah-tengah jalanan yang sulit. Dan ternyata benar: bus yang kami tumpangi sudah mencapai Madura. Ketika berhenti, kami sudah mencapai Pasarean (pemakaman) Aermata, tempat seseorang pertapa wanita bernama Ratu Ebu dimakamkan. Kami menaiki tangga -yang tak dihitung jumlahnya- dan membayar biaya masuk sekedarnya. Matahari mencapai puncak kehadiran dan lantai keramik yang melapisi pemakaman itu membakar kulit telapak kaki. Pasarean ini memiliki enam bagian, dan Ratu Ebu berada di barisan paling belakang. Setelah melewati semua halangan, kami berhasil mencapai kuburan itu dan berbaris. Doa yang sama kami panjatkan. Dzikir yang sama kami dengungkan.
Setelah berdzikir, saya mencoba mengambil beberapa foto, termasuk silsilah anggota kerajaan Madura Barat yang terdokumentasikan secara rumit. Orang-orang Madura di sini, memiliki ikatan darah dengan raja-raja Majapahit. Begitu pula Ratu Ebu yang merupakan keturunan kesekian dari Sunan Giri. Setelah puas dengan berbagai diskusi yang tak berujung, kami turun menuju warung, tempat beberapa anggota rombongan beristirahat dari panasnya Madura.
Rasanya saya terlalu lama di Malang, hingga kaget ketika menghadapi panasnya Madura.
Setelah itu, ada bukit kapur berjarak 400 meter yang ternyata masih aktif dengan kegiatan warga ketika kami kunjungi. Tak sebagus Bukit Jaddih, tapi bukit kapur di Arosbaya ini memang salah satu destinasi wisata ramah kantong. Jika Anda dating berdua dengan mengendarai motor, anda dikenakan biaya parker lima ribu rupiah saja. Jika Anda dating membawa keluarga dengan mobil, biaya parker naik empat kali jadi 20 ribu. Tempat ini tidak menjanjikan pemandangan yang bagus, kecuali Anda mampu melihat sisi estetik dari bukit kapur ini. Dan jangan lupa dengan kamera yang mahal.
Arjasa
Setelah puas dengan Bukit Kapur di Arosbaya, kami kembali ke bus untuk menuju lokasi selanjutnya: Makam Syaikhona Kholil yang melegenda.
Beliau adalah guru dari ulama-ulama besar di Nusantara. Di masa ini, beliau sama seperti alm. Mbah Moen yang menjadi rujukan orang-orang salafi maupun aswaja. Banyak kisah-kisah beliau yang bersinggungan langsung dengan kyai-kyai besar, lalu tertuang dalam sastra lisan khas santri yang tak tertulis. Kadangkala, kisah itu hanyalah mitos semata. Namun, karena ketidakmampuan kami meragukan kyai, kami turut pula percaya. Makam sang Syaikh sendiri berada di belakang Masjid. Kami menggabung sholat duhur dan ashar di waktu terakhir. Lalu berdoa dari lantai dua, karena lantai pertama yang cukup ramai.
Di sini, saya sudah mulai merasakan lapar akan nasi, tapi masih belum menemukan warung nasi yang tepat untuk dipilih. Banyak sekali penjual sate, dan hanya dengan sepuluh ribu, beberapa teman sudah mendapat satu porsi plus nasi. Akhirya saya hanya bias membeli sebungkus rengginang mentah dan tiga botol petis. Semuanya lima puluh ribu, tanpa tawar menawar. Seorang wanita paruh baya yang menjualnya, sangat tidak ramah dan terburu-buru.
Bukit Jaddih
Salah satu destinasi wisata yang cukup menimbulkan diskusi panjang adalah Bukit Jaddih, di mana kami ragu sampai ke lokasi sebelum tutup. Apalagi, sebelumnya kami sudah melihat bukit kapur di Arosbaya, meskipun dengan intensitas yang berbeda. Syukur alhamdulillah, tempat itu belum ditutup dan kami ke sana menjelang pukul lima.
Bukit Jaddih cukup sepi: hanya kami dan sebuah keluarga dengan tiga orang anak mengunjungi. Selama mondok di Madura, orang-orang selalu membicarakan tempat ini yang bagus, indah, atau semacamnya. Bagi remaja yang tak terlalu suka wisata, saya cukup kagum dengan tempat ini. Terlihat, beberap tempat dicoba untuk renovasi, dan ruang-ruang baru dibuka di antara bukit-bukit kapur yang menjulang tinggi. Karena tak banyak, saya turun menuju Gua Pote, sebuah tempat yang dipenuhi lorong gelap dan kubangan besar yang seharusnya kolam. Kalau saja mau berpikiran maju nan futuristik, tempat ini bisa dikembangkan menjadi tempat konser, pesta atau semacamnya. Sayang, orang-orang ke sini hanya ingin berfoto ria. Setelah puas dengan pemandangan yang
Ampel Surabaya
Malamnya, kami menuju makam Sunan Ampel di Surabaya. Untuk seorang muslim seperti saya, mungkin sangat terlambat baru dating ke Ampel di usia kepala dua. Tapi berziarah ke wakam wali bukanlah suatu kewajiban. Lagipula, ada pula orang-orang yang ke Ampel bukan karena makam sang wali.
Kami datang bersama malam dan hujan. Seja turun dari bus, kami disambut dengan beberapa kilat dan guruh. Tak hanya kaus dan peci, saya juga mengambil jaket dan sajadah untuk melindungi diri dari deras gerimis. Sebagaimana di Pasuruan, bus kami diparkirkan di Tempat Parkis khusus wisata lalu berjalan kaki menuju masjidnya. Di Ampel, pedagang lebih ramai bahkan hingga waktu malam: peci, pakaian muslim, kurma, kaokah, parfum, dan makanan-makanan ringan sekedarnya. Saya berniat membeli gelang, yang kemudian saya wujudkan dengan mengeluarkan uang serratus ribu untuk sebuah tasbih dan dua buah gelang. Selain itu, saya juga membeli kismis besar, dengan uang 38 ribu mendapat sebungkus kecil yang terasa cukup.
Ketika kami sampai di masjid Ampel, kami segera berwudhu di midho’-nya yang mirip dengan midho’ di Muqoddasah, hanya saja kerannya setinggi betis. Sholat kami satukan, antara maghrib dengan isya’ di waktu terakhir. Ada sima’an al-Qur’an bil ghoib yang baru saja dilaksanakan. Beberapa botol air doa dirapikan, mengingatkan saya pada kebiasaan setiap khotmil qur’an di pondok dulu. Tapi sayang, budaya itu tak berlanjut di kuliah: Masrjid Raden Patah di UB tidak punya kebiasaan seperti itu.
Karena hujan yang cukup deras, kami memutuskan untuk berdoa di sisi luar masjid, sebagaimana jamaah-jamaah lain sebelum kami. Tak lama, rombongan kami memutuskan untuk beristirahat, dan saya keliaran mencari barang. Sebagaimana saya sebutkan tadi, saya mendapat sebuah tasbih, dua buah gelang, dan sebungkus kismis besar. Ketika kembali parkiran bus, saya mengajak beberapa senior yang saya temui untuk makan. Masing-masing dari kami memesan semangkuk rawon hangat di tengah-tengah gerimis. Untuk pelengkap, saya memesan teh hangat. Setelah itu, di pukul sembilan lewat sekian, kami kembali ke bus dan pulang.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?