Wisata Kampung Topeng: Baran, Tlogowaru, Kedungkandang
Survei, 21 November
Karena merasa gabut dan tidak ada tugas yang perlu dikerjakan, saya dan Abiem memutuskan untuk melakukan survei sebelum turun lapangan di akhir pekan nanti. Sebenarnya hanya saya yang nanti akan ke Kampung Topeng, tapi Abiem bersedia untuk menemani. Maka kami pun berusaha mencari pinjaman motor dan helm kesana kemari. Setelah duhur, kami sudah mendapatkan pinjaman dan modal untuk pergi survei. Ketika kami berada di jalanan, layar handphone menunjukkan pukul satu kurang seperempat.
Dalam perjalanan, kami banyak mengobrol tentang dinamika angkatan kami yang penuh dengan permusuhan dan tipu muslihat -lihatlah diksi yang saya pilih! Jarang sekali saya menulis seperti ini. Tapi kami tahu itulah dinamika kehidupan manusia. Perbincangan yang sedikit serius itu memang menjadi penawar manakala tidak ada pemandangan atau peradaban yang dapat kami lihat. Pergi mengarah ke lokasi, mulai tidak banyak manusia yang terlihat. Kami sendiri merasa baru kali ini melewati jalur itu: pergaulan kami tidak jauh dari kampus dan coffee shop. Arena permainan kami terasa kurang jauh.
Yang tidak diduga, adalah bagaimana kami harus melewati jalan-jalan kecil yang hanya muat untuk dua kendaraan bermotor roda dua, dan itu sudah dua jalur. Jika rencana teman-teman untuk membawa mobil berhasil, bisa saja kami tidak mencapai lokasi. Maka benarlah keputusan kami untuk mencari rute lain demi mencapai tempat itu: ada rute lain dari bawah yang ternyata sama-sama tak muat. Kampung Topeng berada di sebuah turunan yang agak curam, dan datang dari atas atau bawah sama-sama sulitnya.
Sejauh pengamatan saya, Kampung Topeng tak berbeda jauh dengan kampung wisata sejenis Jodipan, atau Kampung Biru. Terdapat beberapa rumah berjajar dengan ukuran yang amat kecil: rupanya seragam kecuali warna-warna yang berbeda. Dilihat dari depan, rumah warga -dan semua rumah lain- hanya dibuka dengan sebuah pintu dan dua buah jendela. Dari kacamata seorang mahasiswa berkecukupan yang berusaha hidup 'miris', ukuran rumah di Kampung Topeng lebih miris lagi. Semuanya berjajar dalam susunan yang sebaris.
Kami berdua masuk dengan ragu-ragu. Ada sebuah loket yang memerintahkan pengunjung untuk membayar lima ribu hanya untuk masuk, tapi tak ada yang menjaganya. Setelah memarkirkan motor, kami menaiki tangga yang mengarah pada taman-taman penuh topeng berbagai warna. Ada seorang nenek mengendong bayi: ia memaksakan sesendok penuh bubur berwarna coklat masuk ke mulut si kecil. Kami bertanya seadanya, terkait betapa sepinya desa yang kami kunjungi ini.
Sebelum sholat di musholla bernama Al-Hidayah, kami memesan dua mangkok mie pangsit. Dua bocah setempat bernama Rifqi dan Niazar, bermain-main dengan saya, tidak dengan Abiem karena dia masih berkutat dengan 'bacot virtual' yang ramai di grup panitia inti inisiasi. Setelah sholat, kami memakan dua mangkok pangsit itu dengan cepat dan minum sebotol air karena memang cuacanya sangat panas. Ketika turun untuk mengobservasi lebih jauh, ekpektasi kami jatuh: tidak banyak yang dapat ditemukan dari desa ini.
"Sudah setahunan, Mas." kata ibu penjual pangsit ketika saya bertanya sejak kapan kampung ini tidak lagi mendapatkan wisatawan. Menurut sumber yang saya baca di internet, wilayah ini dikelola oleh Dinas Sosial yang berkantor tak jauh dari sana, hanya butuh beberapa menit melangkah naik. Di tempat kami memarkirkan motor, ada banner berisikan dokumentasi kegiatan pembukaan dan peresmian tempat ini: tampak beberapa pejabat tersenyum bersandingkan topeng-topeng dan tarian-tarian yang mengiringinya.
Sepanjang perjalanan pulang, bahkan hingga malam hari ketika saya melanjutkan kegiatan UKM dan absen kelas antro ekonomi, saya terus-menerus memikirkan desa ini: bagaimana suatu desa disulap menjadi berwarna-warni dan tampak meriah, namun hanya memiliki sekejap keramaian. Sebagai orang yang pesimistis, saya selalu punya pemikiran untuk menyalahkan pemerintah. Tapi bukan hanya itu. Permasalahan Kampung Topeng ini kompleks. Yang menjadi pertanyaan utama:
Bagaimana kami mengungkap identitas dan budaya Malangan?
Semoga pertanyaan ini terjawab, dalam beberapa hari nanti ketika kami turun ke lapangan.
Hari Pertama, 23 November 2019
Kami berkumpul di GRL, bersiap-siap untuk turun lapangan dan koordinasi langkah-langkah penelitian. Saya sendiri berangkat berjalan kaki dari asrama sejak pukul enam, lalu sampai di fakultas pukul tujuh. Teman-teman datang satu persatu, dan jadwal kami berangkat di pukul setengah delapan terhambat dengan salah satu teman yang tidak datang, karena dialah yang memegang dana. Diare mengganggu pagi hari dan alhirnya dia skip di hari pertama ini. Secara total, hanya terkumpul tujuh orang, dari keseluruhan sepuluh peneliti.
Setelah dana ditransfer oleh teman kami yang berhalangan, salah satu teman mengambil mobil dan kami sarapan. Saya membawa nasi dan beberapa lauk-pauk, untuk kemudian dimakan bersama-sama. Sayang, hanya habis setengah karena hanya saya satu-satunya laki-laki yang makan dan habis banyak. Seorang ibu penjual gorengan yang sudah tenar di kampus mendatangi kami dan mengobrol panjang-lebar. Padahal basa-basi. Setelah mobil datang, kami langsung berangkat. Jam di smartphone menunjukkan pukul setengah sembilang lewat beberapa menit.
Jalan yang kami lalui tetap sama. Beberapa teman dari kelompok lain kami sapa di jalanan. Ketika melewati pasar besar, kami mengobrol tentang mutilasi perempuan di semester lalu. Kami juga menyetel musik. Tapi kami tak banyak mengobrol tentang penelitian. Berbeda dengan jalan yang saya lalui dengan Abiem, tim kami memutuskan untuk terus lurus agar mendapatkan jalan yang lebih lebar dan lancar. Ada beberapa kendala sepanjang perjalanan, seperti truk yang terangkat karena bebannya terlalu berat. Kemacetan adalah polemik utama. Meski berada di weekend (atau memang macet itu selalu di weekend).
Semakin kecil jalan yang kami lalui, semakin sulit pula kami berkendara. Ketika kami berharap tak ada kendaraan lain dari arah depan, tepat saat itu pula ada truk dari depan. Kami tertawa. Nasib kami di desa ternyata sangat ditentukan oleh kata-kata. Tapi, alhamdulillah, tempat yang kami tuju semakin dekat. Ketika kami sampai di lokasi, Desa Baran Kelurahan Tlogowaru, kami segera mencari tempat parkir yang tepat. Tujuan kami adalah pekarangan rumah warga yang agak luas.
Kami berhenti di suatu musholla. Sebelum memarkirkan mobil, saya dan seorang teman turun untuk meminta izin. Warga yang kami tuju sedang berada di luar rumah, menggunakan kaus biru dan celana pendek. Untungnya, kami diizinkan. Agar tidak menghalangi warga yang ingin ke masjid, kami memarkirkan mobil tepat depan rumahnya. Setelah itu, kami bertanya rumah Pak RW. Beliau menunjukkan rumah di deretan yang sama, tapi tepat di samping masjid, jadi agak jauh. Kami berpamitan dan melangkahkan kaki ke sana.
Sesampainya di sana, kami masih kesulitan untuk bertemu karena kesibukan beliau mengajar di MI. Hawa makin panas, dan kami berteduh di depan rumah Pak RW. Tak lama kemudian, beliau datang: dengan batik hijau dan kopiah hitam. Kami dipersilahkan masuk dan duduk di sofa. Pia memulai pembicaraan dan menyerahkan surat izin resmi dari kelurahan. Setelah itu, giliran kami untuk memulai basa-basi sekitar RW yang beliau pimpin: bagaimana banyak warga mayoritas adalah etnis Madura, dan kalau hendak mencari tahu tentang Kampung Topeng, maka harus bertanya sendiri kepada warganya karena warga sekitar tidak tahu-menahu.
Ketika kami berpamitan, ada dua teman kami yang hendak pergi ke toilet dan diarahkan oleh Pak Mahmudi, Ketua RW untuk ke toilet masjid. Maka saya pun (secara pribadi) berbasa-basi kembali: tentang kegiatan keagamaan warga, mayoritas NU, jamaah Tabligh yang tertolak di desa lain tapi diterima di desanya, dan bagaimana anak-anak beliau akan dipondokkan ke Sidogiri. Sebagaimana penyeimbang, kami juga bertanya-tanya tentang program pemerintah yang banyak dilakukan di desa itu.
Ketika teman kami selesai buang air kecil di toilet masjid, kami langsung berangkat penelitian dengan beberapa pembagian: saya, Ulfa, dan Dinda ke Kampung Topeng, sedangkan sisanya mewawancarai warga sekitar yang asli dan beretnis Madura. Kami bertiga berjalan kaki menuju Kampung Topeng, lalu disambut dengan anak-anak kecil yang sedang sibuk memburu sarang burung. Sebagai lelaki, saya diminta untuk membantu mereka. Tapi, karena pijakan yang rapuh (hanya sebuah kursi dan dua buah dingklik), saya menolak.
Lalu kami pun menuju kantor setempat. Seorang lelaki mendatangi kami, yang ternyata adalah penjaga karcis masuk Kampung Topeng ini. Namanya Wahyu. Kami berbasa-basi, kemudian mengeluarkan uang 15 ribu rupiah untuk tiket masuk tiga orang. Setelah itu, kami dipersilahkan untuk masuk ke ruang galeri: ya, itu sebutan dari saya saja. Nyatanya, ruang itu seukuran dengan rumah-rumah umumnya, mungkin lebih kecil lagi. Di dalamnya, dipamerkan berbagai topeng, kaus, dan piagam penghargaan.
Wahyu adalah warga Kampung Topeng. Ia kali ini bertugas sebagai penjaga karcis. Sebelumnya, di hari-hari biasa, akan ada petugas dari Dinas Sosial (Selanjutnya akan ditulis Dinsos saja) yang berjaga. Tapi, karena sepi dan (kemungkinan) weekend, maka tugas itu diserahkan kepada Wahyu. Ia pula-lah lelaki dibalik pembuat topeng-topeng di desa itu. Ketika kami mewawancarainya, wajahnya menunjukkan raut wajah bangga, sekaligus malu-malu.
Kampung Topeng, dalam penulusuran kami yang tidak terlalu mendalam itu, adalah sebuah kampung buatan. Ia tidak alami, sehingga menjawab pertanyaan saya sebelumnya mengapa bentuk rumahnya serupa dan seperti tak layak (dalam pengamatan saya). Total ada 40 rumah yang didirikan oleh Dinsos, lalu ada 4 rumah yang tidak dihuni sehingga total penduduk ada 36 KK. Konturnya yang tidak rata membagi perumahan warga dalam tiga baris: satu baris di atas bersama kantor, loket tiket, dan musholla. Lalu, ada pula beberapa rumah saling berhadapan di barisan bawah.
Kampung Topeng termasuk dalam wilayah Desa Baran, Kelurahan Tlogowaru. Tepatnya, di RT 2. Meski termasuk dalam RT 2 yang mencakup warga-warga asli di sekitarnya, warga Kampung Topeng tidak memiliki ikatan yang erat dengan warga sekitarnya. Alasannya: "Orang Madura emang begitu, Mas. Mereka tidak suka dengan kami yang pendatang." Mereka didatangkan pemerintah dari daerah Sukun dan Muharto, sebagai bagian dari program "Desaku Menanti." Sebelumnya, mereka bekerja dan hidup sebagai preman, pengemis, dan gelandangan. Iktikad baik pemerintah membawa mereka pada kondisi sebagaimana tergambarkan.
Melanjutkan kisah Wahyu.
Dia sedikit menceritakan tentang bagaimana orang-orang Madura, warga sekitar, tidak suka dengan mereka yang pendatang dan mantan anak jalanan sehingga merusak fasilitas dan petunjuk arah menuju lokasi wisata di kampungnya. Hal itu menimbulkan gap, kalau tidak ingin disebut konflik, sehingga warga asli dan pendatang tidak terlalu akur dan banyak bekerjasama. Sebagaimana dituturkan oleh Pak Mahmudi, Ketua RW: "Kalau ingin tau masyarakat sini (Tlogowaru), bisa tanya-tanya ke saya atau masyarakat sekitar sini. Tapi, kalau ingin mengetahui masyarakat Kampung Topeng, ya bisa ditanyakan ke masyarakat yang tinggal di sana." Pernyataan itu tidak bermaksud kasar, sama sekali. Tapi benar-benar menunjukkan sebuah ketidaktahuan akan masyarakat pendatang dalam kampung buatan, dengan warga yang berbeda bahasanya.
Sebelumnya sudah pernah ada sosialisasi akan pembuatan kampung relokasi tersebut. Antusiasme masyarakat tidak terlalu tinggi, karena kehidupan masyarakat sendiri yang sudah merasa cukup dengan penghidupannya. Maka, manakala diketahui relokasi itu melibatkan orang-orang jalanan yang kasar dan berbeda, timbullah perpecahan dan kesenjangan itu. Hingga kini, mungkin saja kehidupan berjalan baik-baik saja, tapi kedua belah pihak sama sekali tidak tahu kapan kemungkinan akan terjadi konflik yang lebih besar. "Kalau saya ya biasa-biasa saja, Mas. Yang penting mereka gak mulai duluan." begitu tutur Wahyu terkait kelompok pemuda sekitar yang tidak suka terhadap kampungnya.
Toh, tidak semua masyarakat sekitar adalah orang Madura, tapi memang mereka telah menjadi mayoritas yang tinggal turun-temurun di Desa Baran. Pak Mahmudi selalu ketua RW adalah orang Jawa asli, yang kemudian lancar berbahasa Madura karena faktor lingkungan. Dan ketika kami menanyai seorang ibu penjaga toko (aduh saya lupa namanya) yang berbahasa Madura dengan lancar, beliau malah mendaku diri sebagai orang Jawa. "Saya orang Jawa, Mas. Lahir dan dari kecil tinggal di sini." Beliau mengaku tidak pernah sama sekali ke Madura. Bahkan, perjalanannya yang paling jauh adalah ke Surabaya, ketika mengantarkan seorang tetangga melakukan prosesi lamaran bersama dengan tetangga-tetangga yang lainnya.
Kami sempat beristirahat sebelumnya, dan melakukan sharing data di sebuah warung kopi pinggir jalan menuju Kampung Topeng. Setelah debat alot mengenai tema yang akan diangkat (dan sedikit diskusi agak panas mengenai permasalahan angkatan), kami segera menuju ronde kedua turun lapangan. Kami bertukar tempat: yang tadinya belum memasuki Kampung Topeng, sekarang bisa masuk dengan tiket baru. Saya, bertiga dengan Ulfa dan Dinda, menuju musholla dekat rumah Pak RW untuk sholat duhur yang terlampau terlambat.
Setelah itulah kami mendapatkan kesempatan untuk sedikit mewawancarai seorang ibu penjaga toko itu. Untuk hari ini, kami lupa namanya, padahal sangat penting. Turlap kedua itu ditutup dengan sedikit diskusi dengan Pak Mahmudi yang hendak berangkat ke Blitar, sehingga tidak dapat ditemui esok hari ketika kami ke sana lagi. Selain itu, sedikit demi sedikit kami mendapat gambaran tentang apa yang akan kami angkat sebagai judul. Sebagai kata kunci, adalah kata 'Embongan' yang mungkin akan sedikit menggambarkan identitas dan budaya warga Kampung Topeng. Lalu, kami akan mengkomparasikannya dengan warga asli-sekitar yang berbahasa ibu Madura tapi sudah bergenerasi-generasi menetap sebagai orang Jawa.
Kami pulang sekitar pukul empat, berpamitan dengan warga yang pekarangannya kami jadikan tempat parkir. Bersebalahan dengan rumah itu, tepat di samping musholla, seorang ibu datang dengan seteko teh dan setoples makanan manis. Kami menikmati hidangan itu sebelum pergi, kembali pada rutinitas sebentar, lalu mempersiapkan hari esok yang mungkin lebih ramai.
Oh, ya. Omong-omong, ini fieldnote.
Hari Kedua, 24 November 2019
Untuk kali ini, menindaklanjuti saran dari Pak RW untuk datang lebih sore, maka kami pun berangkat setelah duhur. Kami merencanakan kumpul di jalan Veteran, depan kampus pukul 12. Sayangnya, karena keterlambatan beberapa teman, kami pun siap berangkat di pukul satu. Jalan yang kami lalui tetap sama seperti kemarin, dengan kemacetan yang lebih parah, tampaknya. Suasana lebih muram. Saya lebih diam. Ada podcast spotify yang saya dengarkan.
Kami sampai pukul dua, memarkirkan mobil di tempat yang sama. Setelah briefing tentang dasar-dasar penelitian kepada tiga teman yang baru bisa ikut, kami juga membagi siapa yang harus pergi ke atas dan berkeliling di sekitar wilayah dusun Baran. Eh, ternyata istilah KB memang menjadi nama program dusun ini, sehingga disebut Kampung KB. Saya dan dua orang kawan naik ke Kampung Topeng, sisanya berpencar.
Saya bertemu lagi dengan Wahyu, yang sedang stand by di Omah Topeng, nama resmi galeri sekaligus toko yang ia jaga seharian. "Tadi pagi udah banyak yang datang, Mas. Jadi tiketnya habis." Ada beberapa orang duduk di depan rumah warga, dan tidak ia tarik untuk tiket masuk karena karcis yang terbatas dan tidak dicetak ulang lagi. Wahyu tidak berani dan tidak punya alat untuk mencetaknya secara pribadi. Saya pun membayar untuk tiga orang, yang kemudian diterima dengan sungkan oleh Wahytu. Kami banyak mengobrol, kali ini tentang kegiatannya yang terkadang sibuk di luar kampung.
Untuk diketahui, karena kemarin kami mendapat kata kunci 'embongan', maka kelompok saya pun berusaha mengungkap bagaimana jiwa 'embongan' itu membentuk identitas dan budaya masyarakat Kampung Topeng.
Wahyu masih terikat dengan komunitas lamanya di Sukun. Beberapa teman juga mendapat informasi bahwa anak-anak muda semacam Wahyu masih ingin keluar dan tidak selalu terkungkung di daerah itu. Dia masih tergabung dalam komunitas kesenian Jaranan, yang terkadang masih berkumpul di Sukun dan menerima job hingga luar kota seperti Kediri, Blitar, dan sekitar Malang. Bagi Wahyu, ini bukan lagi suatu beban. Ia mengakui sendiri bahwa sejak kecil ia turun ke jalan bersama ibunya untuk mengamen di sekitar perempatan Suhat, Politeknik, Veteran, dan UB.
Tapi itu pandangan anak muda. Bahwa mereka tidak harus selalu berada di sana.
Orang-orang tua tidak. Bagi mereka, hidup di sana sudah bagaikan lunasnya tanggungan untuk membayar rumah, tanah, kontrakan, dan semacamnya. Hidup di Kampung Topeng sudah disubsidi: beras 25 kilogram untuk setiap kepala keluarga di setiap bulannya, listrik tiga ratus ribu (yang hanya dipakai seratus ribu karena memang tidak banyak yang harus dikeluarkan), dan masih banyak bantuan lainnya.
Oleh karena itulah, dari harga tiket lima ribu, hanya seribu yang diambil oleh Wahyu. Begitu pula dengan komisi produk topeng yang hanya lima ribu dari penjualan 150 ribu perbuahnya. Beberapa teman sempat marah dan emosi (yang menurut saya akan mempengaruhi pendapat mereka dalam perspektif fenomenologi) ketika mengetahui fakta tersebut. Terkesan jahat memang, tapi pemerintah, dalam hal ini diwakili oleh Dinas Sosial, memberikan banyak modal kepada warga Kampung Topeng untuk berkembang, dan terkesan berlebihan. Dahulu, ada bantuan berupa mesin cuci. Sayangnya, karena masyarakat tidak terlalu membutuhkan, maka mesin cuci itu pun dijual.
Kehidupan kampung topeng memang terkesan tidak menunjukkan kemajuan, tapi toh mereka memang tidak banyak membutuhkan kemajuan manakala kehidupannya sudah disubsidi banyak oleh pemerintah. Beberapa langkah sudah dilakukan, seperti Wahyu yang mengajak kawan-kawan sebayanya belajar membuat topeng, sehingga dapat menghabiskan waktu secara lebih produktif. Teman kami mendapat informasi bahwa mantan koordinator desa juga masih aktif menggalakkan kegiatan pelatihan yang diinisiasi oleh Dinsos, tapi tidak terlalu ramai. Kehidupan di sana berjalan stagnan, tapi penduduk Kampung Topeng yang sedikit menikmatinya.
Dalam diri Wahyu dan beberapa warga, ada keinginan untuk keluar dan berkembang. Kakak laki-laki tertua Wahyu (dia lima bersaudara) mendapat pekerjaan sebagai pegawai cuci bus di Surabaya. Beberapa pemuda yang lebih dewasa -di usia kuliah dan setelahnya- mendapatkan pekerjaan di Malang bagian kota. Tapi mereka terhalang oleh kenyataan lain: tidak banyak warga memiliki kendaraan. Ketika hendak berkumpul dengan komunitas seninya di Sukun, Wahyu meminta seorang teman menjemput. Dia tak bisa berjalan kaki jauh ke jalan besar dan memesan ojek online. Hei, wahyu bahkan tidak punya akun Instagram! Itu sedikit menjelaskan mengapa ia tak bisa mempromosikan kampungnya secara mandiri dan kurang update terhadap berita-berita terbaru.
Ketika wawancara sedang berlangsung, tiba-tiba hujan turun dengan deras. Saya diajak berteduh di dalam Omah Topeng, sembari melihat ulang koleksi yang dipajang. Wahyu menjelaskan karakter setiap topeng sebagai bagian dari keahlian memahat topeng yang ia kuasai. Tapi ia tak paham kisah atau asal-usul dari setiap karakter. Gelap mendung turut membuat gelap suasana ruangan dan tidak ada lampu di dalam. Hanya ada saklar untuk lampu di luar, tapi bohlam lampunya juga tidak ada. Dinda mewawancarai kakak adik di musholla, yang juga pindah ke bagian dalam agar tidak terkena derasnya hujan.
Di tengah-tengah itu, teman Wahyu datang. Ia seorang anak SMA yang membawa pacar dari Kedungkandang untuk berekreasi di kampungnya sendiri. Keduanya tampak senang, lalu hujan-hujanan seperti anak-anak di kampung itu. Saya menunggu Wahyu agak lama, yang mengambil kain dan semacanya untuk mengepel lantai galeri yang basah akibat atap bocor. Tak hanya rumah itu, kebanyakan rumah warga memang sudah rusak dan tidak layak: rapuh di mana-mana dan overkapasitas. Setidaknya, itu lebih baik daripada tuntutan harus memiliki rumah pribadi di tengah-tengah harga tanah yang melambung. Setidakna, itu lebih baik bagi mereka.
Tapi, hal mengejutkan sebelumnya yang perlu diketahui: karena mereka adalah warga binaan dinsos, mereka tak bisa semaunya bertingkah. Bantuan yang selama ini telah diberikan oleh Dinsos bisa saja diambil paksa dan mereka diusir keluar dari kampung relokasi ini. Sebuah kasus pernah terjadi manakala bantuan biaya sekolah digunakan oleh watga untuk biaya nikah. Ketika hal ini samoai di telinga dinsos, hak gadis ini dan keluarganya segera dicabut dan mereka terusir. Hingga kini, warga di kampung itu tak tahu-menahu kabar mereka secara pasti. Kemungkinan terbesarnya adalah kembali pada kehidupan jalanan di Sukun dan Muharto.
Hujan berhenti tak lama kemudian. Saya dan Dinda memesan dua porsi mie pangsit, persis kepada pemudi yang sebelumnya sudah saya datangi di hari Kamis bersama Abiem. Ia bernama Elsa, pemudi SMP yang punya keinginan sangat kuat untuk sukses. Ia bahkan kontra kepada kakaknya sendiri dalam hal motivasi belajar, "Makanya kalau mau sukses, berubah!" begitu Elsa menasehati kakaknya sendiri di depan Dinda. Setelah merasa cukup dengan dua porsi pangsit itu, kami membayarnya di rumah Elsa, lalu meminta (tentunya beli, bukan cuma minta begitu saja) beberapa jajan berupa kacang dan snack. Dua teman kami, Ulfa dan Marini, masih asik di rumah warga bermain-main dengan dua balita. Sebagai dokumentasi, teman kami sempat meminta foto dengan warga, secara halus ditolak. Alasannya, mereka tidak cukup yakin akan bagus. Maka kami hanya bisa berfoto dengan bayi-bayi mereka.
Sebenarnya tingkah seperti itu menimbulkan pertanyaan dan kecurigaan lain dari kami. Apa yang mereka sembunyikan?
Ada beberapa teman dari kelompok lain yang berkesempatan juga untuk ditugaskan di wilayah Kampung Topeng. Sayangnya, karena ketegangan yang dimulai dari pewawancara, maka informan kami pun terasa tegang juga lalu memberikan data-data yang -terasa- meragukan: "Anak-anak kampung Topeng baik, kok, Mbak. Mereka sering mampir ke sini, terus kalo malem begadang juga sambil Wi-Fi-an." begitu jawab ibu pemilik warkop yang menjadi tempat kami beristirahat, berkumpul dan berdiskusi.
Pikiran kami sempat terganggu, mendapatkan fakta bahwa masyarakat Kampung Topeng direlokasi dengan cara-cara yang baru kami ketahui: pihak Dinsos datang dengan kostum mahasiswa, bertanya tentang keseharian, pendapatan, dan tempat tinggal yang 'dianggap' kurang berkecukupan. Maka dipindahkanlah mereka dari jalanan Sukun dan Muharto ke kampung relokasi, dengan janji-janji rumah dan subsidi akan kebutuhan pokok. Secara bertahap Dinsos juga memindahkan anak-anak jalanan untuk dibina dalam Camp (sebutan Wahyu dan warga sekitar untuk rumah berwarna kuning di atas kampung) agar tidak kembali ke kehidupan yang tidak pasti. Perspektif kami sejenak cukup terganggu, tapi saya megingatkan kembali teman-teman satu tim, agar mengambil perspektif masyarakat tentang identitas dan budaya embongan yang masih kental.
Untuk hari ini, kami hanya turun lapangan satu kali, tapi mendapat banyak data yang mengejutkan, melengkapi data di hari pertama, membantu kami mendalami asal-mula dan bagaimana budaya kampung ini direkonstruksi. Dalam kepala, sudah ada gambaran besar bagaimana kami akan menulis tugas UAS ini. Selanjutnya, kami akan datang ke Dinsos di hari Rabu, untuk mempertanyakan perihal asal-mula Kampung Topeng, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang masih mengganjal.
Kami pulang di azan Maghrib, menuju kota di mana kami bersenang-senang dengan mobil rental hingga Batu dan hingga pukul dua malam.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?