Random Stories by Fathia
"Halo."
Kalimat itu datang dengan sederhana, menyapa malamku yang hening tanpa suara. Pemanas air menderu-deru dengan uap, jam dinding menyetel angka-angka. Warna-warni tivi mengajakku bepertualang, tapi suara dunia kumatikan sepanjang pertunjukan. Selimut berantakan bersama bantal dan guling belum kurapikan. Aku melangkah keluar dari kamar mandi, mendiamkan kaki basahku pada keset setengah kusam. Pesan masuk itu kembali terdengar. Berulang-ulang.
"Fat, ini Farid. Saya izin pake namamu lagi, ya, buat nulis cerita? Boleh, kan?"
Handuk melingkari pinggangku, menutupi tubuh setengah lembab dan keganasan dingin malam. Seharusnya aku tak merasakan itu, toh remot AC menunjukkan angka yang cukup besar. Tapi entah mengapa ada dingin yang lain, datang bersama suara itu, dari smarphone-ku.
"Sorry kalau kita udah lama gak ketemu. Terakhir kapan, sih? Oh, iya: akhir semester lalu. Kita masih sempat nonton Captain Marvel waktu teman-teman cewek kamu lebi milih nonton Yowis Ben 2. Abis itu chat kita gak ada lagi. Karena emang gak ada topik buat ngelanjutin."
Dia tak bertanya kabar, simpulku. Aku segera menghampiri sumber suara itu, dan mematikannya selagi perlu. Kasur yang empuk memintaku rebahan di atasnya, dan aku menyanggupi. Langit-langit yang terang dengan cahaya lampu membuatku menutup mata. Ah, kenapa dia masih mengingatku? Kukira ia mati dalam suatu perkelahian dengan preman pasar yang lain. Atau dibunuh oleh masyarakat terpencil di pelosok negeri. Tak sadar ia berteriak sendiri, yang kemudian membuat handuk di tubuhnya lepas dan ia melompat dengan geram...
Kenapa ia masih hidup???
*****
"Kamu kenal anak ini?"
Rahma menyodorkan hapenya, memperlihatkan padaku foto seorang perempuan muda yang berdiri dengan pose yang centil. Dua jari ia letakkan di kepala, dan ia tersenyum ke hadapan kamera. Tubuhnya dibaluti gaun berwarna hitam dan aku bertanya-tanya apakah ia merasa panas dengan latar belakang pantai di siang hari. Aku menatap lama foto itu, lalu melihat caption di bawahnya; "Thank's Rudi, for our chat tonight."
"Siapa tuh?" aku bertanya pada Rahma, yang melihatku dengan tidak biasa, lalu melihat hapenya kembali. "Harusnya aku dong yang tanya." Ia merengut lalu meminum kopinya. Rokok yang ia letakkan di atas meja ia hisap lagi, sedikit demi sedikit, lalu mengarahkan wajahnya padaku. "Siapa anak ini? Kenapa ia nyebut nama kamu?"
"Lah. Gak tau. Emang kamu kira cuma aku yang namanya Rudi di dunia?" Aku meninggikan suara, berharap ia tak bertanya lebih banyak. Aku mencoba tidak peduli, atau setidaknya terlihat tidak tertarik. Nyatanya, Rahma semakin mengejarku lebih banyak, dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatku pusing mencari jawaban. "Udahlah, cewek kayak gitu biasa aja kok. Gak terlalu cakep juga."
"Iya, gak terlalu cakep emang." Kini Rahma mengubah posisi duduknya, benar-benar menghadap padaku, tidak lagi melihat jalanan ramai yang sebelumnya kami perhatikan. Biasanya, kami berdiskusi tentang berbagai hal, termasuk buku atau film yang kami sukai. Kali ini, aku mulai terintimidasi. "Tapi temenku ngasih tahu kalo kamu jalan sama dia. Bener, kan? Jujur aja Rud, gak usah ngarang kebohongan lagi. Aku mau kamu jujur. Itu aja."
Aku memperhatikan wajahnya. Rahma berada dalam mode serius. Kerudung merah ia rapikan, dan lengan hitam pada setelannya kali ini ia singsing. Lengannya tersingkap sedikit. Aku tahu memberitahunya bakal membuat ia marah seolah-olah aku mengalihkan topik pertanyaannya. Sepertinya aku harus menjawab, setidaknya berhenti membuatnya penasaran. "Kita ketemu di kepanitiaan." Rahma melotot, kali ini ia meminta jawaban yang lengkap.
"Dan kita sering ke perpus bareng. Kan kamu gak mau kalo diajak ke perpus." Setelah itu ia menempelengku dengan keras, sampai wajahku melihat es teh yang belum kuhabiskan sejak tadi.
*****
"Sekarang udah gak kuat panas saya," ucapku sembari menyingkir ke seberang kanan sebuah jalanan kecil yang kami lewati. Perkampungan ini merupakan sisa-sisa pembangunan yang tak tercapai. Sebuah tempat di mana orang-orang miskin berkutat dengan uang dan mengejar kebahagiaan semu selayaknya dicapai orang-orang kaya. Aku berjalan bersama sahabat baikku, Umar, yang pagi ini sekelas denganku. "Lemah kayak anak-anak selatan."
"Emang sejak kapan kamu kuat?" Aku tertawa mendengarnya. Dalam sejarah pertarungan tangan kosong kami, aku memang selalu kalah di menit pertama. Fisik yang tidak terlalu besar, tinggi atau gemuk membuatku selalu menjadi juru kunci dalam klasemen liga tarung lokal. Dan sahabatku, Umar, adalah sebaliknya. Meski tidak selalu juara, posisi paling rendah yang ia dapat adalah ketiga. Kami menyebutnya katek. "Kamu cuma pinter, bukan kuat."
"He, jangan muji gitu dong." Aku menyeruduknya dari samping, mencoba mencontoh gerakan-gerakan silatnya yang tidak pernah bisa kutiru. Tapi ia membalikkan badanku dengan mudah, membuatku hampir terpelanting ke belakang, menabrak warga yang berjualan buah-buahan. Ia mendorongku lagi ke tempatku berjalan, seberang kanan jalan di mana terik mentari tidak melihatku gamblang. "Gini-gini saya juga bisa tarung, Mar."
"Lah, siapa yang muji?" Ia berhenti di sebuah toko kelontong yang penuh dengan bungkusan kerupuk. Pada sebuah kulkas di sebelah kiri, ia mengambil dua botol teh kemasan. Setelah ia membayar, ia melemparkan salah satu tehnya ke arahku. "Kepintaran gak pernah berguna di lingkungan kita, Bos. Cuma kekuatan yang bisa bikin kita selalu di peringkat atas. Lagian, kalo kamu gak kuat, kamu mau jadi apa, heh?"
Aku tak menjawab pertanyaan itu. Hening yang lama -bahkan setelah aku membuka botol teh kemasan dan meminumnya sembari duduk di sebuah kursi depan rumah warga- terjadi. Aku tak pernah ingin menjawab pertanyaan itu. Apalagi di depan Umar.
"Heh, gak usah dipikir. Ayo lanjut ke kelas." Ternyata Umar tak berharap jawaban. Ia hanya ingin aku semakin bertambah kuat dan mamu mengalahkannya dalam liga tarung. "Kalo terlambat lagi, kita gak bisa UAS."
*****
Random stories adalah cerita-cerita pendek yang dikumpulkan melalui pengamatan dan observasi yang tidak terlalu mendalam terhadap percakapan-percakapan manusia. Tidak semua berasal dari pengalaman pribadi, melainkan ada pula orang-orang yang menjadi inspirasi dalam kisah ini. Oleh karena itu, jika ada kesamaan nama, cerita, peristiwa dan lain-lain, merupakan tanggung jawab saya pribadi. Ini bukan fiksi belaka, karena kisah fiksi ini ditulis oleh saya.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?