Fathia (dan Ibuku)



Dia datang ketika aku sedang mengerjakan laporan penelitian yang sempat tertunda karena beberapa pesta dan konser. Bertemu ayahku, ia mencium tangan lalu dipersilahkan duduk di sofa ruang tamu. “Ram! Rama! Fathia dateng nih. Turun, gih!” Aku, yang bermusik ria dengan konsentrasi penuh pada laptop terpaksa turun: ayah sampai menelponku yang berada di lantai dua. Dari tangga, aku dapat melihat wanita itu yang dengan nikmatnya minum teh pagi hari.

“Pagi banget datengnya kamu. Keburu pulang?” Aku mengambil gelas, lalu mengisinya dengan teh yang ayah siapkan. Duduk di samping wanita itu, membuat kesadaranku terjaga. “Aku baru aja mulai ngerjain laporan, lho. Gak mau nunggu?” Fathia tersenyum, lalu menggeleng.

“Kemarin kan kamu udah janji bakal berangkat jam segini.” Iya menghadap padaku, memperlihatkan ekspresi memohon, dengan segala kecantikan mengiringi. Aku tahu ia berusaha keras agar terlhat cantik, tapi bedaknya terlalu tebal. Aku ingin mengejeknya, tapi langsung kuurungkan mengingat ini masih terlalu pagi untuk merusak mood. Dan bagi Fathia, sulit sekali memperbaiki mood yang terlanjur rusak. “Emang udah berapa persen ketulis?”

“Yah… sekitar enam puluhan, lah. Belum semua.” Aku mengangkat kaki, lalu bersender pada kursi. “Sebenarnya banyak hal-hal bagus yang bisa ditulis, tapi keburu lupa kemakan waktu. Untungnya, aku gak lupa nyatet hal-hal penting selama turlap. Oh, iya. Kerjaan kamu gimana? Udah ada perusahaan yang mau nerima Fathia?”

“Yah, doain aja sih berangkat ke Jakarta ini gak sia-sia.” Ia turut bersandar, namun tidak mengangkat kaki sepertiku. “Eman banget ninggalin banyak buku di desa, ninggalin temen-temen, dan juga ninggalin kamu.” Ia sempat tersipu malu, yang membuatku bengong sebentar. Ia cantik. “Tapi semoga di sana bisa beli buku baru lebih banyak lagi, dapet temen baru lagi, terus…”

“Terus apa?”

“Terus kamu bisa nyusul aku ke Jakarta.” Dia tertawa setelah mengatakan itu, lalu melihatku yang murung. “Kenapa? Bisa kan kita di Jakarta bareng?”

“Gak, “ aku memalingkan wajah, menyingkap gorden jendela yang memperlihatkan sinar mentari. “Jakarta full.”

“Tapi di Jakarta hidup kita terjamin, Ram.” Ia menarik tubuhku untuk menghadap padanya, tak lagi berpaling dengan berpura-pura. “Hidup kita bakal lebih nyaman di sana.”

“Terjamin dari apa? Kiamat?” Aku berdiri, mencoba menghindari perdebatan yang tak berujung. 

“Aku beres-beres dulu. Gak lama kok, setengah jam aja. Kamu kalo bosen nunggu bisa nonton tv.” Ia melihatku beridir dengan tatapan tak nyaman, lalu menghampiri tumpukan majalah dekat pintu tengah.

“Aku baca buku saja.” Tak lama. Ayah keluar dari kamar mandi di lantai satu, lalu menatapku pula dengan pandangan yang sama tak nyamannya. Aku menghela napas, bertanya-tanya mengapa semua orang berambisi untuk pergi ke Jakarta.

*****

Tidak semua orang memang, tapi kebanyakan berpikir begitu. Kecuali aku dan ibuku.
Ibuku, sebagaimana diberitakan dalam koran dan majalah-majalah sains setahun yang lalu, termasuk dalam daftar anggota hilang suatu ekspedisi ke afrika tengah. Semangatnya untuk mendokumentasikan bentuk-bentuk masyarakat, malah membuatnya tidak sadar bahwa ia berada di tengah-tengah perang. “Jangan lupa riset ya, Ram.” Begitu pesan terakhirnya yang terdengar menjengkelkan. Chat itu, masih belum kubuka sampai sekarang. Tapi, karena hanya satu pesan, setidaknya itulah keseluruhan isi pesannya.

Fathia dan Ibu sangat dekat. Pertama kali mereka bertemu di pasar, ketika Ibu dengan sangat terpaksa musti pergi membeli bahan masakan tapi tidak tahu menahu tentang apapun. Aku dan ayah sedang tidak berada di rumah, dan aku sendiri lupa ke mana hari itu. Maka datanglah wanita satu ini. Ia membantu ibu memlih beras, memperkenalkannya pada nama sayur-mayur, dan memberinya trik tawar-menawar. Meskipun masih belum bisa masak enak hingga akhir hayatnya, setidaknya kehadiran Fathia memberikan peningkatan.

Lalu ketika kabar itu datang, Fathia adalah sosok yang paling syok mendengarnya. Ia menangis hebat, di pojok ruangan, dalam pelukanku. Melihatnya menangis terlalu keras, membuatku tidak nyaman hingga tak bisa banyak meneteskan air mata. Ayah hanya bisa duduk terdiam, di hadapan seorang utusan kantor riset. Kabarnya, ia teman ibu. “Kami sudah berusaha sekuat tenaga mencarinya, pak.” Lelaki itu memohon maaf. “Tapi memang Bu Risna gak ditemukan. Kalau ada kabar, akan segera kami beritahu.”

Kematian ibu adalah suatu anomali kampung kami. “Ram, lucu ya.” Ayah memanggilku. “Baru kali ini kita ngadain tahlilan gak pake pemakaman.” Ia masih sempat bercanda di tengah-tengah situasi yang ramai dengan kesedihan. Keluarga besar ibu datang ke rumah kami dan memenuhi dapur dengan berbagai bahan masakan. Kerabat ayah tak banyak, lalu datang sekali lalu pergi setelah sehari dua hari di rumah. Tetangga-tetangga kamilah yang kemudian membantu kami selama tujuh hari.

“Ram, aku rindu Ibumu.” Fathia keluar dari kamarku, menggenggam foto keluarga dengan erat di dadanya. Aku mengelus kepalanya, lalu masuk kamar. Aku juga. Kubiarkan ia duduk di atas, menghadap pada pemandangan ramai, lalu kutinggalkan turun ke bawah. Tamu-tamu bertumpuk. Aku menyalami beberapa yang kukenal maupun tidak, lalu sibuk keluar. Ketika itu, ada juga beberapa temanku yang datang dari jauh. Aku menemui mereka di tempat lain.

*****

Tapi kini ia hendak pergi juga, ke Jakarta yang ia impi-impikan.

Dahulu ibuku juga begitu. Ia terobsesi untuk pergi ke tempat-tempat yang jauh untuk meneliti. Meski tak banyak kesampaian, aku tetap heran mengapa ada orang yang rela menghabiskan banyak waktu di jalanan. “Kamu akan tahu sensasinya, Kak.” Begitu ujar Ibu pada suatu waktu. “Akan datang suatu keadaan di mana kamu harus menjalani petualanganmu sendiri.” Aku menggeleng. Perkataan ibu tak cukup untuk mempengaruhiku.

“Yang kau perlukan hanyalah menemukan teman yang tepat.” Ia tetap berusaha. Kenangan bahwa wajah dan tubuhnya memegang tanganku dengan erat pada pembicaraan itu membuatku merinding. Ada getaran-getaran tak asing, tapi cukup mengganggu. “Karena kamu laki-laki, kamu harus punya teman perempuan yang asik untuk dibawa, yang asik diajak berdiskusi sepanjang perjalanan, dan tidak mudah bosan, apalagi membosankan.”

“Ayah?” Aku bertanya balik, memperhatikan wajah Ibu yang keheranan.

“Ada apa dengan ayahmu?” Dan ia semakin mendekat.

“Apa ayah adalah teman perjalanan yang asik?” Ibu mendongakkan kepala, lalu menghela napas agak panjang. “Jujur aku kesulitan menjawab ini, Kak. Tapi kamu harus tahu, Ayah adalah orang yang paling tepat untuk Ibu.” Lalu ia berkisah tanpa diminta, tentang bagaimana mereka berkeliling dunia selama tiga tahun di awal pernikahan mereka. Pada suatu waktu, mereka harus berhenti dan tampaknya tak bisa melanjutkan perjalanan.

“Jadi itu ketika aku hendak lahir?” Ibu mengangguk. Wajahnya selalu penuh keraguan, seolah-olah banyak rahasia yang hendak dipendam. Rambutnya yang tergerai dirapikan kembali, duduknya yang nyaman diposisikan ulang, bahkan hingga teh pagi harinya yang masih panas pun diseruput. “Ayah pernah sedikit bercerita. Yah… tapi gak masalah sih. Cerita kayak gitu kan wajar-wajar aja, Bu.”

“Ibu tak ingin kau takut, Ram.” Ia menatapku lebih serius. Tangannya semakin erat menggenggam. “Ibu tahu kau tidak terlalu suka Ibu yang terlalu sering jalan-jalan: ke luar kota, ke luar negeri, ke pelabuhan, ke desa, atau semacamnya. Ibu tahu kau tak ingin seperti ibu yang terlalu ambisius: kau memang mirip Ayah, yang begitu tahu Ibu hamil, langsung mengajak pulang dan tak melanjutkan perjalanan. Tapi setidaknya, kau tahu ibu.”

Dalam hati, aku keheranan. Jelas aku tahu ibuku. “Ibu Cuma ingin meminta maaf, atas perjalanan yang tak pernah usai, atas petualangan yang tak kunjung berhenti.” Kata-katanya semakin mirip puisi. “Dan kalau kau sudah memaafkan Ibu, kau tak kan takut lagi memulai perjalananmu sendiri, petualangan Bersama orang yang kau pilih untuk menemanimu. Bukan, begitu?”

Aku hanya mengangguk. Kalau kau tahu posisiku, kau pasti tak merasa nyaman: ibu yang jarang kau temui, tiba-tiba datang dengan puisi dan tangis. Ya. Ibu menangis di hadapanku. Untung saja kondisi awkward itu tak bertahan lama. Ayah datang, lalu mengangkat pundak Ibu yang hampir menyentuh lantai. “Ayo, Ris. Balik ke kamar aja dulu.” Aku menyaksikan kepergian mereka, lalu menelepon Fathia. “Eh, ke rumah dong.”

*****

“Iya, nanti kalau ada waktu, bakal mampir.” Begitu janjiku, akhirnya. Aku berjalan di samping Fathia, yang terus memasang wajah khawatir. Dalam situasi seperti ini, yang paling aku takutkan adalah kata-kata yang tak bisa dikontrol. Dan itu akan sangat mempengaruhi keadaan. “Aku gak marah kok. Lagian, ngapain marah? Kan ini kehidupan yang kamu pengin. Kalau kamu seneng dengan kehidupan kayak gini, aku ikut seneng kok.”

Tuh, kan. Alay.

Suara-suara pesawat, penumpang, orang-orang yang dipisahkan, teriakan-teriakan, dan jalanan membantu perpisahan kami. Fathia bukan orang yang aku cintai sungguh-sungguh, aku tak pernah melakukannya. Tapi bagi Fathia, aku adalah lelakinya. Ia mudah menangis, dan kemungkinan kursinya akan penuh dengan air mata lalu ia kehabisan tisu wajah. Aku menghela napas, menyalakan hape, membuka aplikasi pemesanan ojek online, dan pulang.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir