Belajar Percaya Diri Bareng Imperfect (2019)
Alkisah, ada seorang lelaki muda. Ia baru saja lulus dari perguruan silat yang diasuh sendiri oleh kakeknya. Pada suatu hari, sang kakek memanggilnya, "Kau harus pergi ke Kota Selatan. Di sana ada perguruan tinggi milik kerajaan. Lampauilah ayahmu. Dengan begitu, kau bisa menaikkan derajat dan kualitas dirimu, begitu pula keluargamu serta perguruan ini." Sebenarnya ia punya impian lain, menuju kota lain, dengan imajinasi-imajinasi yang sepenuhnya berbeda. Tapi ini titah dari sang kakek, maka mau tak mau ia harus menurutinya.
Beberapa bulan kemudian, dengan persiapan yang -terasa- kurang dan seleksi yang cukup ketat, ia pun berhasil masuk perguruan tinggi itu dan bergabung dalam kelas-kelasnya. Hari pertama, ia tak merasakan apa-apa. Ia hanya capek dengan segala formalitas ala kerajaan yang membingungkan dan menjengkelkan. Kau tahu sendiri, orang-orang Kota, yang merasa paling beradab, penuh dengan tetek-bengek yang tak penting.
Di hari kedua, barulah ia merasakan perbedaan:
Orang-orang kaya di Kota tampan-tampan. Mereka menggunakan seragam yang bagus dan cemerlang. Warna putih yang mereka pancarkan melalui pakaian terlalu benderang. Celana-celana hitam yang mereka kenakan terlihat mengkilap. Rambut-rambut mereka disisir, hingga lurus seperti jerami basah menumpuk di tepi sungai. Tetiba saja, lelaki muda itu merasa berbeda, ia merasa tak percaya diri. Ia hanyalah seorang anak desa, dari pulau kecil yang terpisah dan mengenakan pakaian ala kadarnya. Semakin lama, ia semakin tertekan.
"Bagaimana ia dapat bertahan hidup di tempat seperti ini?"
Nama lelaki itu adalah Farid. Dan kisah itu adalah kisah saya sendiri.
*****
Kisah di atas, adalah sebuah cuplikan sederhana bagaimana seorang lelaki muda juga dapat merasa tak percaya diri. tentu saja dengan beberapa penyesuaian, agar terasa lebih dramatis. Berhasilkah? saya tak tahu.
Saya tidak perlu film Imperfect untuk merasa kembali percaya diri. Saya bukan orang yang terlalu peduli pada penampilan, meskipun beberapa teman dekat menyarankan saya untuk merubah penampilan agar terlihat lebih rapi. Terkadang, saya juga merasa senang ketikan ada teman-teman (elit) yang memuji saya tampan, atau setidaknya tampil lebih rapi. Tapi, tak lama kemudian, saya benar-benar tak peduli. Dalam hati, "Saya adalah saya. Saya tak perlu menjadi ganteng seperti keinginan anda."
Kisah yang sama, terjadi pula pada Rara (Mbak Cantik Jessica Milla), seorang wanita kantoran yang sejak kecil dilahirkan tidak sesuai dengan persepsi cantik sosial: gendut, rambut panjang keriting, dan kulit hitam sawo matang. Kondisi seperti itu tidak banyak mendapat banyak perhatian: ia malah dapat sindiran dan nasihat-nasihat kesehatan. "Jangan makan coklat, pahamu lho, Dek." Begitu kata ibunya (Karina Suwandi) yang mantan model pada suatu hari. Di lain hari, objek itu berubah, "Jangan banyak-banyak nasinya, udah segede itu, lho." Terus begitu hingga
Kerisauan itu tak hanya terjadi di lingkup keluarga, tapi juga dalam karirnya sebagai tim riset sebuah perusahaan pengembang perumahan. Orang-orang kantor memaksanya berubah, kecuali teman karibnya yang memilih tampil ala metal. Ia juga didukung sang pacar, Dika (Reza Rahadian) yang di sisi lain juga berusaha bertahan hidup di tengah-tengah kebutuhan ekonomi yang menghimpit. Oleh karena itulah, nama panjang film ini, disebut: Karir, Cinta, dan Timbangan. Problem tubuh ini bukan saja masalah sosial, tapi juga tentang dinamika asmara, dan pergulatan karir yang tak biasa.
Saya tak mau banyak bercerita. Itu adalah sebagian besar dasarnya saja. Maafkan saya karena masih merasa senang
Bintang Empat
Sekedar info saja: teman saya menangis sejak pertengahan film dan saya tak menyadarinya. Saya tak suka orang menangis, karena itu menandakan sifat cengeng dan kelemahan. Ketika melihat orang menangis, saya hanya bisa menyimpan rasa jengkel dan menahan diri untuk tidak memukul. Oleh karena itulah, saya tak bisa ramai di dalam studio. Melihat teman sendiri menangis -dan ia perempuan, saya berusaha menenangkannya. Mungkin terlarang, tapi saya mengusap pundaknya. "Sudah, sudah. Itu udah ketawa kok si Rara."
Pembangunan kisah dan karakter yang begitu kuat adalah salah satu ciri film Ernest. Saya tak tahu buku istrinya, Ci Meira, yang menjadi dasar film ini, tapi saya yakin itu salah satu buku yang bagus. Setiap karakter memiliki latar belakang yang kompleks lalu diterpa arus problem yang sesuai: Rara berubah menjadi lebih cantik, Dika merasa kekasihnya tak lagi sama, dan orang-orang di sekitar mereka berdinamika. Bahkan bagi George (Boy William), selebgram banyak gaya, konstruksi latar belakang itu sangat kompleks.
Ingin menemukan komedi ala stand-up comedy? Film ini tidak hanya menghadirkan komik-komik papan atas saat ini, seperti Uus, Ardhit Erwanda, Neneng, Aci Resti, Kiki, dan lain-lainnya, tapi juga komedi khas mereka. "Halo, ini beneran nomor sedot WC? Sini dong, temen gue kayak tai semua." Lalu Uus meragakan gerakan khas silat, "Apa tuh, Bos?" Lalu ia menjawab, "Tai chi."
Hanya saja, yang mungkin adalah kesalahan saya pribadi, tapi memang Imperfect terasa cepat di awal. Masa kanak-kanak Rara yang kemudian diikuti kelahiran Lulu (Yasmin Napper) yang cantik nan rupawan
Akhirnya, selamat menikmati.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?